Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uang. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2014

Limapuluh Ribu Bisa Rekreasi





Mungkin demikian pertanyaan yang hinggap di benak orang. Zaman sekarang uang segitu mah hanya cukup buat makan satu orang sehari!

Tapi bagaimana kalau saya bilang, dengan uang 50 ribu bisa nraktir pacar sekalian ngajak rekreasi! Nggak percaya?

Coba simak baik-baik!

Rumah saya berada di kecamatan Tirtomoyo, sekitar enampuluhan kilometer dari kota Wonogiri. Jika mau ke Solo melewati kabupaten Wonogiri dan kabupaten Sukoharjo dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Jadi pulang pergi 3 jam!  

Nah, kita punya planning mengajak pacar berkunjung ke Taman Rekreasi Jurug yang berada di kota Solo. Kenapa Taman Jurug? Karena obyek wisata ini merupakan tempat rekreasi favorite warga Solo dan sekitarnya. Taman Jurug dibangun diatas lahan seluas 14 hektar dan mempunyai Kebon Binatang dengan koleksi binatang yang cukup banyak sekitar 200 ekor lebih.



Taman Jurug buka setiap hari dari pukul 08:00-17:00 WIB. Biaya tiket masuk ke Taman Jurug Rp 6.000,- per orang untuk hari biasa, Rp 7.000,- per orang untuk hari libur. Sedangkan untuk anak-anak hari biasa dikenakan tarif Rp 3.000,- sedangkan hari libur Rp 4.000,-.

Memasuki pintu gerbang Taman Jurug, kita disambut oleh pepohonan rindang yang menjadikan suasana teduh dan nyaman (pas banget buat yang lagi pacaran). Di Taman Jurug ini kita bisa berkeliling sambil melihat beraneka satwa. Salah satunya yang tampak gambar di bawah ini. (Sorry, Mbah. Foto selfie sampeyan saya pajang di sini)



Atau jika kita berani bisa juga mencoba pengalaman baru dengan menaiki gajah atau kuda yang ada di kebun binatang ini (tapi lihat saja sudah senang, kok!).



Sebenarnya sebelum sampai ke Taman Jurug kita sudah dapat rekreasi tambahan gratis berupa pemandangan Waduk Gajah Mungkur yang eksotis. Ya, jika kita mau ke Wonogiri atau ke Solo akan melewati kawasan alas Kethu yang berada di wilayah kecamatan Ngadirojo.



Dari sisi jalan raya sebelum memasuki kota Ngadirojo kita bisa sejenak berdiri di pinggir jalan menyaksikan hamparan air waduk GM amat luas yang ada di bawah sana. (Bagusnya kalau pas wayah (waktu) sunrise dan sunset! Wuih, romantis abisss…!!!)

Lalu, ke sana pakai apa?

Kebetulan ortu sudah beli YamahaFino F1 yang cukup handal dan irit. Dengan modal bensin 2,5 liter sudah bisa pulang pergi.



Terus makannya?

Nanti sebelum pulang mampir di warung hik yang banyak bertebaran di sepanjang pinggir jalan kota Solo. Ada salah satu warung hik yang murah meriah. Dengan uang sepuluh ribu rupiah kita bisa makan kenyang dengan lauk bergizi plus minum segelas teh manis. Pokoke, wuareg (kenyang) + wuenak tenannnn…!!!



Sekarang kita kalkulasi biayanya:

2,5 liter bensin  6500 x 2,5   = Rp. 16.250,-
2 tiket masuk Taman Jurug   = Rp. 12.000,-
2 porsi makan x Rp. 10 ribu  = Rp. 20.000,-
Jumlah total                          Rp. 48.250,-

Masih sisa Rp. 1.750,-. Buat apa ya?
Oya, lupa. Buat ngasih pengemis tua yang berpapasan di tengah jalan. Kasihan, mungkin dia belum makan. Beramal, meski sedikit ada pahalanya. Siapa tahu, nanti dapat rejeki lebih guedeee…! Amiiin!

Penasaran?
Coba saja!


