Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

30 April 2015

BUKU BARU 2015 : MENANTI LELAKI DARI SURGA

https://www.facebook.com/pages/Penerbit-UNSA-Press/294418560721994?fref=ts

BUKU BARU 2015

Judul      : Menanti Lelaki dari Surga
Penulis   : Eko Hartono (20 Tahun Berkarya)
Jenis       : SASTRA/KUMCER
ISBN       : 978-602-71176-4-8
Penerbit : UNSA Press
Terbit     : Cetakan 1, 2015
Tebal      : vi x 116 hlm.
Harga     : Rp 36.000 (BEBAS ONGKOS KIRIM)


Pesan inbox admin fan page Penerbit UNSA Press dengan menuliskan : Judul buku+nama+alamat+kodepos+no. HP
Pengiriman menggunakan pos kilat khusus.

10 Juni 2013

Kemenangan Durgandini



 
repro: wayang.wordpress.com
Cerpen ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu 9 Juni 2013

Oleh Eko Hartono

            Sejenak suasana di ruangan itu berubah hening. Tak ada suara. Bahkan udara pun seakan berhenti mengalir. Durgandini bisa merasakan sesak dalam dadanya menahan gemuruh perasaan tak karuan. Ia sadar telah melakukan permainan berbahaya. Ia sedang berjudi dengan nasibnya.
            Masih jelas terngiang ucapan yang belum lama keluar dari bibirnya. Ia meminta syarat untuk dijadikan prameswari tanpa ada selir di sampingnya. Ia juga meminta hanya anak keturunannya yang berhak mewarisi tahta Astina. Syarat itu sebagai jawaban atas pinangan Prabu Sentanu.
            Mungkin orang akan bilang, siapa kamu Durgandini? Hanya seorang perempuan miskin. Bahkan statusmu bukan perawan lagi. Kamu sudah pernah bersuami dan memiliki seorang anak. Jika ada sesuatu pada dirimu yang bisa dibanggakan adalah kecantikan wajahmu dan harum tubuhmu!
            Itulah, Durgandini ingin memanfaatkan kelebihannya. Siapa laki-laki di dunia ini yang tak tertarik pada perempuan ayu dan wangi? Hanya laki-laki wandu yang tak bergetar hatinya melihat perempuan secantik Durgandini. Namun ada rasa bimbang membelit hati Durgandini mengingat Prabu Sentanu adalah seorang Raja di sebuah kerajaan besar. Laki-laki itu bisa mendapatkan seribu perempuan seperti dirinya.
            Tapi resi Dasabala, ayah angkatnya, menenangkan hatinya. Boleh ada seribu bahkan sejuta perempuan seperti Durgandini tapi tidak ada yang memiliki wahyu kedaton. Begitulah yang dikatakan resi Dasabala. Meski pernah mengalami nasib buruk dibuang oleh keluarganya dan terlunta-lunta hidupnya, tapi Durgandini diramalkan akan melahirkan raja-raja besar!
            Itulah yang membuat Durgandini merasa yakin dan percaya diri. Ia bakal bisa menaklukkan hati Prabu Sentanu, lebih dari itu membuatnya seperti kerbau dicocok hidungnya. Namun tetap saja ada rasa masygul membayangi hati Durgandini menyaksikan Prabu Sentanu diam untuk beberapa lama. Dia sepertinya sedang berpikir keras dan mempertimbangkan permintaan Durgandini.
            Kebekuan itu akhirnya mencair setelah Prabu Sentanu mengeluarkan suaranya.
            “Baiklah, Dewi Durgandini. Pada prinsipnya aku tak keberatan, tapi aku mesti berembug dulu dengan Dewabrata, putraku. Karena sebagai putra mahkota dia yang berhak menentukan,” kata sang Prabu.
            Setelah itu dia berpamitan pulang. Durgandini mengantarnya sampai di depan pintu. Ia menghembus napas panjang ketika bayangan laki-laki itu hilang di ujung jalan. Keresahan tiba-tiba menyergap hati Durgandini. Bagaimana kalau Dewabrata tak setuju dengan keinginan ayahnya? Bagaimana kalau putra mahkota itu menentang syarat yang diajukannya? Siapa sih, yang rela melepaskan kekuasaan dari tangannya?
