Oleh Eko Hartono
Siang itu Niko duduk melamun di sudut bangunan sekolah. Deni yang melihatnya jadi heran. Dia segera mendekat.
“Kamu kenapa, Nik? Kok tampang kamu kusut begitu?” tanyanya.
“Aku tidak apa-apa, Den.”
“Kalau tidak apa-apa, kenapa wajah kamu tampak muram? Kamu tak perlu malu mengungkapkan permasalahanmu, Nik. Siapa tahu aku bisa membantu?”
Niko terdiam. Tampaknya dia agak berat untuk berterus terang.
“Ayolah, jangan sungkan. Katakan saja…”
Niko akhirnya mau bercerita. Dia diancam oleh Andre karena telah menjadi saksi perbuatan anak itu. Selama ini Andre kerap berbuat nakal, mengambil uang atau makanan di kantin. Andre akan menghajar Niko jika sampai perbuatannya dibocorkan. Itulah kenapa Niko jadi gelisah dan murung. Dia merasa takut oleh ancaman Andre.
“Kenapa kamu harus takut, Nik? Kalau kamu benar, kamu tidak boleh takut. Perbuatan Andre harus dilaporkan pada guru. Agar dia mendapatkan hukuman dan tidak mengulangi perbuatannya!” ujar Deni.
“Tapi kita tidak punya bukti atas perbuatannya. Kalau cuma aku yang melapor nanti dikira fitnah!” tukas Niko.
Deni diam tercenung. Apa yang dikatakan Niko benar. Menuduh orang berbuat kesalahan tanpa bukti bisa dianggap fitnah. Tiba-tiba Deni menemukan sebuah ide. Dia lalu membisikan ide itu pada Niko. Wajah Niko berseri-seri, tapi sejurus kemudian berubah ragu.
“Kamu yakin rencana kamu bisa berhasil?”
“Kita coba saja!”
Siang itu, suasana di kantin sekolah tampak sepi. Bu Kantin, sebutan pemilik kantin, sedang mencuci mangkok dan gelas. Tiba-tiba masuk seorang anak laki-laki bertubuh kurus. Dialah Andre. Anak itu langsung duduk di bangku.
“Bu Kantin, bikinin es jus!” pinta Andre.
“Pakai gelas atau plastik, Nak?” tanya Bu Kantin.
“Pakai plastik saja, Bu.”
Bu Kantin menuju ke meja tempat meracik es jus. Saat Bu Kantin sedang membuatkan es jus, Andre mengambil beberapa panganan di atas meja dan memasukkan ke dalam saku celana. Perbuatannya itu tidak diketahui oleh Bu Kantin. Tapi ada sebuah kamera pengintai dipasang di sudut atas ruang kantin yang merekam perbuatannya.
Ketika Bu Kantin sudah selesai membuatkan es jus dan diberikan kepada Andre, anak itu segera membayar dan bergegas pergi. Tapi di depan pintu dia dicegat oleh Deni dan dua orang temannya. Pak Guru juga bersama mereka.
“Hayo, ketahuan sekarang! Kamu habis mencuri ya!” seru mereka.
“Mencuri apa? Aku nggak mencuri! Apa buktinya?” ujar Andre mengelak dan menantang.
Deni lalu mengambil handycam milik sekolah yang dipasang secara tersembunyi di sudut atas ruang kantin. Mulanya Pak Guru keberatan Deni meminjam handycam itu. Tapi setelah dijelaskan maksudnya, Pak Guru tak keberatan. Deni dan teman-temannya kemudian merancang skenario untuk menjebak Andre.
Ketika Andre diperlihatkan rekaman dari handycam yang telah merekam perbuatannya tadi, anak itu tak bisa mungkir lagi. Dia menundukkan kepalanya seraya mengakui perbuatannya.
“Maafkan saya, Pak. Saya menyesal. Saya mencuri karena tidak punya uang untuk jajan. Orang tua saya miskin,” ucap Andre sambil menangis.
“Yang namanya mencuri, apa pun alasannya adalah berdosa. Kamu tidak boleh mengulanginya lagi!” ujar Pak Guru.
“Iya, Pak. Saya berjanji, tidak akan mengulanginya!”
“Bagus! Kejadian ini bisa menjadi pelajaran buat siapa saja. Yang namanya perbuatan jahat serapi apa pun menyembunyikannya, pasti akan ketahuan juga. Allah Maha Mengetahui semua perbuatan umat-Nya, sekalipun di tempat gelap dan tersembunyi. Bahkan yang terbetik dalam hati manusia. Jika perbuatan Andre bisa direkam oleh kamera, itu karena Allah telah menggerakkan hati Deni dan teman-temannya menggunakan benda canggih ini untuk hal yang benar. Jadi handycam ini adalah sarana bagi manusia untuk berbuat suatu kebaikan. Kalian mengerti?” tutur Pak Guru panjang lebar.
Anak-anak mengangguk paham.
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
15 Maret 2011
Gara-gara Hape
Oleh Eko Hartono
Nanang senang bukan main ketika dibelikan sebuah hape baru oleh orang tuanya. Meski hanya seken dan belum ada kameranya, tapi memiliki fitur game dan bisa untuk mendengarkan radio FM. Ke mana pun pergi hape itu selalu dibawa, bahkan ke sekolah.
Maksud orang tuanya membelikan hape supaya Nanang rajin belajar dan bisa menunjang kegiatannya di sekolah. Selain itu juga memudahkan untuk berkomunikasi jika sedang berjauhan. Nanang sendiri berjanji akan lebih tekun belajar. Dia tidak akan melalaikan tugas-tugasnya di rumah.
Namun janji tinggal janji. Sejak memiliki hape Nanang malah jadi malas dan suntuk bermain hape. Tiap hari kerjanya cuma main game dan sms-an dengan teman-temannya. Bisa berjam-jam dia ngendon di kamar atau duduk di beranda memegang hape. Dia begitu asyik dengan hape barunya.
Ibunya sampai dibuat kesal karena Nanang tak pernah mau lagi membantu pekerjaan di rumah.
“Ya, ampun, Nang. Tiap hari mainan hape terus. Kapan kamu mau membantu ibu?” keluh sang Ibu.
“Ah, Ibu. Nanang kan lagi membalas sms dari teman. Kalau nanti tidak dibalas dikira Nanang tidak setia kawan,” jawab Nanang berdalih.
“Ya, tapi kalau sms-an sampai berjam-jam apa tidak membuang waktu percuma. Kalau semua teman kamu mengirim sms dan mesti dijawab semua, itu sama saja pemborosan.”
“Tapi mau bagaimana lagi, Bu. Namanya juga teman. Katanya kita mesti jadi anak gaul biar tidak terkucil…”
“Iya, tapi sms itu seperlunya dan yang penting-penting saja. Kalau semua hal diomongin lewat sms, apalagi cuma untuk ngobrol yang tak perlu, itu sama halnya buang-buang pulsa dan waktu percuma. Ada hal lain yang lebih penting dikerjakan selain ngobrol lewat sms. Bahkan sms itu bisa merugikan lo!”
Nanang tak begitu menggubris nasehat ibunya. Baginya, ber-sms-an dengan teman-teman mengasyikkan.
Suatu hari Nanang mendapat sms dari Adi. Temannya itu bilang kalau Ifan dan Dani sedang musuhan. Mereka kemarin berantem di lapangan. Nanang sebenarnya tak percaya dengan kabar itu, karena dia tahu Ifan dan Dani bersahabat karib. Karena penasaran, Nanang lalu ganti sms Santoso.
Esok harinya ketika Nanang tiba di sekolah dia dicegat oleh Dani. Tanpa ada badai tanpa ada topan, tiba-tiba Dani marah-marah dan menuduhnya berbuat fitnah. Nanang telah menyebar berita lewat sms bahwa dirinya berantem dengan Ifan. Tentu saja Nanang membantah. Dia justru tahu kabar itu dari Adi. Untuk membuktikannya Nanang lalu mengajak Dani menemui Adi.
Tapi ketika bertemu Adi, anak itu berkelit kalau dirinya penyebar fitnah. Dia tahu kabar itu dari teman lain. Begitulah, semua saling melempar tanggung jawab. Tak ada yang mau mengaku siapa pertama kali mencetuskan isu kalau Dani dan Ifan berantem. Dani dan Ifan merasa dirugikan oleh kabar yang beredar lewat sms. Karena kabar itu telah sampai pada orang tua mereka.
Pak guru yang mendengar keributan di dalam kelas enam itu segera mendekat. Beliau menanyakan, apa yang terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari anak-anak, barulah beliau mengerti. Beliau pun mengungkapkan keprihatinan dan kekecewaannya.
“Makanya, anak-anak. Berhati-hati dalam menyampaikan suatu berita. Bapak bukannya tidak suka kalian memiliki hape, tapi hape itu cuma sekadar sarana dan alat. Janganlah kalian gunakan sarana dan alat komunikasi itu untuk hal-hal yang tidak baik. Kalian boleh saja ber-sms, tapi ber-smslah yang baik, santun, dan tidak merugikan orang lain. Jangan menyampaikan berita yang belum ada buktinya. Itu sama halnya berbuat fitnah. Ingatlah, yang namanya fitnah itu dosa. Fitnah bisa merusak jalinan persaudaraan dan persahabatan. Kalian mengerti, kan?” tutur Pak Guru panjang lebar.
Anak-anak mengangguk, mengerti.
“Baiklah. Biar kalian tidak membuang waktu percuma dengan ber-sms-an, bagaimana kalau setiap tiga kali seminggu kalian mengikuti ekstra kurikuler. Kalian berkumpul untuk mengadakan kegiatan yang bermanfaat seperti pramuka, latihan drama, tari, menulis puisi, dan lain sebagainya. Dengan sering berkumpul dan bertatap muka kalian jadi lebih tahu keadaan masing-masing. Bagaimana?”
Saran dari Pak Guru itu diterima oleh anak-anak. Mereka mengangguk setuju. Nanang kini paham, kenapa ibunya mengatakan bahwa ber-sms bisa merugikan. Hal itu terjadi jika kita menggunakan hape untuk tujuan yang tidak baik atau untuk bermalas-malasan!
Nanang senang bukan main ketika dibelikan sebuah hape baru oleh orang tuanya. Meski hanya seken dan belum ada kameranya, tapi memiliki fitur game dan bisa untuk mendengarkan radio FM. Ke mana pun pergi hape itu selalu dibawa, bahkan ke sekolah.