16 Mei 2014

DAPATKAN SAHAM GRATIS DAN DEVIDEN PER BULAN TANPA BAYAR



Ini adalah media sosial terbaru dan tercepat menawarkan kesempatan kepemilikan saham bagi membernya. Saham akan bertambah jika tiap hari sign in atau mengundang teman. Dan kesempatan ini hanya berlaku sebelum ditutup pada 31 Mei 2014. Bulan berikutnya dilakukan pencatatan saham!

Bagaimana cara mendapatkan sahamnya setelah kita daftar? Simak mekanismenya berikut ini:

1. Aktivasi pendaftaran anda saat mendapat balasan email setelah mendaftar.
2. Sign in di Globallshare.
3. Klik pada panel (sebelah kiri) GAS-dunia: Kantor/dalam bahasa Inggris GAS-World: Web Office.
4. Setelah halaman terbuka, klik pada Aktifkan yang berwarna merah untuk berbagi saham gratis.
5. Untuk mengetahui jumlah saham anda, klik pada ikon Kantor yang berada di atas. Sebagai contoh jumlah saham saya bisa dilihat di bawah.
6. Untuk mendapatkan saham, buka pada ikon Undang. Di sana terdapat Link Referral yang bisa anda sebarkan melalui media sosial lain, blog, forum, dsb. Setiap berhasil mengajak 5 teman dapat 1 saham.
7. Dan sekarang setiap anda sign in tiap hari dapat tambahan 1 saham. Penawaran hanya berlaku sampai 31 Mei 2014.
8. Berapa nilai saham kita dan berapa deviden yang bisa didapatkan setiap bulan? Di bawah ini contoh laporan saham kita yang dikirim via email. (CATATAN: Saham yang kita miliki bisa dijualbelikan dengan perkiraan nilai harga seperti yang tersebut dalam laporan yang kita terima melalui email)


9. Saat mendaftar, anggota harus berusia minimal 18 tahun. (Bagi yang belum berusia 18 rubahlah tahun kelahiran anda. Kelak jika anda mencapai usia tersebut, anda bisa merubah data anda di panel profile).
10. Masih ragu? Jangan ikut! Tapi jangan nyesel jika suatu ketika teman anda yang sudah bergabung menceritakan baru dapat kiriman deviden jutaan rupiah dari Globallshare.
11. Pendaftaran gratis dan tidak ada biaya Up Grade dan lain sebagainya!
12. Jadi segera daftar di sini dan silahkan sign in tiap hari untuk mendapatkan tambahan saham. Semakin banyak saham, semakin besar devidennya!

Untuk info lengkap klik link di SINI !!!