            Durgandini tak bisa menyembunyikan keresahan ini di hadapan Dasabala. Tapi sekali lagi Dasabala berusaha meyakinkan hati putri angkatnya.
            “Tak usah cemas, Nduk! Dewabrata bukanlah laki-laki ambisius. Dia sangat berbakti kepada orang tuanya. Dia pasti akan menyetujui permintaan ayahnya. Dia tidak akan menentang!” Demikian tegas Dasabala.
            “Tapi bagaimana dengan Sang Prabu sendiri. Kudengar dia sangat menyayangi Dewabrata. Dia tentu tak ingin melukai hati putranya? Dia pasti akan berpikir ulang untuk meneruskan niatnya memperistriku?” cetus Durgandini masih galau.
            “Percayalah! Itu tidak akan terjadi. Aku sudah makan asam garam kehidupan. Aku hapal tabiat laki-laki. Ketika dia sudah memegang harta dan kekuasaan, maka akalnya akan berpindah ke bawah perutnya. Dia akan memburu kesenangan duniawi satunya, yakni perempuan! Dia tidak akan pernah melepaskanmu!”
            “Tapi, Bapa…?”
            “Sudahlah, Durgandini. Yakinlah pada bapa. Tali kendali kekuasaan kini ada di tanganmu. Sejatinya Prabu Sentanu bukan lagi seorang raja tapi hambamu. Manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan ini!”
            Durgandini tercenung. Kata-kata ayahnya membesarkan hatinya.
            Apa yang dikatakan Dasabala benar. Tak berapa lama datang utusan dari kerajaan Astina menyampaikan pesan dari Sang Prabu. Mereka akan menjemput Durgandini karena Prabu Sentanu berkenan memenuhi syaratnya. Dewabrata bersedia menyetujui permintaannya. Hati Durgandini senang bukan main. Tapi ia tak serta merta menerima semua ini.
            Ia tahu, kendali kekuasaan kini ada di tangannya. Ia lalu mengatakan kepada sang utusan bahwa dirinya tidak akan datang ke istana Astina jika bukan Dewabrata sendiri yang datang menjemputnya. Durgandini juga meminta Dewabrata menjemputnya dengan kereta kencana. Ia ingin mendapat keyakinan bahwa Dewabrata benar-benar tulus dengan persetujuannya. Lebih dari itu, ini merupakan bentuk lain dari penaklukan.
            Akhirnya, sang utusan pulang. Beberapa hari kemudian Dewabrata datang dengan kereta kencana seperti yang diminta Durgandini. Sumringah membias di wajah perempuan itu. Perasaannya semakin dilambung ke awan. Dadanya sesak oleh rasa kebanggaan. Namun kehormatan itu ternyata tak cukup baginya. Ambisi yang meluap dalam dadanya membutakan mata hatinya.
            “Baiklah, Dewabrata. Aku terima persembahanmu. Namun aku masih punya satu syarat lagi yang harus kamu penuhi,” kata Durgandini dingin.
            “Apa itu, Dewi?” tanya Dewabrata.
            “Aku minta kamu menjadi wadag. Tidak akan menikah dengan perempuan mana pun seumur hidup. Bagaimana?”
            Dewabrata tertegun. Sejenak ia menatap perempuan di hadapannya dengan sorot tak mengerti. Entah, syetan apa merasuki jiwa perempuan ini sehingga dia mengajukan permintaan segila itu? Tapi Dewabrata segera menepis rasa ciut hatinya. Demi kebahagiaan orang tua yang dikasihinya dia rela melakukan apa saja. Tanpa ragu lagi dia pun menganggukkan kepala. Menyetujui permintaan Durgandini.
            Dan Durgandini pun tak bisa menahan lagi senyum kemenangannya! (*)