Maksud orang tuanya membelikan hape supaya Nanang rajin belajar dan bisa menunjang kegiatannya di sekolah. Selain itu juga memudahkan untuk berkomunikasi jika sedang berjauhan. Nanang sendiri berjanji akan lebih tekun belajar. Dia tidak akan melalaikan tugas-tugasnya di rumah.
Namun janji tinggal janji. Sejak memiliki hape Nanang malah jadi malas dan suntuk bermain hape. Tiap hari kerjanya cuma main game dan sms-an dengan teman-temannya. Bisa berjam-jam dia ngendon di kamar atau duduk di beranda memegang hape. Dia begitu asyik dengan hape barunya.
Ibunya sampai dibuat kesal karena Nanang tak pernah mau lagi membantu pekerjaan di rumah.
“Ya, ampun, Nang. Tiap hari mainan hape terus. Kapan kamu mau membantu ibu?” keluh sang Ibu.
“Ah, Ibu. Nanang kan lagi membalas sms dari teman. Kalau nanti tidak dibalas dikira Nanang tidak setia kawan,” jawab Nanang berdalih.
“Ya, tapi kalau sms-an sampai berjam-jam apa tidak membuang waktu percuma. Kalau semua teman kamu mengirim sms dan mesti dijawab semua, itu sama saja pemborosan.”
“Tapi mau bagaimana lagi, Bu. Namanya juga teman. Katanya kita mesti jadi anak gaul biar tidak terkucil…”
“Iya, tapi sms itu seperlunya dan yang penting-penting saja. Kalau semua hal diomongin lewat sms, apalagi cuma untuk ngobrol yang tak perlu, itu sama halnya buang-buang pulsa dan waktu percuma. Ada hal lain yang lebih penting dikerjakan selain ngobrol lewat sms. Bahkan sms itu bisa merugikan lo!”
Nanang tak begitu menggubris nasehat ibunya. Baginya, ber-sms-an dengan teman-teman mengasyikkan.
Suatu hari Nanang mendapat sms dari Adi. Temannya itu bilang kalau Ifan dan Dani sedang musuhan. Mereka kemarin berantem di lapangan. Nanang sebenarnya tak percaya dengan kabar itu, karena dia tahu Ifan dan Dani bersahabat karib. Karena penasaran, Nanang lalu ganti sms Santoso.
Esok harinya ketika Nanang tiba di sekolah dia dicegat oleh Dani. Tanpa ada badai tanpa ada topan, tiba-tiba Dani marah-marah dan menuduhnya berbuat fitnah. Nanang telah menyebar berita lewat sms bahwa dirinya berantem dengan Ifan. Tentu saja Nanang membantah. Dia justru tahu kabar itu dari Adi. Untuk membuktikannya Nanang lalu mengajak Dani menemui Adi.
Tapi ketika bertemu Adi, anak itu berkelit kalau dirinya penyebar fitnah. Dia tahu kabar itu dari teman lain. Begitulah, semua saling melempar tanggung jawab. Tak ada yang mau mengaku siapa pertama kali mencetuskan isu kalau Dani dan Ifan berantem. Dani dan Ifan merasa dirugikan oleh kabar yang beredar lewat sms. Karena kabar itu telah sampai pada orang tua mereka.
Pak guru yang mendengar keributan di dalam kelas enam itu segera mendekat. Beliau menanyakan, apa yang terjadi. Setelah mendapat penjelasan dari anak-anak, barulah beliau mengerti. Beliau pun mengungkapkan keprihatinan dan kekecewaannya.
“Makanya, anak-anak. Berhati-hati dalam menyampaikan suatu berita. Bapak bukannya tidak suka kalian memiliki hape, tapi hape itu cuma sekadar sarana dan alat. Janganlah kalian gunakan sarana dan alat komunikasi itu untuk hal-hal yang tidak baik. Kalian boleh saja ber-sms, tapi ber-smslah yang baik, santun, dan tidak merugikan orang lain. Jangan menyampaikan berita yang belum ada buktinya. Itu sama halnya berbuat fitnah. Ingatlah, yang namanya fitnah itu dosa. Fitnah bisa merusak jalinan persaudaraan dan persahabatan. Kalian mengerti, kan?” tutur Pak Guru panjang lebar.
Anak-anak mengangguk, mengerti.
“Baiklah. Biar kalian tidak membuang waktu percuma dengan ber-sms-an, bagaimana kalau setiap tiga kali seminggu kalian mengikuti ekstra kurikuler. Kalian berkumpul untuk mengadakan kegiatan yang bermanfaat seperti pramuka, latihan drama, tari, menulis puisi, dan lain sebagainya. Dengan sering berkumpul dan bertatap muka kalian jadi lebih tahu keadaan masing-masing. Bagaimana?”
Saran dari Pak Guru itu diterima oleh anak-anak. Mereka mengangguk setuju. Nanang kini paham, kenapa ibunya mengatakan bahwa ber-sms bisa merugikan. Hal itu terjadi jika kita menggunakan hape untuk tujuan yang tidak baik atau untuk bermalas-malasan!
12 Mei 2009
Dimusuhi Teman-teman
Cerita Anak ini dimuat Harian Sore Wawasan, 3 Agustus 2008
Oleh Eko Hartono
Hari itu wajah Gata tampak muram. Pulang sekolah dia tidak langsung pergi bermain, tapi malah mengurung diri di kamar. Padahal biasanya anak itu langsung ngeblas pergi begitu usai makan siang. Melihat perubahan ini hati mamanya agak senang juga. Beliau memang menginginkan putranya beristirahat sejenak setelah capek belajar di sekolah.
Tapi perubahan perilaku Gata ini menimbulkan tanda tanya dalam hati beliau. Pasalnya, sikap Gata tidak biasanya. Mama lalu mencoba mengetahui apa yang terjadi pada putranya. Ketika ditengok di kamarnya, Gata tampak sedang berbaring sambil melamun.
“Gata, apa yang kamu pikirkan?” tegur Mama mengagetkan Gata.
“Ah, enggak, Ma. Gata tidak memikirkan apa-apa,” jawab Gata sambil bangkit dan duduk di tepi ranjang. Mama duduk di sampingnya.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu mengurung diri di kamar? Tidak biasanya kamu berlaku seperti ini. Biasanya kamu sudah ngelayap ke mana-mana sepulang sekolah,” cetus Mama.
Gata terdiam. Menundukkan kepala dalam.
“Kayaknya kamu ada masalah? Coba bilang sama Mama, siapa tahu mama bisa membantu?”
Gata masih terdiam. Tapi sejurus kemudian dia menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara lirih. “Gata dimusuhi teman-teman, Ma…”
“Dimusuhi teman-teman? Memangnya apa yang telah kamu lakukan?”
“Gata tidak melakukan apa-apa, Ma. Tapi tidak tahu, kenapa tiba-tiba mereka menjauhi Gata. Mereka tidak mau bermain lagi dengan Gata…”
“Mereka tentu punya alasan sampai memusuhi dan menjauhi kamu. Mereka pasti pernah dirugikan atau tersinggung oleh perbuatan kamu?”
“Sungguh, Ma. Gata tidak melakukan apa-apa. Justru Gata yang merasa dirugikan mereka. Soalnya mereka telah merusakkan barang mainan Gata.”
“O, jadi mereka merusakkan barang mainanmu. Apakah mereka sudah minta maaf?”
“Sudah, tapi Gata sempat kesel, Ma. Gata lalu marah-marah sama mereka….!”
“Jadi kamu marah-marah, lalu mereka tak mau lagi berteman denganmu?”
Gata mengangguk.
“Itulah kesalahanmu.”
“Kok salah Gata sih, Ma. Kan mereka dulu yang salah. Kenapa Gata ikut disalahkan?” protes anak laki-laki kelas tiga SD itu.
“Ya. Kalau mereka sudah minta maaf, kamu semestinya bisa menerima permintaan maaf mereka. Kamu tak perlu marah-marah. Kamu cukup menasehati mereka agar tidak mengulangi hal sama…”
“Tapi Gata kesal, Ma. Barang mainan Gata rusak.”
“Barang mainan yang rusak masih bisa diganti, Gata. Tapi kalau persahabatan rusak, apakah bisa diganti? Coba Gata rasakan, enak mana punya mainan tapi tidak punya teman dengan punya banyak teman meskipun tidak punya mainan?”
Gata terdiam sebentar. Merenungkan kata-kata mamanya. Apa yang dikatakan Mama memang benar. Tidak punya teman itu tidak enak. Buktinya, sekarang ini dia tidak bisa bermain dengan teman-temannya. Dia merasa sedih dan kesepian karena hanya bisa bermain sendirian.
“Enakan punya teman, Ma…,” ucap Gata lirih.
“Kalau begitu datangilah teman-temanmu. Mintalah maaf sama mereka.”
“Tapi, Ma…?”
“Percaya sama Mama. Mereka pasti akan menerimamu kembali dan kalian bisa berteman lagi seperti dulu!” tegas Mama.
Gata mengangguk.
Esok harinya Gata menemui teman-temannya di sekolah. Dia mengutarakan permintaan maaf atas sikapnya kemarin yang marah-marah sama mereka. Doni, Irfan, dan Wahyu dengan senang hati menerima permintaan maaf Gata. Mereka juga minta maaf. Mereka lalu bersalaman. Wajah mereka kembali ceria. Doni berkata kepada Gata mewakili temannya.
“Kami akan mengganti barang mainanmu yang rusak, Gat. Kami sudah iuran uang!”
“Tidak usah, teman-teman. Soalnya aku sudah dibelikan yang baru oleh Mama,” tukas Gata.
“Oh ya? Kamu punya yang baru? Boleh kami pinjam?” ujar Irfan.
“Boleh, tapi hati-hati jangan sampai rusak lagi,” kata Gata.
“Oke! Kami janji akan berhati-hati!” sahut teman-temannya serempak.
Mereka tertawa gembira. Mereka kembali bermain bersama. Betapa indahnya persahabatan!
Tirtomoyo, 4 Juli 20008
Oleh Eko Hartono
Hari itu wajah Gata tampak muram. Pulang sekolah dia tidak langsung pergi bermain, tapi malah mengurung diri di kamar. Padahal biasanya anak itu langsung ngeblas pergi begitu usai makan siang. Melihat perubahan ini hati mamanya agak senang juga. Beliau memang menginginkan putranya beristirahat sejenak setelah capek belajar di sekolah.