11 Mei 2012

Lima Langkah Meraih Kesuksesan

Dalam perjalanan hidup manusia, yang namanya usaha atau perjuangan sudah pasti menjadi bagian yang tak terpisahkan. Perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan, kekayaan, popularitas, kedudukan, kemenangan, dan lain sebagainya. Bahkan untuk mendapatkan kekasih pujaan hati tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada usaha untuk memperjuangkan, entah dengan cara mudah atau cara sulit. Tapi apa pun bentuk usaha itu merupakan bagian dari romantika dan dinamika kehidupan! Ada lima hal yang perlu dicermati agar apa yang kita perjuangkan membawa hasil maksimal, setidaknya tercapai target atau tujuan. Diantaranya: 1.Persiapan / Perencanaan Segala sesuatu jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan diperlukan persiapan atau perencanaan matang. Jangan melakukan suatu tindakan/perbuatan/kegiatan yang tidak berdasar pada perencanaan dan persiapan. Pepatah mengatakan; sedia payung sebelum hujan, sehingga tidak akan terjadi nasi sudah menjadi bubur atau sesal kemudian tiada guna! 2. Pelajari Dalam menjalankan suatu usaha atau kegiatan, pelajari dulu situasi, kondisi, atau peta permasalahan yang dihadapi. Tentukan dulu skala prioritas dan target yang akan dicapai. Cari peluang dan kesempatan seefektif mungkin yang disesuaikan dengan bakat, kemampuan, ketrampilan, kompetensi dan kapabilitas kita. Jangan memaksakan diri mencapai target yang di luar kemampuan atau melenceng dari kapasitas pendidikan dan profesional. Sebagai contoh; jika seseorang bercita-cita menjadi pilot atau penerbang, akan sia-sia saja belajar di sekolah jurusan akuntansi. 3. Latihan Suatu keberhasilan akan tercapai bila diawali dengan latihan yang baik. Apa pun bentuk usaha/kegiatan dalam upaya mencapai keberhasilan mesti melewati proses latihan (training). Tidak ada keberhasilan dan kesuksesan tanpa proses. Semua mengikuti hukum sunatullah atau sebab akibat. Bersebab oleh latihan atau training, seseorang menjadi lebih tahu, lebih trampil, lebih kompeten dan kompatibel terhadap bidang yang dijalaninya. Pesohor sepak bola tak akan muncul begitu saja. Dia mesti melalui proses belajar dan latihan yang panjang. Dalam hidup ini tak ada istilah sekali jadi, pasti ada proses dan tahapan latihan yang mesti dilalui. Buah saja sebelum matang mesti diawali dengan bentuk mentah (istilah Jawa: penthil). 4. Ketekunan Jika sebuah usaha/kegiatan sudah dijalani, maka tinggal diasah dengan ketekunan. Walaupun perencanaan/persiapan sudah matang dan proses latihan dijalani, tetapi bila tidak diiringi dengan ketekunan maka hasilnya akan nihil. Banyak orang berhenti di tengah jalan atau gagal mencapai target yang diharapkan karena dihinggapi pesimisme dan putus asa. Mereka kurang tekun dan kurang sabar. Bahwa dalam sebuah perjuangan ada kegagalan atau kekalahan, itu bagian dari proses pematangan atau pendewasaan. Justru dari kegagalan itu bisa dilihat dimana kelemahan atau kekurangan kita. Karenanya resep ketekunan ini terus dipelihara agar upaya yang kita lakukan akan berbuah manis nantinya. 5. Kedisiplinan Salah besar bila kesuksesan atau kemenangan sudah diraih di tangan lantas kita akan selamanya dianggap kampiun. Kita akan terus berada di atas. Tidak! Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang menggoyang. Persaingan dan kompetisi akan terus berjalan. Kejatuhan siap mengintai di belakang. Banyak faktor dan sebab yang menjadikan seseorang jatuh. Kunci untuk mempertahankan apa yang telah dicapai adalah dengan kedisiplinan. Disiplin dalam memelihara prestasi yang dicapai, disiplin dalam latihan, disiplin dalam menjaga konsistensi, disiplin dalam profesionalisme, disiplin dalam menjaga semangat, dan disiplin dalam segala hal yang menyangkut usaha/kegiatan yang dijalankan. Demikian, semoga tips di atas akan banyak berguna dan bermanfaat bagi pembaca sekalian!

18 Desember 2011

Istri Suamiku

Cerpen ini dimuat di Majalah Diffa
Edisi No. 11 - November 2011


Perempuan yang duduk di hadapanku masih cukup muda. Umurnya sekira duapuluh lima tahun. Berpakaian sederhana dan memakai make up sederhana pula. Rambutnya yang lurus panjang diikat ke belakang. Meski penampilannya sangat sederhana terpancar keayuan dan kelembutan. Tutur katanya pun halus dan sopan, sehingga tak terkesan dia perempuan jalang.

Tapi perempuan muda inilah yang telah merebut mas Bambang, suamiku. Ya! Dia telah memikat hati suamiku, sehingga laki-laki yang sudah beranak dua itu lupa diri. Aku tak tahu, siapa diantara mereka yang lebih dulu memulai merayu sehingga tercipta hubungan gelap itu. Yang jelas, mereka telah mengkhianati aku. Mereka membokong aku dari belakang.

Mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah tahu tindakan suamiku yang bermain api di belakangku, andai saja perempuan ini tidak datang kepadaku dan mengakui bahwa dirinya telah dinikahi mas Bambang setahun lalu. Aku sendiri heran, kenapa perempuan muda ini nekad menemuiku? Dia menceburkan dirinya ke sarang macan. Namun dia punya alasan kuat atas tindakannya ini.