Tirtomoyo - Wonogiri
Mei 2013

03 Juni 2013

Lukisan Dan Permen



Cerpen ini dimuat di Harian Republika, Ahad 5 Mei 2013

 
            Di pinggiran kota, tepatnya di bawah jembatan layang, berdiri sebuah gubuk reot terbuat dari potongan papan dan seng. Penghuninya sepasang suami istri parobaya yang tidak memiliki anak. Parno dan Wartini.
            Parno, sang suami, bekerja sebagai pemulung. Tapi dia bukan pemulung sembarangan. Dia memulung air mata dan serpihan hati orang-orang yang sedang diliputi kesedihan, kemalangan, dan penderitaan. Dia tak segan mendatangi orang-orang yang sedang menangis di beberapa tempat, khususnya di rumah sakit dan rumah duka. Dengan santun dia meminta ijin menampung tetesan air bening yang keluar dari mata mereka.
            Mulanya orang-orang agak risih dan jengah saat Parno berniat mewadahi air mata mereka. Pikir mereka, Parno benar-benar gila. Buat apa air mata ditampung? Kurang kerjaan saja! Tapi kemudian mereka berpikir, apa salahnya. Mereka toh tak memerlukan air mata itu. Mereka bahkan terbantu dengan pekerjaan Parno. Mereka tak memerlukan berlembar-lembar tisu untuk menghapusnya, cukup ditampung di mangkok yang dipegang Parno.
            Jika air mata yang dikumpulkan sudah banyak, Parno lalu membawanya pulang. Sesampai di rumah Wartini, sang istri, sudah siap dengan panci dan tungku pembakar. Wanita itu tiap hari membuat permen. Bahannya terdiri dari air mata yang dikumpulkan suaminya. Begitulah, Parno dan Wartini bekerja sama membuat permen. Hasil produksi mereka dipasarkan pada warga sekitar, terutama kepada anak-anak jalanan.
            Ada kelebihan dan keistimewaan dari permen buatan pasangan suami istri itu. Selain rasanya enak dan lezat, juga tahan lama karena tanpa bahan pengawet. Lebih dari itu, konon siapa saja yang menghisap permen buatan mereka dijamin tahan banting. Maksudnya, tidak gampang sedih, sakit, kecewa, atau frustrasi. Yang ada hanya perasaan senang dan bahagia. Meskipun dihantam persoalan seberat apa pun tidak akan down!
            Selain mengumpulkan air mata, Parno juga mengumpulkan serpihan hati orang-orang yang sedang berduka. Dia kerap menemukan serpihan hati itu berserakan di jalan, taman, mal, pasar, dan di mana-mana. Sepertinya di kota ini banyak orang yang sedang hancur hatinya, entah oleh sebab apa. Mereka membuang puing-puing hati mereka di mana saja. Hati yang seharusnya menjadi rahasia pribadi dibiarkan berceceran tak terawat.
            Oleh Parno serpihan hati itu dikumpulkan lalu dirangkai kembali menjadi lukisan mozaik yang indah. Parno dan istrinya berpengalaman merawat hati, karena sebagai orang miskin mereka kerap berhadapan dengan berbagai kesulitan hidup. Mereka sering dihina, direndahkan, dan tidak dihargai. Tapi mereka tak pernah berkecil hati. Meski hati mereka kadang sedih, sakit, dan hancur, namun mereka mampu menjaga agar kepingan hati mereka tidak berserakan. Mereka menguatkan kembali hati mereka dengan kesabaran, ketabahan, dan ketegaran.
            Lukisan yang terbuat dari serpihan hati dijual kepada siapa saja. Parno memajang hasil karyanya di pinggir jalan agar semua orang bisa menyaksikan. Beberapa dari mereka ada yang tertarik dan membelinya. Ada keistimewaan tersendiri dari lukisan hasil karya Parno. Siapa saja yang memandangi lukisan itu akan merasakan ketentraman dan kesejukan. Hati mereka seakan diliputi kedamaian. Tak ada lagi rasa susah, sedih, dan kecewa. Semua perasaan seakan tersedot ke dalam lukisan itu.
***
            Akhir-akhir ini Parno dan Wartini kebanjiran pesanan. Entah, siapa yang memberitahu tentang keajaiban permen dan lukisan hasil karya mereka. Mungkin dari mulut ke mulut, setelah ada yang merasakan keajaiban dari karya mereka lalu memberitahu kepada yang lain. Anehnya, pesanan itu bertepatan dengan hiruk pikuk pesta demokrasi Pemilukada.