Tapi perubahan perilaku Gata ini menimbulkan tanda tanya dalam hati beliau. Pasalnya, sikap Gata tidak biasanya. Mama lalu mencoba mengetahui apa yang terjadi pada putranya. Ketika ditengok di kamarnya, Gata tampak sedang berbaring sambil melamun.
“Gata, apa yang kamu pikirkan?” tegur Mama mengagetkan Gata.
“Ah, enggak, Ma. Gata tidak memikirkan apa-apa,” jawab Gata sambil bangkit dan duduk di tepi ranjang. Mama duduk di sampingnya.
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu mengurung diri di kamar? Tidak biasanya kamu berlaku seperti ini. Biasanya kamu sudah ngelayap ke mana-mana sepulang sekolah,” cetus Mama.
Gata terdiam. Menundukkan kepala dalam.
“Kayaknya kamu ada masalah? Coba bilang sama Mama, siapa tahu mama bisa membantu?”
Gata masih terdiam. Tapi sejurus kemudian dia menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara lirih. “Gata dimusuhi teman-teman, Ma…”
“Dimusuhi teman-teman? Memangnya apa yang telah kamu lakukan?”
“Gata tidak melakukan apa-apa, Ma. Tapi tidak tahu, kenapa tiba-tiba mereka menjauhi Gata. Mereka tidak mau bermain lagi dengan Gata…”
“Mereka tentu punya alasan sampai memusuhi dan menjauhi kamu. Mereka pasti pernah dirugikan atau tersinggung oleh perbuatan kamu?”
“Sungguh, Ma. Gata tidak melakukan apa-apa. Justru Gata yang merasa dirugikan mereka. Soalnya mereka telah merusakkan barang mainan Gata.”
“O, jadi mereka merusakkan barang mainanmu. Apakah mereka sudah minta maaf?”
“Sudah, tapi Gata sempat kesel, Ma. Gata lalu marah-marah sama mereka….!”
“Jadi kamu marah-marah, lalu mereka tak mau lagi berteman denganmu?”
Gata mengangguk.
“Itulah kesalahanmu.”
“Kok salah Gata sih, Ma. Kan mereka dulu yang salah. Kenapa Gata ikut disalahkan?” protes anak laki-laki kelas tiga SD itu.
“Ya. Kalau mereka sudah minta maaf, kamu semestinya bisa menerima permintaan maaf mereka. Kamu tak perlu marah-marah. Kamu cukup menasehati mereka agar tidak mengulangi hal sama…”
“Tapi Gata kesal, Ma. Barang mainan Gata rusak.”
“Barang mainan yang rusak masih bisa diganti, Gata. Tapi kalau persahabatan rusak, apakah bisa diganti? Coba Gata rasakan, enak mana punya mainan tapi tidak punya teman dengan punya banyak teman meskipun tidak punya mainan?”
Gata terdiam sebentar. Merenungkan kata-kata mamanya. Apa yang dikatakan Mama memang benar. Tidak punya teman itu tidak enak. Buktinya, sekarang ini dia tidak bisa bermain dengan teman-temannya. Dia merasa sedih dan kesepian karena hanya bisa bermain sendirian.
“Enakan punya teman, Ma…,” ucap Gata lirih.
“Kalau begitu datangilah teman-temanmu. Mintalah maaf sama mereka.”
“Tapi, Ma…?”
“Percaya sama Mama. Mereka pasti akan menerimamu kembali dan kalian bisa berteman lagi seperti dulu!” tegas Mama.
Gata mengangguk.
Esok harinya Gata menemui teman-temannya di sekolah. Dia mengutarakan permintaan maaf atas sikapnya kemarin yang marah-marah sama mereka. Doni, Irfan, dan Wahyu dengan senang hati menerima permintaan maaf Gata. Mereka juga minta maaf. Mereka lalu bersalaman. Wajah mereka kembali ceria. Doni berkata kepada Gata mewakili temannya.
“Kami akan mengganti barang mainanmu yang rusak, Gat. Kami sudah iuran uang!”
“Tidak usah, teman-teman. Soalnya aku sudah dibelikan yang baru oleh Mama,” tukas Gata.
“Oh ya? Kamu punya yang baru? Boleh kami pinjam?” ujar Irfan.
“Boleh, tapi hati-hati jangan sampai rusak lagi,” kata Gata.
“Oke! Kami janji akan berhati-hati!” sahut teman-temannya serempak.
Mereka tertawa gembira. Mereka kembali bermain bersama. Betapa indahnya persahabatan!
Tirtomoyo, 4 Juli 20008
Bertukar Tempat
Cerita Anak ini diimuat di majalah Bobo No.51/XXXVI, 26 Maret 2009
Oleh Eko Hartono
Dina dan Dini adalah saudara kembar. Wajah mereka sangat mirip. Model rambut mereka juga sama. Apalagi mereka sering memakai pakaian yang sama. Walaupun begitu, sifat mereka agak berbeda. Dina agak pemalu dan pendiam. Ia pintar di kelas. Sementara Dini lincah dan banyak bicara. Di kelas prestasinya sedang-sedang saja.
Dini dan Dina bersekolah di tempat yang berbeda. Mama papa mereka ingin mereka memiliki pengalaman dan teman yang berbeda. Mereka juga tak ingin guru dan teman-teman di sekolah bingung membedakan Dina dan Dini.
Suatu malam ketika sedang belajar di kamar, tiba-tiba Dini berkata pada Dina. “Eh, Na. Besok kita tukaran tempat yuk!”
“Tukaran tempat bagaimana maksudmu?” tanya Dina tak mengerti.
“Kamu nanti masuk ke sekolahku dan aku masuk sekolahmu. Kita tukaran seragam dan tas sekolah. Aku yakin orang-orang tidak akan tahu. Aku ingin merasakan bagaimana suasana belajar di sekolahmu.”
“Ah, takut ketahuan, Ni! Lagi pula aku tidak kenal teman-temanmu dan guru-gurumu,” kata Dina panik.
“Tenang saja! Nanti aku kasih tahu, siapa nama teman-temanku di kelas dan siapa guru-guruku. Kamu tenang saja. Pokoknya, pasti asyik, deh!”
Karena terus dibujuk saudaranya, akhirnya Dina setuju.
Pagi itu, Dini dan Dina buru-buru berangkat ke sekolah. Mereka tak mau rencana mereka ketahuan Mama. Sesuai rencana yang telah disepakati, Dina berangkat ke sekolah Dini. Dan begitu sebaliknya.
Ketika memasuki ruang kelas, Dina berpapasan dengan teman-teman Dini. Mereka menyapanya. Dina membalas sapaan mereka. Tidak ada seorang pun yang curiga. Ternyata teman-teman Dini berhasil dikecohnya. Dina duduk di bangku yang biasa diduduki Dini.
“Ni, kamu sudah bikin PR, belum?” Tiba-tiba seorang anak perempuan yang memakai pita merah bertanya. Dia pasti Riana, batin Dina.
“PR apa?” tanya Dina, karena ia memang tidak tahu. Dini tidak memberitahu kalau ada PR.
“PR Matematika. Masak lupa?”
“Oh ya.” Dina buru-buru membuka tas dan memeriksa buku PR matematika Dini. Ternyata Dini belum mengerjakan PR.
Huh, Dini rupanya ingin mengerjai aku. Dia minta aku menggantikan tempatnya, karena dia belum mengerjakan PR. Untung Riana mengingatkannya. Dina mulai jengkel pada Dini.
Terpaksa Dina mengerjakan PR Dini. Ketika bel tanda masuk berbunyi, PR matematika itu sudah selesai dikerjakannya. Dina berharap, tidak ada lagi kejadian yang bikin hatinya kesal. Dia juga berharap jam sekolah segera berakhir. Ia ingin buru-buru marah pada Dini.
Akan tetapi, harapannya tidak terkabul. Pada jam pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba Dina diminta maju ke depan oleh Pak Guru. Dengan agak gugup dan bingung Dina melangkah ke muka kelas. Dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Kemarin kan, kamu tidak membuat PR Bahasa Indonesia. Dan sebagai hukuman, Bapak kemarin memberimu tugas membuat puisi. Apa sudah kamu bikin? Sekarang, ayo bacakan puisi karya kamu itu!” ujar Pak Guru tegas.
Ya, ampun! Kok jadinya begini, gerutu Dina dalam hati.
Tiba-tiba Dina sadar, kalau Dini sebenarnya sedang mengerjai dirinya. Dini sengaja mengajak bertukar tempat karena dia malas dan tidak mau mengerjakan tugasnya. Untunglah Dina suka menulis puisi. Dengan mudah ia menciptakan puisi dadakan.
Pulang dari sekolah, Dina tak bisa menahan diri lagi. Ia langsung marah-marah pada Dini. Juga melaporkan perbuatan Dini kepada Mama.
Mama akhirnya menegur Dini. Walaupun begitu, Dina juga kena teguran.
“Lo, Mama, kok, marah sama Dina juga? Dina kan sudah jadi korban perbuatan Dini,” kata Dina membela diri.
“Kamu juga salah! Kalau kamu tidak menerima ajakan Dini, tentu kejadian ini tak akan terjadi. Kalian telah bekerja sama melakukan kebohongan. Ingat, berbohong itu bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga diri sendiri. Orang yang suka berbohong tidak akan dipercaya orang lain!” tegas Mama.
“Maafkan Dina, Ma. Dina janji tidak akan mau diajak berbohong lagi!”
“Dan kamu Dini. Kalau ada kesulitan atau masalah, jangan dipendam sendiri. Apalagi dibebankan pada orang lain. Itu namanya tidak bertanggung jawab. Lebih baik berterus terang dan tak perlu malu untuk meminta tolong. Mengerti?” ujar Mama kepada Dini.
Dini mengangguk. Ia merasa bersalah dan menyesal. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi! (*)
Oleh Eko Hartono
Dina dan Dini adalah saudara kembar. Wajah mereka sangat mirip. Model rambut mereka juga sama. Apalagi mereka sering memakai pakaian yang sama. Walaupun begitu, sifat mereka agak berbeda. Dina agak pemalu dan pendiam. Ia pintar di kelas. Sementara Dini lincah dan banyak bicara. Di kelas prestasinya sedang-sedang saja.
Dini dan Dina bersekolah di tempat yang berbeda. Mama papa mereka ingin mereka memiliki pengalaman dan teman yang berbeda. Mereka juga tak ingin guru dan teman-teman di sekolah bingung membedakan Dina dan Dini.
Suatu malam ketika sedang belajar di kamar, tiba-tiba Dini berkata pada Dina. “Eh, Na. Besok kita tukaran tempat yuk!”