Kedatangannya ke sini tak lain hendak menuntut pertanggung jawaban suamiku. Sudah berkali-kali dia menghubungi mas Bambang, tapi laki-laki itu selalu menghindar. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang, mas Bambang telah mencampakkannya setelah menikmati manis madunya. Kenyataan itulah yang mendorong Sari, demikian nama perempuan itu, nekad menemuiku. Tanpa ragu dan takut lagi, dia menceritakan apa yang terjadi.

“Saya tahu, ibu pasti sangat shock dan sakit hati atas kenyataan ini. Tapi kebenaran ini harus diungkap. Saya tak bisa selamanya hidup dalam kebohongan. Saya pun tak ingin dianggap perusak rumah tangga orang. Saya menikah dengan mas Bambang secara sah. Kami menikah di depan penghulu. Mas Bambang mengaku kalau dirinya masih bujang. Jadi tak ada alasan bagi saya dan orangtua saya menolaknya. Apalagi saat itu mas Bambang berperilaku baik dan berjanji akan mengayomi saya…,” tutur Sari dengan suara tenang.

Bencana ini berawal dua tahun silam. Saat itu mas Bambang mendapat tugas ke daerah pelosok sebagai tenaga pengajar. Waktu itu aku dan anak-anak tak bisa ikut, karena situasi yang tak memungkinkan. Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku sementara anak-anak tak mau pindah sekolah. Akhirnya, kami harus hidup terpisah selama dua tahun.

Mas Bambang pulang seminggu sekali menengok kami yang tinggal di kota. Tapi pernah sampai tiga bulan mas Bambang tidak pulang. Aku sendiri tidak curiga atau menaruh prasangka buruk. Aku percaya mas Bambang akan menjaga kesetiaannya. Aku tak menyadari bila hati mas Bambang yang kesepian di tempat terpencil itu telah tertambat pada seorang gadis desa!

Ketika mas Bambang kembali dimutasi ke kota, aku merasa sangat senang. Kami bisa berkumpul lagi seperti sedia kala. Saat itu aku tak menaruh curiga sama sekali bila suamiku kembali dalam keadaan tidak utuh. Sebagian hatinya telah diberikan pada perempuan lain. Aku tak tahu, apakah aku harus marah, kecewa, sedih, atau bagaimana setelah mendengar pengakuan Sari.

Selama ini bahtera perkawinan yang kami arungi berjalan lancar tanpa pernah ada badai yang mengoyak. Aku mencintai suamiku, begitu pun sebaliknya. Apalagi setelah kami dikaruniai dua orang anak yang manis-manis. Kebahagiaan hidup kami rasanya telah sempurna. Mas Bambang orangnya baik, pendiam, lembut, dan tak pernah menyakiti hati istri maupun anak-anaknya. Banyak perempuan yang iri kepadaku.

Tapi sekarang, dengan kenyataan pahit ini, semua keindahan dalam kehidupan rumah tangga kami seolah sirna seketika. Mukaku seperti tertampar keras. Aku tak tahu, bagaimana harus menyembunyikan aib yang memalukan ini. Bagaimana perasaan anak-anakku bila mengetahui ayah yang mereka puja selama ini menyimpan kebusukan?

Aku sebenarnya ingin marah dan mencakar muka perempuan ini, tapi aku mencoba menahan diri. Aku tidak ingin terlihat kampungan dan merendahkan diriku sendiri bila berbuat seperti itu. Kemarahanku tidak akan merubah apa yang telah terjadi. Lagi pula, kesalahan ini tidak mutlak terletak pada Sari. Kulihat ia pun memendam beban yang berat. Ekspresi wajahnya menyimpan penderitaan!