            Parno sendiri tak curiga kenapa banyak orang membeli permen dan lukisan karyanya. Dia sempat bertanya pada salah seorang pemesan.
            “Wah, banyak sekali pesanan bapak. Kalau boleh tahu, untuk siapa pesanan itu?” tanya Parno.
            “Ini pesanan bos saya, Mas. Beliau sangat terkesan dengan hasil kerajinan sampean dan berniat membagi-bagikan pada rakyat kecil!” jawab orang itu.
            Mendengar keterangan itu Parno merasa senang. Dia terkesan dengan maksud pemesan barangnya yang berniat membagikan pada rakyat kecil. Hal ini memberikan kesan bahwa dia orang baik-baik. Parno memang bercita-cita agar produk permen dan lukisan hasil karyanya bisa dinikmati semua lapisan masyarakat, khususnya rakyat kecil. Agar mereka merasa bahagia dan tidak terbebani oleh berbagai persoalan hidup yang menghimpit.
            Tapi banyaknya pesanan membuat Parno dan istrinya cukup kewalahan juga. Siang malam mereka bekerja keras. Parno sampai bingung ke mana lagi mencari air mata dan serpihan hati, karena hampir semua tempat telah didatangi. Air mata dan serpihan hati makin langka didapat. Bahkan meski dibantu oleh beberapa tenaga upahan, Parno tak mendapatkan banyak air mata dan serpihan hati. Mungkin ini dampak dari membeludaknya penjualan permen dan lukisan!
            Banyak yang telah mengonsumsi permen dan lukisan hasil karyanya, sehingga semua orang merasa senang dan bahagia. Tak ada lagi yang sedih, susah, dan menderita. Meski hidup dililit banyak masalah, tetapi dengan menikmati permen dan lukisan hasil karyanya, semua menjadi sirna. Kenyataan ini semestinya membuat Parno dan istrinya bahagia. Kini tak ada lagi pemandangan orang menangis dan murung di mana-mana!
            Tapi tidak! Parno dan istrinya justru sedih. Bukan karena mereka sudah kehilangan mata pencaharian, tapi karena mereka merasa tertipu. Mereka tak menyangka bila permen dan lukisan karya mereka dijadikan komoditas politik. Pemborong permen dan lukisan ternyata para calon kepala daerah. Mereka sengaja membagikan permen pengubah rasa sedih dan duka, lukisan pembebas masalah, kepada para konstituennya agar mereka lupa sejenak terhadap berbagai persoalan yang menggayuti hidup mereka.
            Para kandidat kepala daerah sengaja ingin mengelabui masyarakat dengan cara memanipulasi perasaan. Mereka diiming-imingi berbagai program yang manis dan menjanjikan. Karena sudah dipengaruhi oleh keajaiban permen air mata dan lukisan serpihan hati, sehingga mereka tak terlalu peduli dan kritis terhadap program-program yang ditawarkan. Mereka dipaksa melupakan penderitaan, kemiskinan, kelaparan, dan segala persoalan yang menghimpit hidup mereka.
            Anehnya, masyarakat merasa tidak ditipu atau dibodohi. Hal ini dikarenakan jiwa mereka telah terpengaruh oleh permen dan lukisan pengubah rasa. Kenyataan ini sangat disesali Parno dan istrinya. Mereka lalu berhenti memproduksi permen dan lukisan. Mereka tak mau dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang mengeruk kepentingan pribadi di atas penderitaan rakyat kecil. Diam-diam mereka pergi meninggalkan gubuk reot itu.
            Tak ada yang tahu, di mana keberadaan mereka sekarang. Ada yang bilang mereka bersembunyi di sebuah tempat terpencil dan jauh dari kota. Tapi ada pula yang bilang mereka telah dibunuh oleh pihak yang menginginkan resep membuat permen dan lukisan ajaib pengubah rasa. Karena menolak akhirnya nyawa mereka dihabisi. Mayat mereka dibuang ke hutan. Entah benar atau tidak kabar itu, wallahu alam. Yang jelas mereka telah menghilang! (*)