“Tukaran tempat bagaimana maksudmu?” tanya Dina tak mengerti.
“Kamu nanti masuk ke sekolahku dan aku masuk sekolahmu. Kita tukaran seragam dan tas sekolah. Aku yakin orang-orang tidak akan tahu. Aku ingin merasakan bagaimana suasana belajar di sekolahmu.”
“Ah, takut ketahuan, Ni! Lagi pula aku tidak kenal teman-temanmu dan guru-gurumu,” kata Dina panik.
“Tenang saja! Nanti aku kasih tahu, siapa nama teman-temanku di kelas dan siapa guru-guruku. Kamu tenang saja. Pokoknya, pasti asyik, deh!”
Karena terus dibujuk saudaranya, akhirnya Dina setuju.
Pagi itu, Dini dan Dina buru-buru berangkat ke sekolah. Mereka tak mau rencana mereka ketahuan Mama. Sesuai rencana yang telah disepakati, Dina berangkat ke sekolah Dini. Dan begitu sebaliknya.
Ketika memasuki ruang kelas, Dina berpapasan dengan teman-teman Dini. Mereka menyapanya. Dina membalas sapaan mereka. Tidak ada seorang pun yang curiga. Ternyata teman-teman Dini berhasil dikecohnya. Dina duduk di bangku yang biasa diduduki Dini.
“Ni, kamu sudah bikin PR, belum?” Tiba-tiba seorang anak perempuan yang memakai pita merah bertanya. Dia pasti Riana, batin Dina.
“PR apa?” tanya Dina, karena ia memang tidak tahu. Dini tidak memberitahu kalau ada PR.
“PR Matematika. Masak lupa?”
“Oh ya.” Dina buru-buru membuka tas dan memeriksa buku PR matematika Dini. Ternyata Dini belum mengerjakan PR.
Huh, Dini rupanya ingin mengerjai aku. Dia minta aku menggantikan tempatnya, karena dia belum mengerjakan PR. Untung Riana mengingatkannya. Dina mulai jengkel pada Dini.
Terpaksa Dina mengerjakan PR Dini. Ketika bel tanda masuk berbunyi, PR matematika itu sudah selesai dikerjakannya. Dina berharap, tidak ada lagi kejadian yang bikin hatinya kesal. Dia juga berharap jam sekolah segera berakhir. Ia ingin buru-buru marah pada Dini.
Akan tetapi, harapannya tidak terkabul. Pada jam pelajaran Bahasa Indonesia, tiba-tiba Dina diminta maju ke depan oleh Pak Guru. Dengan agak gugup dan bingung Dina melangkah ke muka kelas. Dia berdiri di hadapan teman-temannya.
“Kemarin kan, kamu tidak membuat PR Bahasa Indonesia. Dan sebagai hukuman, Bapak kemarin memberimu tugas membuat puisi. Apa sudah kamu bikin? Sekarang, ayo bacakan puisi karya kamu itu!” ujar Pak Guru tegas.
Ya, ampun! Kok jadinya begini, gerutu Dina dalam hati.
Tiba-tiba Dina sadar, kalau Dini sebenarnya sedang mengerjai dirinya. Dini sengaja mengajak bertukar tempat karena dia malas dan tidak mau mengerjakan tugasnya. Untunglah Dina suka menulis puisi. Dengan mudah ia menciptakan puisi dadakan.
Pulang dari sekolah, Dina tak bisa menahan diri lagi. Ia langsung marah-marah pada Dini. Juga melaporkan perbuatan Dini kepada Mama.
Mama akhirnya menegur Dini. Walaupun begitu, Dina juga kena teguran.
“Lo, Mama, kok, marah sama Dina juga? Dina kan sudah jadi korban perbuatan Dini,” kata Dina membela diri.
“Kamu juga salah! Kalau kamu tidak menerima ajakan Dini, tentu kejadian ini tak akan terjadi. Kalian telah bekerja sama melakukan kebohongan. Ingat, berbohong itu bukan hanya merugikan orang lain, tapi juga diri sendiri. Orang yang suka berbohong tidak akan dipercaya orang lain!” tegas Mama.
“Maafkan Dina, Ma. Dina janji tidak akan mau diajak berbohong lagi!”
“Dan kamu Dini. Kalau ada kesulitan atau masalah, jangan dipendam sendiri. Apalagi dibebankan pada orang lain. Itu namanya tidak bertanggung jawab. Lebih baik berterus terang dan tak perlu malu untuk meminta tolong. Mengerti?” ujar Mama kepada Dini.
Dini mengangguk. Ia merasa bersalah dan menyesal. Dia berjanji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi! (*)
04 Mei 2009
Pangeran Sial
Cerita Anak ini dimuat di majalah BOBO No.26/4 Oktober 2007
Terpilih Sebagai Pemenang Harapan Lomba Dongeng Majalah Bobo 2007
Oleh Eko Hartono
Pangeran Niko dijuluki Pangeran Sial. Kehadirannya sering membawa bencana dan kesialan bagi orang-orang di sekitarnya. Ibunda permaisuri meninggal dunia saat melahirkannya. Beberapa orang mengalami kecelakaan ketika sedang bersamanya.
Pangeran Niko selalu dijauhi orang-orang. Hanya ayahanda Raja yang masih sayang kepadanya. Tapi karena kesibukannya mengurus kerajaan, beliau tidak bisa setiap waktu menemaninya. Pangeran Niko menjadi kesepian. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan keluar istana, Pangeran Niko bertemu seorang pedagang barang antik keliling bernama Goran.
“Selamat siang, Pangeran. Saya menjual barang-barang bagus. Maukah Pangeran membelinya?” sapa Goran ramah.
“Di rumahku sudah banyak barang bagus,” jawab Pangeran Niko.
Goran tidak merasa kecewa. Baginya, ditolak pembeli sudah hal biasa. Lagi pula sangat bodoh menjual barang antik kepada seorang Pangeran. Bukankah di rumah Pangeran Niko sudah banyak barang bagus? Pikir Goran.
“Pangeran mau pergi ke mana?” tanya Goran lagi dengan ramah.
“Aku mau jalan-jalan saja sendiri, sebab semua orang menjauhiku,” jawab Pangeran Niko sedih.
“Bagaimana kalau Pangeran menemani saya berjualan? Pangeran tentu belum pernah melakukannya. Ini pasti jadi pengalaman yang menarik dan menyenangkan buat Pangeran!” ajak Goran tiba-tiba.
Sejenak Pangeran Niko terdiam. Ia heran, karena Goran tidak cemas berada di dekatnya. Padahal penduduk negerinya selalu menghindarinya.
“Apakah kamu tidak takut barang-barangmu tidak laku jika mengajakku?” tanya Pangeran Niko.
“Tidak, Pangeran. Saya tahu, Pangeran dijuluki Pangeran Sial. Tapi saya tidak percaya. Sikap dan cara pandang kitalah yang menjadikan sesuatu itu menjadi baik atau buruk,” kata Goran dengan bijak.
Ucapan Goran menyentuh hati Pangeran Niko. Maka, tanpa ragu dia menerima ajakan Goran.
“Baiklah, aku akan mengikutimu. Tapi kalau nanti barang-barangmu tidak ada yang laku, atau sesuatu terjadi padamu, jangan salahkan aku!”
Goran hanya tersenyum.
Pangeran Niko lalu mengikuti Goran yang berjalan mendorong gerobaknya. Goran menawarkan barang-barangnya dari rumah ke rumah. Namun seperti yang dikhawatirkan Pangeran Niko, tidak ada seorang pun yang mau membeli. Penduduk takut ketika melihat kehadiran Pangeran Niko.
“Lihatlah! Tak ada orang yang mau membeli barangmu karena aku bersamamu. Aku sudah membuat kamu sial,” ucap Pangeran Niko sedih.
“Ini bukan salah Pangeran. Penduduk hanya berpikiran buruk. Dulu, tetangga-tetangga saya juga mengejek saya karena saya berjualan barang bekas dan tua. Tapi kenyataannya jualan saya laku!” ujar Goran meyakinkan.
“Contohnya apa?” tanya Pangeran Niko kurang mengerti.
“Saya pernah membeli sebuah guci tua dengan harga murah. Suatu hari datang seorang pedagang kaya. Ia membeli guci itu dengan harga sepuluh kali lipat. Rupanya, guci itu adalah peninggalan orang tuanya yang dijual ketika mereka jatuh miskin dulu. Guci itu menyimpan kenangan amat berarti!”
Pangeran Niko tersenyum. Ia terhibur oleh cerita Goran.
Tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiri Goran. Ia memegang guci antik di dalam gerobak. Kelihatannya ia tertarik pada guci itu. Goran melayani dengan ramah. Si pemuda sudah hendak membayarnya. Namun ketika melihat Pangeran Niko, ia bergegas pergi dan tidak jadi membeli.
Pangeran Niko mendesah kecewa. “Tampaknya aku harus pergi agar kamu tidak terkena sial lagi,” katanya seraya melangkah pergi.
“Tunggu, Pangeran! Saya tidak merasa sial karena guci itu tidak jadi dibeli! Malah, mungkin pembeli itu yang rugi. Dia tidak berhasil mendapatkan guci bagus dengan harga murah. Dan saya juga mungkin bisa menjualnya di lain waktu, dengan harga lebih tinggi…,” Goran meyakinkan Pangeran Niko.
Pangeran Niko tidak menggubris dan melanjutkan langkahnya. Goran menyusul sambil mendorong gerobaknya. Tanpa ia sadari, roda gerobak menabrak batu. Gerobak itu terguling. Semua barangnya terjatuh. Guci tadi bahkan pecah. Pangeran Niko sangat terkejut.
“Apa kubilang! Aku telah membawa sial kepadamu,” ucapnya sedih sekali lagi.
Goran memunguti barang-barangnya. Tiba-tiba dia berseru girang.
“Tuhan Maha Besar! Betapa beruntungnya aku hari ini! Lihatlah, Pangeran!” seru Goran berseri-seri. Ia mengangkat pecahan guci yang berserakan di jalan.
Pangeran Niko tercengang. Di balik pecahan guci, tampak ada lempengan emas. Rupanya, bagian dalam guci tua itu digunakan untuk menyimpan lempengan emas. Mungkin pemiliknya dulu telah lupa mengambilnya. Ia malah menjualnya dengan harga murah. Betapa beruntungnya Goran!
“Sekarang Pangeran percaya kan, kalau Pangeran juga bisa membawa keberuntungan. Andai Pangeran tadi tak ada, mungkin guci ini sudah dibeli orang,” Goran tak hentinya mengucap syukur.