“Maaf, Bu. Kedatangan saya ke sini bukan untuk mengacaukan kehidupan keluarga ibu. Saya hanya ingin menuntut hak saya. Sudah lima bulan lebih mas Bambang tidak menafkahi saya. Apalagi sekarang saya sudah mengandung. Saya tahu, mas Bambang tidak mau mengakui pernikahan kami karena dia terganjal oleh peraturan di kantornya. Dia juga tidak ingin meninggalkan keluarganya. Tapi bukan itu yang saya tuntut, Bu. Jika sekiranya mas Bambang tidak ingin meneruskan pernikahan kami, dia harus menceraikan saya secara baik-baik. Dia harus memenuhi kewajibannya terhadap saya dan calon anaknya ini. Saya tidak ingin hidup terombang-ambing. Orang-orang di kampung banyak yang mencemooh dan mencibir saya, karena saya hidup tanpa suami. Hal itu sudah cukup membuat saya menderita….,” lanjut Sari dengan suara serak.

Ia seperti ingin menangis, tapi ditahannya sehingga tampak memerah pipi dan kupingnya. Aku tertegun.

Entah kenapa, tiba-tiba kemarahan yang tadi membara dalam dadaku mendadak luruh. Pengakuan Sari yang dituturkan dengan polos membuka pintu kesadaran dalam diriku. Bisa kupahami apa yang dirasakan Sari. Sebagai sesama perempuan aku tahu, bagaimana pedihnya hati disakiti dan dikhianati. Aku mencoba berpikir jernih dan berdiri dalam posisi seperti Sari.

Mungkin Sari hanya sekadar sebagai korban. Seperti halnya diriku, dia telah dikadalin oleh mas Bambang. Dia telah tertipu oleh pesona mas Bambang. Seharusnya mas Bambang tahu kalau dirinya sudah berkeluarga. Kenapa dia nekad menikahi Sari? Apa pun alasannya, mas Bambang telah berbuat salah. Dia telah mengkhianati istri dan anak-anaknya.

“Apakah kamu mencintai mas Bambang?” Tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan itu pada Sari.

Perempuan itu mendongak, sejenak memandangku penuh kegalauan. Dia lalu menundukkan kembali kepalanya. Dengan agak ragu-ragu ia berkata, “Ya, Bu. Saya mencintainya. Tapi….”

“Tapi kenapa?” kejarku.

“Saya tahu, mas Bambang sangat mencintai keluarganya. Mas Bambang juga sangat mencintai ibu. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga ibu, saya rela berpisah dengan mas Bambang. Saya berjanji tidak akan mendatangi ibu lagi setelah mas Bambang menyelesaikan urusannya dengan saya. Setelah ini saya akan hidup sendiri sambil merawat anak dalam kandungan ini…”

Aku tercenung. Perempuan ini tampak begitu tegar. Ia rela berpisah dengan orang yang dicintai. Aku tahu, mungkin akan sangat berat baginya hidup sendirian menanggung beban seorang anak. Apalagi dia hanya perempuan desa miskin yang tak memiliki penghasilan. Haruskah aku mengalah, karena aku sendiri tak sanggup hidup berbagi dengan perempuan lain? Tapi… ah, begitu peliknya persoalan ini!

“Baiklah. Kamu boleh pulang. Nanti aku yang akan bicara dengan mas Bambang. Aku akan membujuknya,” kataku akhirnya.

“Terima kasih, Bu.”

Perempuan itu lalu pergi dari hadapanku. Hatiku seperti disiram jarum gerimis.
***

Ketika aku bertemu dengan suamiku di rumah, hati ini tidak karuan rasanya. Ingin sekali aku melampiaskan emosi kemarahan yang meluap-luap, namun aku berusaha menahan diri. Aku tak ingin menimbulkan kehebohan di rumah. Aku tak ingin anak-anakku tahu tentang apa yang terjadi. Jiwa mereka masih terlalu rapuh untuk menerima kenyataan pahit ini. Aku harus menjaga perasaan mereka.

Maka, sambil menekan perasaan yang penuh lebam, aku mengajak bicara suamiku di dalam kamar. Tanpa basa-basi aku menceritakan tentang kedatangan Sari. Suamiku tampak terkejut. Dia menundukkan kepalanya, tak berani menatapku. Selama aku mengatakan apa yang kudengar dari Sari, tak sekalipun mas Bambang membantahnya. Hal ini makin menguatkan keyakinanku bahwa apa yang dikatakan Sari benar. Luka dalam hatiku semakin menganga!

“Sekarang mas boleh pilih. Antara aku atau dia!” ujarku akhirnya memberi ultimatum.