18 Desember 2012

Cerpen: Siapa Mau Percaya

Jangan terkejut kalau aku bercerita tentang kisah berikut ini. Mungkin kamu tak akan percaya. Kamu akan mengatakan hal itu hanya omong kosong dan bualan saja. Tak mungkin terjadi! Cuma rekayasa, sandiwara, fiktif, tidak rasional, tidak realistis, dan banyak lagi komentar yang akan bermunculan. Tapi intinya satu; tak ada yang mempercayainya!

Begitulah tanggapan orang-orang saat aku menceritakan kisah ini. Walau demikian aku tak akan pernah berhenti untuk bercerita, terutama kepada mereka yang belum pernah mendengarnya. Meski pada akhirnya; tak ada yang mau mempercayai ceritaku. Hal itu tak akan membuatku kecewa dan sedih. Bagiku, bisa menceritakan semua ini sudah cukup melegakan, setidaknya membuatku tidak memikul beban rasa bersalah sepanjang hidup.

Pertama, aku ingin menceritakan tentang jati diriku. Terlahir sebagai anak petani yang miskin, aku hanya bisa mengecap pendidikan hingga sekolah dasar. Ketika usiaku menginjak limabelas tahun, seorang kerabat membawaku pergi ke kota. Mulanya aku diajak bekerja di proyek bangunan, tapi karena tak betah berjemur terik matahari dan tak kuat bekerja berat, aku memilih berhenti.

Seorang teman lalu menawari aku bekerja di rumah keluarga kaya sebagai pembantu. Gajinya kecil. Tapi makan dan tidur di dalam. Aku menerimanya. Rumah keluarga kaya itu benar-benar besar dan mewah, dikelilingi pagar tembok setinggi empat meter. Mirip kraton. Suasana di dalam rumah sangat sejuk. Semua perabotan tertata rapi dan bersih.

Keluarga kaya itu terdiri dari sepasang suami istri dengan dua anak yang sudah besar. Mereka sangat sibuk sekali. Hampir tiap hari sang suami pergi ke kantor dari jam delapan pagi hingga delapan malam, terkadang beberapa hari tidak pulang. Sementara istrinya juga kerap pergi keluar, entah itu arisan, shoping, menghadiri undangan, dan lain-lain. Kedua anaknya apalagi. Status sebagai pelajar dan mahasiswa hanya sebagai gengsi saja, karena mereka lebih sering pergi ke diskotik atau tempat hiburan dari pada ke sekolah. Waktu mereka lebih banyak tersita untuk pesta dan hura-hura.

Kupikir orang yang berpendidikan, kaya, dan terpandang seperti mereka berperilaku santun dan beradab seperti bayanganku tentang sosok priyayi atau bangsawan. Ternyata semua itu keliru. Aku sangat kaget ketika mendengar mereka berbicara dengan bahasa preman jalanan saat memerintah, marah, kesal, atau sedang bertengkar. Kata umpatan seperti; bajingan, anjing, bangsat, bego, tai, lonte, brengsek, perek, jahanam, celeng, dan lainnya kerap terlontar.

Meski aku hanya orang udik dan tak berpendidikan, tapi orangtuaku selalu mengajari berbicara dan berperilaku sopan santun kepada orang lain, apalagi kepada orang yang lebih tua. Sungguh, aku hampir-hampir tak percaya. Padahal mereka termasuk keluarga public figure. Aku tahu hal ini, karena saat nonton televisi aku pernah melihat tampang tuan dan nyonya menghiasi layar kaca. Aku sampai bersorak gembira.

“Lihat, mbok. Itu kan wajah tuan dan nyonya. Kok bisa ya, masuk tivi?” ujarku pada Mbok Inah, pembantu yang sudah lama mengabdi di rumah itu.

“Dasar, ndeso! Katrok! Apa kamu tidak tahu, bapak dan ibu itu orang penting. Mereka orang terpandang, sering diwawancara sama tivi!” tukasnya.

Aku manggut-manggut. Aku agak bingung dengan istilah orang terpandang dan penting. Aku juga bingung dengan pembawaan majikanku yang amat kontras saat tampil di televisi dan di rumah. Di layar kaca mereka terlihat berwibawa, anggun, santun, ramah, dan familier. Ini sangat bertolak belakang dengan pembawaan mereka di rumah. Bahkan dalam hal berperilaku.