Pangeran Niko tersenyum. Kini ia sadar, keberuntungan dan kesialan bisa datang kepada siapa saja. Semua tergantung dari sikap dan cara pandang kita sendiri! (*)
Terpilih Sebagai Pemenang Harapan Lomba Dongeng Majalah Bobo 2007
Oleh Eko Hartono
Pangeran Niko dijuluki Pangeran Sial. Kehadirannya sering membawa bencana dan kesialan bagi orang-orang di sekitarnya. Ibunda permaisuri meninggal dunia saat melahirkannya. Beberapa orang mengalami kecelakaan ketika sedang bersamanya.
Pangeran Niko selalu dijauhi orang-orang. Hanya ayahanda Raja yang masih sayang kepadanya. Tapi karena kesibukannya mengurus kerajaan, beliau tidak bisa setiap waktu menemaninya. Pangeran Niko menjadi kesepian. Suatu hari ketika sedang berjalan-jalan keluar istana, Pangeran Niko bertemu seorang pedagang barang antik keliling bernama Goran.
“Selamat siang, Pangeran. Saya menjual barang-barang bagus. Maukah Pangeran membelinya?” sapa Goran ramah.
“Di rumahku sudah banyak barang bagus,” jawab Pangeran Niko.
Goran tidak merasa kecewa. Baginya, ditolak pembeli sudah hal biasa. Lagi pula sangat bodoh menjual barang antik kepada seorang Pangeran. Bukankah di rumah Pangeran Niko sudah banyak barang bagus? Pikir Goran.
“Pangeran mau pergi ke mana?” tanya Goran lagi dengan ramah.
“Aku mau jalan-jalan saja sendiri, sebab semua orang menjauhiku,” jawab Pangeran Niko sedih.
“Bagaimana kalau Pangeran menemani saya berjualan? Pangeran tentu belum pernah melakukannya. Ini pasti jadi pengalaman yang menarik dan menyenangkan buat Pangeran!” ajak Goran tiba-tiba.
Sejenak Pangeran Niko terdiam. Ia heran, karena Goran tidak cemas berada di dekatnya. Padahal penduduk negerinya selalu menghindarinya.
“Apakah kamu tidak takut barang-barangmu tidak laku jika mengajakku?” tanya Pangeran Niko.
“Tidak, Pangeran. Saya tahu, Pangeran dijuluki Pangeran Sial. Tapi saya tidak percaya. Sikap dan cara pandang kitalah yang menjadikan sesuatu itu menjadi baik atau buruk,” kata Goran dengan bijak.
Ucapan Goran menyentuh hati Pangeran Niko. Maka, tanpa ragu dia menerima ajakan Goran.
“Baiklah, aku akan mengikutimu. Tapi kalau nanti barang-barangmu tidak ada yang laku, atau sesuatu terjadi padamu, jangan salahkan aku!”
Goran hanya tersenyum.
Pangeran Niko lalu mengikuti Goran yang berjalan mendorong gerobaknya. Goran menawarkan barang-barangnya dari rumah ke rumah. Namun seperti yang dikhawatirkan Pangeran Niko, tidak ada seorang pun yang mau membeli. Penduduk takut ketika melihat kehadiran Pangeran Niko.
“Lihatlah! Tak ada orang yang mau membeli barangmu karena aku bersamamu. Aku sudah membuat kamu sial,” ucap Pangeran Niko sedih.
“Ini bukan salah Pangeran. Penduduk hanya berpikiran buruk. Dulu, tetangga-tetangga saya juga mengejek saya karena saya berjualan barang bekas dan tua. Tapi kenyataannya jualan saya laku!” ujar Goran meyakinkan.
“Contohnya apa?” tanya Pangeran Niko kurang mengerti.
“Saya pernah membeli sebuah guci tua dengan harga murah. Suatu hari datang seorang pedagang kaya. Ia membeli guci itu dengan harga sepuluh kali lipat. Rupanya, guci itu adalah peninggalan orang tuanya yang dijual ketika mereka jatuh miskin dulu. Guci itu menyimpan kenangan amat berarti!”
Pangeran Niko tersenyum. Ia terhibur oleh cerita Goran.
Tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiri Goran. Ia memegang guci antik di dalam gerobak. Kelihatannya ia tertarik pada guci itu. Goran melayani dengan ramah. Si pemuda sudah hendak membayarnya. Namun ketika melihat Pangeran Niko, ia bergegas pergi dan tidak jadi membeli.
Pangeran Niko mendesah kecewa. “Tampaknya aku harus pergi agar kamu tidak terkena sial lagi,” katanya seraya melangkah pergi.
“Tunggu, Pangeran! Saya tidak merasa sial karena guci itu tidak jadi dibeli! Malah, mungkin pembeli itu yang rugi. Dia tidak berhasil mendapatkan guci bagus dengan harga murah. Dan saya juga mungkin bisa menjualnya di lain waktu, dengan harga lebih tinggi…,” Goran meyakinkan Pangeran Niko.
Pangeran Niko tidak menggubris dan melanjutkan langkahnya. Goran menyusul sambil mendorong gerobaknya. Tanpa ia sadari, roda gerobak menabrak batu. Gerobak itu terguling. Semua barangnya terjatuh. Guci tadi bahkan pecah. Pangeran Niko sangat terkejut.
“Apa kubilang! Aku telah membawa sial kepadamu,” ucapnya sedih sekali lagi.
Goran memunguti barang-barangnya. Tiba-tiba dia berseru girang.
“Tuhan Maha Besar! Betapa beruntungnya aku hari ini! Lihatlah, Pangeran!” seru Goran berseri-seri. Ia mengangkat pecahan guci yang berserakan di jalan.
Pangeran Niko tercengang. Di balik pecahan guci, tampak ada lempengan emas. Rupanya, bagian dalam guci tua itu digunakan untuk menyimpan lempengan emas. Mungkin pemiliknya dulu telah lupa mengambilnya. Ia malah menjualnya dengan harga murah. Betapa beruntungnya Goran!
“Sekarang Pangeran percaya kan, kalau Pangeran juga bisa membawa keberuntungan. Andai Pangeran tadi tak ada, mungkin guci ini sudah dibeli orang,” Goran tak hentinya mengucap syukur.
Pangeran Niko tersenyum. Kini ia sadar, keberuntungan dan kesialan bisa datang kepada siapa saja. Semua tergantung dari sikap dan cara pandang kita sendiri! (*)
Ketika Seorang Pencuri Diadili
Cerita Anak ini dimuat di majalah BOBO No.40/11 Januari 2007
Terpilih Sebagai Pemenang Harapan Lomba Mengarang Dongeng Majalah Bobo 2006
Oleh : Eko Hartono.
Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja itu bernama Raja Rangga. Ia suka sekali berkelana ke seluruh pelosok negerinya. Dengan menyamar sebagai orang biasa, Raja Rangga berusaha mengetahui keadaan rakyatnya yang sebenarnya.
Suatu hari, ia mendatangi sebuah kadipaten dengan menyamar sebagai petani. Raja Rangga memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba ia melihat kerumunan orang di alun-alun kota. Ia segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
Di tengah alun-alun tampak Adipati Sujiwo berdiri di atas panggung dengan gagahnya. Ia adalah penguasa kota kecil itu. Di dekat kakinya duduk seorang anak menangis sedih. Rupanya anak itu tertangkap ketika mencuri. Adipati Sujiwo akan menghukum pencuri kecil itu dengan hukum cambuk sebanyak seratus kali.
Pencuri kecil berlinangan air mata. Ia tampak pasrah menerima hukuman dari juru cambuk. Namun, ketika juru cambuk siap mengayunkan cambuknya, tiba-tiba ada yang menyela…
“Tunggu dulu!”
Semua mata langsung tertuju ke arah empunya suara. Adipati Sujiwo menatap tajam ke laki-laki yang memakai caping.
“Hei, siapa kamu, orang asing? Beraninya kamu memotong perintahku!” marahnya.
“Apakah Kanjeng Adipati sudah mengadili pencuri ini, sebelum menjatuhi hukuman?” tanya pria bercaping itu.
“Tidak perlu diadili lagi. Dia telah tertangkap ketika sedang mencuri. Banyak saksi mata yang melihatnya!”
“Tapi Kanjeng Adipati perlu tahu, apa yang menyebabkan dia mencuri…”
Ucapan orang asing itu membuat sang Adipati kesal. Rakyat yang berkerumun saling bergumam. Mereka membenarkan ucapan orang asing itu. Namun, sang Adipati tak ingin kehilangan kewibawaannya.
“Baiklah. Sebelum hukuman dilaksanakan, silakan tanya kepada pencuri itu, apakah dia bersalah atau tidak,” kata Adipati Sujiwo dengan sinis.
Orang asing yang memakai caping itu kemudian maju mendekati si pencuri. “Nak, apa yang kamu curi?” tanyanya.
“Makanan dan buah-buahan, Tuan,” jawab anak itu lirih.
“Kenapa kamu mencuri? Apakah orang tuamu tidak memberimu makan?”
“Tidak, Tuan. Orang tua saya miskin.”
Orang bercaping itu kemudian menoleh kepada sang Adipati.
“Dengarlah, Kanjeng Adipati. Anak ini mencuri karena tidak diberi makanan oleh orangtuanya. Jadi orang tuanya yang bersalah. Orangtuanya yang bersalah. Orang tuanya harus bertanggung jawab!” ujarnya
Maka, dipanggillah orang tua anak itu. Mereka dihadirkan di hadapan sidang pengadilan terbuka, disaksikan seluruh rakyat.
“Hei, orang tua. Kenapa kalian biarkan anak kalian kelaparan sehingga mencuri makanan?” tanya sang Adipati lantang.
“Ampun beribu ampun, Kanjeng Adipati. Kami mengaku bersalah. Kami tidak memberi makanan pada anak kami, karena kami tidak punya uang,” jawab ayah si pencuri.
“Apa kamu tidak berkerja atau menggarap ladang?”
“Saya bekerja pada seorang saudagar, Kanjeng Adipati. Tapi majikan saya sudah lama tidak memberi saya gaji…”
“Kalau begitu, panggil majikan kamu kemari!” perintah Adipati Sujiwo.
Maka, majikan ayah si pencuri itu lalu dipanggil. Sang saudagar tidak merasa bersalah. Ia tidak terima dirinya diadili.
“Kenapa saya harus ikut diadili, Kanjeng Adipati? Semua ini bukan salah saya,” ujarnya.