Tiba-tiba mas Bambang bersimpuh di bawah kakiku sembari memohon.

“Maafkan aku, Yan. Semua ini terjadi karena kekhilafanku. Tak sedikit pun ada maksud hatiku ingin mengkhianatimu. Aku sangat mencintaimu, Yan. Aku mencintai anak-anak. Aku tak ingin berpisah dengan kalian,” tuturnya terbata-bata.

“Tapi bagaimana dengan nasib Sari dan bayi yang dikandungnya? Apakah mas ingin mengabaikan tanggung jawab pada mereka?”

“Aku akan menceraikan Sari, Yan. Aku lebih memilih kamu dan anak-anak!”

Aku tersenyum sinis. “Laki-laki memang egois dan ingin menangnya sendiri! Begitu mudahnya mas mempermainkan hati perempuan. Tidakkah mas sadar, tindakan mas meninggalkan Sari dan anak dalam kandungannya juga sangat menyakitkan? Tidakkah mas berpikir bagaimana kehidupan mereka nanti? Mas sungguh tidak adil! Mas hanya ingin mencari enaknya sendiri. Setelah mas mengecap manis madu Sari sebagai gadis desa dan menanamkan benih di rahimnya, sekarang mas tinggalkan dia begitu saja. Mas tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!” kecamku.

“Lalu, aku harus bagaimana, Yan? Bukankah kau suruh aku untuk memilih?” tukas mas Bambang tampak bingung.

Aku diam sebentar sambil menggigit bibirku dan menahan lahar yang hendak menjebol dinding ketegaranku. Dengan menarik satu napas dalam, aku kemudian berkata, “Ceraikan aku, Mas!”

“Apa???” Mas Bambang tersentak kaget.

“Ceraikan aku. Titik!” tandasku.
Mas Bambang mendesah panjang sambil menggeleng. Kulihat bola matanya berkaca-kaca. Pecah menjadi beling menancap dalam batinku. Perih!
***

Aku sudah pikirkan matang-matang ketika memutuskan untuk bercerai dari mas Bambang. Meski pahit, tapi ini adalah harga yang harus ditebus atas semua yang terjadi. Aku tahu, ini sangat berat. Bukan untuk hatiku sendiri, tapi juga anak-anak. Aku tak peduli, orang akan menganggap aku terlalu emosional dan tidak memikirkan perkembangan jiwa serta masa depan anak-anakku. Justru aku ingin melatih anak-anakku untuk menerima kenyataan pahit ini. Mereka mesti tahu, bahwa hidup ini tidak selamanya mulus dan berisi keindahan.

Lebih baik mereka mengecap buah pahit kehidupan dari pada harus hidup dalam bayang-bayang kepalsuan dan kebobrokan. Agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat dan tegar. Tidak lemah dan cengeng menghadapi badai atau prahara. Apalah artinya mereka hidup utuh sebagai sebuah keluarga, tapi di balik itu ada kebobrokan yang tersimpan. Aku tidak bisa hidup berpura-pura, menganggap seolah tidak terjadi apa-apa.

Mungkin ada solusi yang lebih fair, aku berbagi suami dengan Sari demi menjaga keutuhan keluargaku. Karena hal itu diperbolehkan oleh agama. Tapi sekali lagi, hatiku tak sanggup melakukannya. Bukan aku tak mau berkorban, tapi kurasakan hal itu hanya akan memperbesar beban dalam hatiku. Aku tak sanggup hidup dengan bayangan perempuan lain dalam pelukan suamiku. Lagi pula aku tak yakin, mas Bambang bisa bersikap adil untuk membagi cinta dan perhatiannya!

Selama ini aku sudah mampu hidup mandiri, tanpa bergantung pada suami. Aku punya pekerjaan dan sanggup menghidupi anak-anakku, meski tanpa suami. Jadi tak ada masalah jika aku harus berpisah dengan mas Bambang. Justru aku ingin memberikan kesempatan mas Bambang untuk menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada Sari dan bayi yang dikandungnya. Mereka lebih membutuhkan kehadiran mas Bambang dari pada diriku! (*)