“Kamu tidak memberi gaji kepada pegawaimu, sehingga pegawaimu tidak bisa memberi makan kepada anaknya. Jadi kamu dianggap bersalah!” tegas sang Adipati.
“Saya tidak sanggup lagi memberi makan kepada anaknya. Jadi kamu dianggap bersalah!” tegas sang Adipati.
“Saya tidak sanggup lagi memberi gaji kepada pegawai saya. Usaha yang saya jalankan tidak pernah mendapat untung, Kanjeng Adipati. Semua keuntungan habis untuk membayar pajak yang ditarik petugas kadipaten. Karena pajaknya terlalu besar, saya tidak bisa memberi gaji pada pegawai saya…”
Ucapan saudagar itu membuat wajah Adipati merah padam. Ia menjadi salah tingkah.
“Dengarlah, Kanjeng Adipati. Ternyata Kanjeng Adipati sendiri yang menyebabkan anak ini mencuri. Kanjeng Adipati membebani rakyat dengan pajak yang tinggi. Mereka menjadi kelaparan dan akhirnya mencuri. Jadi Kanjeng Adipati yang sebenarnya bersalah dan harus mendapat hukuman,” kata orang bercaping itu.
Sang Adipati menjadi marah. “Hei, orang asing. Beraninya kamu bicara seperti itu kepadaku!”
Raja Rangga yang sedang menyamar itu kemudian membuka capingnya. Ketika terlihat wajahnya yang sebenarnya, sang Adipati menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ia langsung bersujud menghaturkan sembah. Semua orang ikut bersujud di hadapan Raja Rangga.
Adipati memohon ampun atas kesalahannya. Raja Rangga mengampuninya. Namun ia harus mengembalikan pajak yang diambilnya dari rakyat. Raja Rangga tidak ingin melihat rakyatnya hidup sengsara karena kesalahan pemimpinnya! (*)
Terpilih Sebagai Pemenang Harapan Lomba Mengarang Dongeng Majalah Bobo 2006
Oleh : Eko Hartono.
Dahulu kala, hiduplah seorang raja yang arif dan bijaksana. Raja itu bernama Raja Rangga. Ia suka sekali berkelana ke seluruh pelosok negerinya. Dengan menyamar sebagai orang biasa, Raja Rangga berusaha mengetahui keadaan rakyatnya yang sebenarnya.
Suatu hari, ia mendatangi sebuah kadipaten dengan menyamar sebagai petani. Raja Rangga memakai caping yang menutupi sebagian wajahnya. Tiba-tiba ia melihat kerumunan orang di alun-alun kota. Ia segera mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi.
Di tengah alun-alun tampak Adipati Sujiwo berdiri di atas panggung dengan gagahnya. Ia adalah penguasa kota kecil itu. Di dekat kakinya duduk seorang anak menangis sedih. Rupanya anak itu tertangkap ketika mencuri. Adipati Sujiwo akan menghukum pencuri kecil itu dengan hukum cambuk sebanyak seratus kali.
Pencuri kecil berlinangan air mata. Ia tampak pasrah menerima hukuman dari juru cambuk. Namun, ketika juru cambuk siap mengayunkan cambuknya, tiba-tiba ada yang menyela…
“Tunggu dulu!”
Semua mata langsung tertuju ke arah empunya suara. Adipati Sujiwo menatap tajam ke laki-laki yang memakai caping.
“Hei, siapa kamu, orang asing? Beraninya kamu memotong perintahku!” marahnya.
“Apakah Kanjeng Adipati sudah mengadili pencuri ini, sebelum menjatuhi hukuman?” tanya pria bercaping itu.
“Tidak perlu diadili lagi. Dia telah tertangkap ketika sedang mencuri. Banyak saksi mata yang melihatnya!”
“Tapi Kanjeng Adipati perlu tahu, apa yang menyebabkan dia mencuri…”
Ucapan orang asing itu membuat sang Adipati kesal. Rakyat yang berkerumun saling bergumam. Mereka membenarkan ucapan orang asing itu. Namun, sang Adipati tak ingin kehilangan kewibawaannya.
“Baiklah. Sebelum hukuman dilaksanakan, silakan tanya kepada pencuri itu, apakah dia bersalah atau tidak,” kata Adipati Sujiwo dengan sinis.
Orang asing yang memakai caping itu kemudian maju mendekati si pencuri. “Nak, apa yang kamu curi?” tanyanya.
“Makanan dan buah-buahan, Tuan,” jawab anak itu lirih.
“Kenapa kamu mencuri? Apakah orang tuamu tidak memberimu makan?”
“Tidak, Tuan. Orang tua saya miskin.”
Orang bercaping itu kemudian menoleh kepada sang Adipati.
“Dengarlah, Kanjeng Adipati. Anak ini mencuri karena tidak diberi makanan oleh orangtuanya. Jadi orang tuanya yang bersalah. Orangtuanya yang bersalah. Orang tuanya harus bertanggung jawab!” ujarnya
Maka, dipanggillah orang tua anak itu. Mereka dihadirkan di hadapan sidang pengadilan terbuka, disaksikan seluruh rakyat.
“Hei, orang tua. Kenapa kalian biarkan anak kalian kelaparan sehingga mencuri makanan?” tanya sang Adipati lantang.
“Ampun beribu ampun, Kanjeng Adipati. Kami mengaku bersalah. Kami tidak memberi makanan pada anak kami, karena kami tidak punya uang,” jawab ayah si pencuri.
“Apa kamu tidak berkerja atau menggarap ladang?”
“Saya bekerja pada seorang saudagar, Kanjeng Adipati. Tapi majikan saya sudah lama tidak memberi saya gaji…”
“Kalau begitu, panggil majikan kamu kemari!” perintah Adipati Sujiwo.
Maka, majikan ayah si pencuri itu lalu dipanggil. Sang saudagar tidak merasa bersalah. Ia tidak terima dirinya diadili.
“Kenapa saya harus ikut diadili, Kanjeng Adipati? Semua ini bukan salah saya,” ujarnya.
“Kamu tidak memberi gaji kepada pegawaimu, sehingga pegawaimu tidak bisa memberi makan kepada anaknya. Jadi kamu dianggap bersalah!” tegas sang Adipati.
“Saya tidak sanggup lagi memberi makan kepada anaknya. Jadi kamu dianggap bersalah!” tegas sang Adipati.
“Saya tidak sanggup lagi memberi gaji kepada pegawai saya. Usaha yang saya jalankan tidak pernah mendapat untung, Kanjeng Adipati. Semua keuntungan habis untuk membayar pajak yang ditarik petugas kadipaten. Karena pajaknya terlalu besar, saya tidak bisa memberi gaji pada pegawai saya…”
Ucapan saudagar itu membuat wajah Adipati merah padam. Ia menjadi salah tingkah.
“Dengarlah, Kanjeng Adipati. Ternyata Kanjeng Adipati sendiri yang menyebabkan anak ini mencuri. Kanjeng Adipati membebani rakyat dengan pajak yang tinggi. Mereka menjadi kelaparan dan akhirnya mencuri. Jadi Kanjeng Adipati yang sebenarnya bersalah dan harus mendapat hukuman,” kata orang bercaping itu.
Sang Adipati menjadi marah. “Hei, orang asing. Beraninya kamu bicara seperti itu kepadaku!”
Raja Rangga yang sedang menyamar itu kemudian membuka capingnya. Ketika terlihat wajahnya yang sebenarnya, sang Adipati menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Ia langsung bersujud menghaturkan sembah. Semua orang ikut bersujud di hadapan Raja Rangga.
Adipati memohon ampun atas kesalahannya. Raja Rangga mengampuninya. Namun ia harus mengembalikan pajak yang diambilnya dari rakyat. Raja Rangga tidak ingin melihat rakyatnya hidup sengsara karena kesalahan pemimpinnya! (*)
21 April 2009
Dering Bel Es Krim
Cerita Anak ini pernah dimuat di majalah BOBO edisi No. 17/2 Agustus 2007
Oleh : Eko Hartono.
Tante Hilda gelisah dan cemas. Upik, putri tunggalnya, hilang. Upik yang baru berusia empat tahun itu, tidak tahu pergi ke mana. Padahal tante Hilda masih sempat melihat anaknya itu bermain sendirian di teras depan. Ketika ia menengok kembali ke depan, Upik sudah tidak ada.
Tante Hilda sudah mencari ke rumah para tetangga, tapi Upik tidak ada. Di beberapa tempat bermain anak-anak juga tidak ada. Teman-teman tante Hilda juga tidak ada yang tahu. Tante Hilda menangis sedih. Orang-orang datang mengerumuninya di beranda depan.
Toni, Yanto, dan Arman ikut mendekat. Mereka menanyai tante Hilda. “Mungkin Upik diajak Oom Hendro!” Yanto menduga.
“Tidak mungkin! Oom Hendro kan masih di kantor,” kata tante Hilda. Oom Hendro adalah suami tante Hilda, papa Upik.
“Jangan-jangan Upik diculik?” cetus seseorang membuat tante Hilda semakin pucat pasi.
“Ya, Tuhan! Jangan sampai anakku diculik!”
“Tenang, Tante. Sebaiknya dicari dulu, mungkin ada petunjuk ke mana perginya Upik. Coba, Tante ingat, apa yang dilakukan Upik sebelum Tante ke belakang?” tanya Toni.
“Dia sedang bermain boneka di beranda depan rumah ini. Tante sudah ingatkan dia agar jangan main jauh-jauh. Dia hanya mengangguk.”
“Apa dia tidak bilang sesuatu sama Tante? Misalnya, berpamitan mau pergi ke mana atau meminta sesuatu?”
Tante Hilda diam sebentar, sedang mengingat-ingat. Tiba-tiba dia berseru, “Oh ya, tadi waktu ada penjual es krim lewat depan rumah, dia sempat berteriak minta dibelikan es krim. Tapi Tante tidak ijinkan, karena nanti dia batuk. Hanya itu saja!”
“Jangan-jangan dia mengikuti penjual es krim keliling itu,” sahut Arman bersemangat.
Tiga sekawan itu segera berlari mencari penjual es krim yang berkeliling kampung dengan sepeda kayuh. Tapi setelah bertemu dengan penjual es krim itu, ternyata Upik tidak bersamanya.
“Saya tadi memang melihat anak kecil itu. Dia nangis minta dibelikan es krim waktu saya lewat,” kata si penjual es krim waktu ditanya Arman.
Toni, Arman, dan Yanto menghela napas lesu. Hilangnya Upik semakin misterius bagi mereka. Mereka tidak tahu lagi harus mencari kemana. Tapi tiba-tiba Toni mendapat akal. Ia meminjam bel elektrik milik penjual es krim yang biasa digunakan untuk memanggil pembeli.
Toni lalu berjalan menyusuri gang sambil membunyikan bel. Ia berharap bisa memancing Upik keluar dengan dering bel itu. Bukankah Upik suka sekali pada es krim? Sepanjang jalan gang menuju rumah Upik, Toni terus membunyikan bel itu. Setiba di depan rumah Upik, dering bel es krim masih dibunyikan.
Orang-orang yang melihat kelakuan Toni malah tersenyum-senyum geli. Dikiranya Toni sedang bermain-main. Namun tiba-tiba… Upik muncul dan berlari keluar dari dalam rumah. Ia menghampiri bunyi dering bel yang dikiranya penjual es krim lewat.
Orang-orang tertegun melihatnya. Tante Hilda senang bukan main. Ia segera menghambur memeluk putrinya.
“Ke mana saja kamu, sayang? Mama kebingungan mencarimu?” tanya tante Hilda.
“Upik sembunyi di kolong ranjang, Ma. Abiiis, Mama enggak mau beli es krim, siiih…” jawab Upik.
Semua yang mendengar jawaban Upik tertawa geli. Rupanya, Upik tidak pergi ke mana-mana. Ia cuma bersembunyi di dalam rumah karena kesal pada mamanya.
Tante Hilda akhirnya mau membelikan Upik es krim. Anak itu gembira bukan main. Toni, Arman, dan Yanto juga kebagian es krim gratis. Semua tetangga memuji kecerdasan Toni. (*)
Tirtomoyo, April 2007
Oleh : Eko Hartono.
Tante Hilda gelisah dan cemas. Upik, putri tunggalnya, hilang. Upik yang baru berusia empat tahun itu, tidak tahu pergi ke mana. Padahal tante Hilda masih sempat melihat anaknya itu bermain sendirian di teras depan. Ketika ia menengok kembali ke depan, Upik sudah tidak ada.
Tante Hilda sudah mencari ke rumah para tetangga, tapi Upik tidak ada. Di beberapa tempat bermain anak-anak juga tidak ada. Teman-teman tante Hilda juga tidak ada yang tahu. Tante Hilda menangis sedih. Orang-orang datang mengerumuninya di beranda depan.
Toni, Yanto, dan Arman ikut mendekat. Mereka menanyai tante Hilda. “Mungkin Upik diajak Oom Hendro!” Yanto menduga.
“Tidak mungkin! Oom Hendro kan masih di kantor,” kata tante Hilda. Oom Hendro adalah suami tante Hilda, papa Upik.
“Jangan-jangan Upik diculik?” cetus seseorang membuat tante Hilda semakin pucat pasi.
“Ya, Tuhan! Jangan sampai anakku diculik!”
“Tenang, Tante. Sebaiknya dicari dulu, mungkin ada petunjuk ke mana perginya Upik. Coba, Tante ingat, apa yang dilakukan Upik sebelum Tante ke belakang?” tanya Toni.
“Dia sedang bermain boneka di beranda depan rumah ini. Tante sudah ingatkan dia agar jangan main jauh-jauh. Dia hanya mengangguk.”
“Apa dia tidak bilang sesuatu sama Tante? Misalnya, berpamitan mau pergi ke mana atau meminta sesuatu?”
Tante Hilda diam sebentar, sedang mengingat-ingat. Tiba-tiba dia berseru, “Oh ya, tadi waktu ada penjual es krim lewat depan rumah, dia sempat berteriak minta dibelikan es krim. Tapi Tante tidak ijinkan, karena nanti dia batuk. Hanya itu saja!”
“Jangan-jangan dia mengikuti penjual es krim keliling itu,” sahut Arman bersemangat.
Tiga sekawan itu segera berlari mencari penjual es krim yang berkeliling kampung dengan sepeda kayuh. Tapi setelah bertemu dengan penjual es krim itu, ternyata Upik tidak bersamanya.
“Saya tadi memang melihat anak kecil itu. Dia nangis minta dibelikan es krim waktu saya lewat,” kata si penjual es krim waktu ditanya Arman.
Toni, Arman, dan Yanto menghela napas lesu. Hilangnya Upik semakin misterius bagi mereka. Mereka tidak tahu lagi harus mencari kemana. Tapi tiba-tiba Toni mendapat akal. Ia meminjam bel elektrik milik penjual es krim yang biasa digunakan untuk memanggil pembeli.
Toni lalu berjalan menyusuri gang sambil membunyikan bel. Ia berharap bisa memancing Upik keluar dengan dering bel itu. Bukankah Upik suka sekali pada es krim? Sepanjang jalan gang menuju rumah Upik, Toni terus membunyikan bel itu. Setiba di depan rumah Upik, dering bel es krim masih dibunyikan.
Orang-orang yang melihat kelakuan Toni malah tersenyum-senyum geli. Dikiranya Toni sedang bermain-main. Namun tiba-tiba… Upik muncul dan berlari keluar dari dalam rumah. Ia menghampiri bunyi dering bel yang dikiranya penjual es krim lewat.
Orang-orang tertegun melihatnya. Tante Hilda senang bukan main. Ia segera menghambur memeluk putrinya.
“Ke mana saja kamu, sayang? Mama kebingungan mencarimu?” tanya tante Hilda.
“Upik sembunyi di kolong ranjang, Ma. Abiiis, Mama enggak mau beli es krim, siiih…” jawab Upik.
Semua yang mendengar jawaban Upik tertawa geli. Rupanya, Upik tidak pergi ke mana-mana. Ia cuma bersembunyi di dalam rumah karena kesal pada mamanya.
Tante Hilda akhirnya mau membelikan Upik es krim. Anak itu gembira bukan main. Toni, Arman, dan Yanto juga kebagian es krim gratis. Semua tetangga memuji kecerdasan Toni. (*)
Tirtomoyo, April 2007
Memecahkan Kasus Perampokan
Cerita Anak ini pernah diimuat di Majalah BOBO No.22 /6 September 2007
Menjadi Cerita Misteri Pilihan Majalah Bobo tahun 2007
Oleh : Eko Hartono.
Adi adalah anak pengantar koran dan majalah. Setiap pagi dia berkeliling kompleks perumahan mewah Alamsari dengan sepeda BMX-nya. Ia melakukan pekerjaan itu sebelum berangkat ke sekolah. Setiap kali melewati rumah pelanggannya, ia melemparkan koran atau majalah di halaman depan. Atau menjepitnya di pintu pagar. Upah yang didapat lumayan, bisa untuk menambah uang saku atau membeli keperluan sekolah.
Pagi itu, saat sedang mengikuti pelajaran pertama di kelas, tiba-tiba datang utusan bapak kepala sekolah memanggilnya. Adi disuruh ke ruangan kepala sekolah. Adi jadi berdebar-debar dan penasaran.
Sesampai di ruang kepala sekolah, ternyata sudah menunggu dua polisi berpakaian preman. Perasaan Adi semakin tidak karuan. Kedua polisi itu ternyata sudah menyediakan banyak pertanyaan yang harus dijawab Adi. Semuanya berhubungan dengan kegiatannya mengantar koran di kompleks perumahan mewah Alamsari. Terutama saat melewati rumah Pak Sanjaya.
“Jam berapa kamu berangkat mengantar koran?” tanya polisi.
“Jam setengah enam pagi, Pak. Soalnya jam setengah tujuh saya sudah harus berangkat sekolah,” jawab Adi.
“Kamu tidak pernah meleset dari jadwal, misalnya terlambat lima atau sepuluh menit?”
“Ya, pernah sih, Pak. Tapi hanya dua atau tiga menit saja. Soalnya saya sudah menghitung, berapa lama saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Bahkan di setiap rumah yang saya singgahi, saya sudah bisa menghitung per menitnya.”
“Berarti kamu tahu, kira-kira jam berapa kamu sampai di rumah Pak Sanjaya, di Blok A nomor 12?”
“Tahu, Pak. Sekitar jam enam kurang lima menit. Memangnya ada apa, Pak?” Adi tak dapat menahan lagi rasa penasarannya.
“Di rumah Pak Sanjaya terjadi perampokan. Peristiwanya terjadi antara jam enam hingga tujuh pagi. Kebetulan Pak Sanjaya sedang berlibur ke luar kota dalam beberapa hari ini. Rumah itu dijaga oleh dua satpam yang bergiliran jaga antara siang dan malam. Mereka melakukan pergantian jaga pada sekitar jam tujuh pagi. Tapi jam enam pagi tadi, satpam yang jaga malam mendapat kabar istrinya sakit. Jadi dia harus buru-buru pulang. Sementara satpam satunya belum datang. Saat kekosongan penjagaan itulah, perampok datang dan menggasak harta benda di dalamnya…”
“Astaga!” seru Adi kaget. “Tapi, Pak. Di rumah itu kan juga ada seorang pembantu wanita. Setiap pagi dia datang membersihkan rumah.”
“Memang! Tapi saat pembantu wanita itu datang, rumah sudah dalam keadaan berantakan. Dia lalu menelepon kantor polisi!”
“Jadi yang melaporkan kejadian perampokan itu, si pembantu itu?”
“Benar! Karena tidak ada saksi mata yang melihat kejadian perampokan itu, maka kami ingin meminta keterangan adik. Karena hanya adik satu-satunya orang yang lewat di jalan itu pagi tadi. Mungkin adik melihat seseorang atau sesuatu yang mencurigakan di sekitar rumah Pak Sanjaya?”
Adi diam terpekur sejenak. Dia mencoba mengingat kembali perjalanannya saat mengantar koran di kompleks perumahan Alamsari, terutama ketika melewati rumah Pak Sanjaya. Saat itu suasana di kompleks perumahan masih sepi. Maklumlah, rata-rata penghuninya masih belum bangun.
Jalan di kompleks perumahan itu juga jarang dilewati kendaraan umum dan orang. Kecuali kendaraan milik para penghuninya, anak-anak sekolah, dan pedagang keliling yang menggunakan mobil atau gerobak. Itu pun kebanyakan di atas jam tujuh pagi.
Tiba-tiba Adi teringat sesuatu. “Oh ya, Bapak tadi bilang, pembantu itu melaporkan kejadian setelah melihat rumah itu dalam keadaan berantakan? Berarti dia datang ke rumah itu di atas jam tujuh, dong? Tapi, pagi tadi saya melihat pembantu itu sudah ada di depan rumah?” cetusnya.
“Ya! Dia juga sudah menceritakan hal itu. Pagi tadi dia memang datang lebih awal untuk memberitahu petugas satpam yang istrinya sakit. Mereka kebetulan bertetangga. Pembantu itu tidak masuk ke dalam rumah, tapi ikut pulang lagi…”
Adi terpekur lesu. Tadinya dia sempat curiga pada si pembantu, tapi ternyata pembantu itu punya alibi. Maksudnya, ia bisa menjelaskan keberadaannya, sehingga tidak bisa dituduh.
“Bapak-bapak sudah mengecek ke rumah Pak Satpam penjaga malam, apakah benar istrinya sakit?” tanya Adi kemudian.
“Sudah! Saat ini istrinya malah dibawa ke rumah sakit. Kami sebenarnya mencurigai orang dalam sebagai pelakunya. Atau kerja sama dengan orang luar. Tapi kelihatannya mereka punya alibi sangat kuat. Karena itu, kami ingin mencari kesaksian dari adik Adi. Atau mungkin adik ini…?”
“Bapak mencurigai saya?” potong Adi pucat pasi.
“Maaf! Dalam kasus ini, siapa pun patut dicurigai, terutama yang berdekatan atau ada di sekitar TKP saat kejadian berlangsung!”
Hati Adi ciut. Perasaannya jadi tidak karuan. Tapi karena dia yakin dirinya tidak bersalah, dia berusaha menghilangkan kegelisahannya. Ia lalu berpikir keras membantu memecahkan kasus ini. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Oh ya, saya ingat! Saya tadi sempat kembali ke Blok A untuk mengantar surat tagihan di depan rumah Pak Sanjaya. Saat itu baru pukul enam lebih limabelas menit. Saya melihat pembantu wanita itu sudah ada di rumah majikannya. Jadi dia hanya pulang sebentar untuk kembali lagi. Tapi yang saya heran, dia justru sedang menyapu lantai teras depan. Tak jauh dari rumah itu, ada sebuah mobil kijang diparkir. Saya tidak tahu, jam berapa dia menelepon ke kantor polisi…?” tuturnya.
Kedua polisi itu sejenak saling pandang. Wajah mereka tiba-tiba berbinar.
“Pembantu itu telah berbohong! Dia menelepon ke kantor polisi sekitar jam tujuh pagi. Kalau benar sekitar jam enam lebih limabelas menit dia sudah ada di rumah itu lagi, berarti beda waktu itu digunakan untuk melakukan aksi. Dia pura-pura menyapu di depan rumah untuk mengawasi keadaan, sementara teman-temannya di dalam sedang mengambil barang-barang berharga. Tak salah lagi, pembantu itu otak perampokan!” ujar salah seorang polisi.
Apa yang dikatakan polisi benar. Setelah ditangkap dan diinterograsi, pembantu wanita itu mengakui perbuatannya. Adi senang dan bangga karena bisa ikut membantu polisi memecahkan kasus kejahatan.
Menjadi Cerita Misteri Pilihan Majalah Bobo tahun 2007
Oleh : Eko Hartono.
Adi adalah anak pengantar koran dan majalah. Setiap pagi dia berkeliling kompleks perumahan mewah Alamsari dengan sepeda BMX-nya. Ia melakukan pekerjaan itu sebelum berangkat ke sekolah. Setiap kali melewati rumah pelanggannya, ia melemparkan koran atau majalah di halaman depan. Atau menjepitnya di pintu pagar. Upah yang didapat lumayan, bisa untuk menambah uang saku atau membeli keperluan sekolah.
Pagi itu, saat sedang mengikuti pelajaran pertama di kelas, tiba-tiba datang utusan bapak kepala sekolah memanggilnya. Adi disuruh ke ruangan kepala sekolah. Adi jadi berdebar-debar dan penasaran.
Sesampai di ruang kepala sekolah, ternyata sudah menunggu dua polisi berpakaian preman. Perasaan Adi semakin tidak karuan. Kedua polisi itu ternyata sudah menyediakan banyak pertanyaan yang harus dijawab Adi. Semuanya berhubungan dengan kegiatannya mengantar koran di kompleks perumahan mewah Alamsari. Terutama saat melewati rumah Pak Sanjaya.
“Jam berapa kamu berangkat mengantar koran?” tanya polisi.
“Jam setengah enam pagi, Pak. Soalnya jam setengah tujuh saya sudah harus berangkat sekolah,” jawab Adi.
“Kamu tidak pernah meleset dari jadwal, misalnya terlambat lima atau sepuluh menit?”
“Ya, pernah sih, Pak. Tapi hanya dua atau tiga menit saja. Soalnya saya sudah menghitung, berapa lama saya harus menyelesaikan pekerjaan saya. Bahkan di setiap rumah yang saya singgahi, saya sudah bisa menghitung per menitnya.”
“Berarti kamu tahu, kira-kira jam berapa kamu sampai di rumah Pak Sanjaya, di Blok A nomor 12?”
“Tahu, Pak. Sekitar jam enam kurang lima menit. Memangnya ada apa, Pak?” Adi tak dapat menahan lagi rasa penasarannya.
“Di rumah Pak Sanjaya terjadi perampokan. Peristiwanya terjadi antara jam enam hingga tujuh pagi. Kebetulan Pak Sanjaya sedang berlibur ke luar kota dalam beberapa hari ini. Rumah itu dijaga oleh dua satpam yang bergiliran jaga antara siang dan malam. Mereka melakukan pergantian jaga pada sekitar jam tujuh pagi. Tapi jam enam pagi tadi, satpam yang jaga malam mendapat kabar istrinya sakit. Jadi dia harus buru-buru pulang. Sementara satpam satunya belum datang. Saat kekosongan penjagaan itulah, perampok datang dan menggasak harta benda di dalamnya…”
“Astaga!” seru Adi kaget. “Tapi, Pak. Di rumah itu kan juga ada seorang pembantu wanita. Setiap pagi dia datang membersihkan rumah.”
“Memang! Tapi saat pembantu wanita itu datang, rumah sudah dalam keadaan berantakan. Dia lalu menelepon kantor polisi!”
“Jadi yang melaporkan kejadian perampokan itu, si pembantu itu?”
“Benar! Karena tidak ada saksi mata yang melihat kejadian perampokan itu, maka kami ingin meminta keterangan adik. Karena hanya adik satu-satunya orang yang lewat di jalan itu pagi tadi. Mungkin adik melihat seseorang atau sesuatu yang mencurigakan di sekitar rumah Pak Sanjaya?”
Adi diam terpekur sejenak. Dia mencoba mengingat kembali perjalanannya saat mengantar koran di kompleks perumahan Alamsari, terutama ketika melewati rumah Pak Sanjaya. Saat itu suasana di kompleks perumahan masih sepi. Maklumlah, rata-rata penghuninya masih belum bangun.
Jalan di kompleks perumahan itu juga jarang dilewati kendaraan umum dan orang. Kecuali kendaraan milik para penghuninya, anak-anak sekolah, dan pedagang keliling yang menggunakan mobil atau gerobak. Itu pun kebanyakan di atas jam tujuh pagi.
Tiba-tiba Adi teringat sesuatu. “Oh ya, Bapak tadi bilang, pembantu itu melaporkan kejadian setelah melihat rumah itu dalam keadaan berantakan? Berarti dia datang ke rumah itu di atas jam tujuh, dong? Tapi, pagi tadi saya melihat pembantu itu sudah ada di depan rumah?” cetusnya.
“Ya! Dia juga sudah menceritakan hal itu. Pagi tadi dia memang datang lebih awal untuk memberitahu petugas satpam yang istrinya sakit. Mereka kebetulan bertetangga. Pembantu itu tidak masuk ke dalam rumah, tapi ikut pulang lagi…”
Adi terpekur lesu. Tadinya dia sempat curiga pada si pembantu, tapi ternyata pembantu itu punya alibi. Maksudnya, ia bisa menjelaskan keberadaannya, sehingga tidak bisa dituduh.
“Bapak-bapak sudah mengecek ke rumah Pak Satpam penjaga malam, apakah benar istrinya sakit?” tanya Adi kemudian.
“Sudah! Saat ini istrinya malah dibawa ke rumah sakit. Kami sebenarnya mencurigai orang dalam sebagai pelakunya. Atau kerja sama dengan orang luar. Tapi kelihatannya mereka punya alibi sangat kuat. Karena itu, kami ingin mencari kesaksian dari adik Adi. Atau mungkin adik ini…?”
“Bapak mencurigai saya?” potong Adi pucat pasi.
“Maaf! Dalam kasus ini, siapa pun patut dicurigai, terutama yang berdekatan atau ada di sekitar TKP saat kejadian berlangsung!”
Hati Adi ciut. Perasaannya jadi tidak karuan. Tapi karena dia yakin dirinya tidak bersalah, dia berusaha menghilangkan kegelisahannya. Ia lalu berpikir keras membantu memecahkan kasus ini. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
“Oh ya, saya ingat! Saya tadi sempat kembali ke Blok A untuk mengantar surat tagihan di depan rumah Pak Sanjaya. Saat itu baru pukul enam lebih limabelas menit. Saya melihat pembantu wanita itu sudah ada di rumah majikannya. Jadi dia hanya pulang sebentar untuk kembali lagi. Tapi yang saya heran, dia justru sedang menyapu lantai teras depan. Tak jauh dari rumah itu, ada sebuah mobil kijang diparkir. Saya tidak tahu, jam berapa dia menelepon ke kantor polisi…?” tuturnya.
Kedua polisi itu sejenak saling pandang. Wajah mereka tiba-tiba berbinar.
“Pembantu itu telah berbohong! Dia menelepon ke kantor polisi sekitar jam tujuh pagi. Kalau benar sekitar jam enam lebih limabelas menit dia sudah ada di rumah itu lagi, berarti beda waktu itu digunakan untuk melakukan aksi. Dia pura-pura menyapu di depan rumah untuk mengawasi keadaan, sementara teman-temannya di dalam sedang mengambil barang-barang berharga. Tak salah lagi, pembantu itu otak perampokan!” ujar salah seorang polisi.
Apa yang dikatakan polisi benar. Setelah ditangkap dan diinterograsi, pembantu wanita itu mengakui perbuatannya. Adi senang dan bangga karena bisa ikut membantu polisi memecahkan kasus kejahatan.
Langganan:
Postingan (Atom)