Di layar kaca atau di muka umum mereka fasih bicara tentang iman, cinta kasih, kejujuran, transparansi, demokrasi, dan idiom bijak lainnya. Seakan mereka sosok dai atau rohaniawan. Siapa pun pasti terkesan dan terpukau pada mereka. Tapi di mataku, mereka tak ubahnya pemain sinetron, pemain sandiwara. Mereka pandai menyembunyikan watak aslinya. Betapa muak dan menjijikkan tingkah mereka.

Dengarlah. Suatu hari, ketika tuan dan anak-anaknya tidak ada di rumah, nyonya majikan membawa pulang seorang pemuda ganteng. Mereka tampak bergandengan mesra memasuki kamar. Nyonya majikan memanggilku dan meminta dibuatkan minuman. Saat minuman kuantar ke kamarnya, mataku terbelalak. Saat itu pintu tak terkunci dan kulihat nyonya majikan sedang bercinta dengan pemuda itu. Aku hendak berlalu pergi, tapi nyonya majikan memanggilku dan menyuruh masuk.

Aku jadi kikuk dan jengah melihat sepasang manusia berperilaku seperti binatang. Mereka malah tertawa terkikik melihatku tersipu malu. Nyonya majikan menyerahkan sebuah handycam dan memintaku merekam adegan mesum mereka. Aku sudah menolak, tapi nyonya majikan marah-marah dan mengancam akan menembakku. Akhirnya, kuturuti permintaannya. Badanku panas dingin dan jiwaku terguncang hebat melakukan semua ini.

Tapi yang lebih edan lagi perilaku kedua anak majikan. Si sulung yang sudah mahasiswa itu pernah mengajak teman-temannya party di kamarnya. Mereka menghisap shabu-shabu. Aku dipaksa ikut nyabu. Aku tak berdaya. Saat aku teler, mereka mempreteli pakaianku hingga telanjang. Kedua tanganku diikat dan diletakkan di dinding. Mereka ramai-ramai memotret dan merekam gambarku dalam video ponsel. Betapa malunya aku!

Sementara anak bungsu majikan yang masih gadis dan duduk di bangku SMA tampaknya memiliki penyimpangan. Dia sering menyuruhku pergi menyewa DVD porno. Dia menyetelnya sendirian di dalam kamar. Bisa seharian dia tidak keluar kamar. Dia juga pernah menyuruhku membeli alat-alat pemuas libido di sexshop. Aku jadi malu saat berhadapan dengan pelayan toko. Dia menatapku dengan pandangan mata aneh.

“Enggak salah beli yang ini, Mas?” celetuknya seolah meragukan identitasku.

“Bukan. Itu pesanan teman… perempuan,” jawabku gugup.

“Oo…!”

Begitulah. Di rumah itu selain sebagai jongos dan gedibal, aku sering diperlakukan seperti binatang. Aku sebenarnya tak betah dan ingin keluar dari rumah itu, tapi majikanku menolak. Mereka tampaknya membutuhkan pembantu polos, lugu, dan penakut seperti aku. Dengan berbagai cara mereka berusaha mempertahankan aku. Dilimpahinya aku dengan uang dan fasilitas. Tapi apalah artinya semua itu bila hidupku tersiksa dan terpenjara?

Kebobrokan orang-orang di rumah itu memang sudah demikian parah dan keterluan. Tingkah laku mereka amat menjijikkan. Aku selalu disuguhi tontonan maksiat. Majikan laki-laki yang semestinya menjadi imam dalam keluarga dan memimbing ke jalan lurus malah jadi contoh yang tidak baik. Aku sendiri bingung menilai kepribadiannya. Ketika di luar dia tampak sebagai sosok berwibawa, santun, halus, dermawan, dan rendah hati.

Tapi hal itu ternyata cuma sebagai topeng. Pernah aku diajak majikan laki-laki pergi ke suatu tempat. Tepatnya di sebuah villa yang sepi dan berada di kawasan pegunungan. Di sana sudah menunggu dua orang gadis muda cantik-cantik. Kupikir, dia akan berperilaku binatang seperti istrinya. Tapi apa yang terjadi…? Dia malah menyuruh aku bercinta dengan dua PSK murahan itu. Jika menolak, aku akan didor dengan pistolnya.

Begitulah. Sambil menahan kepedihan aku menuruti keinginannya. Aku dicekoki obat pembangkit libido. Kedua perempuan itu pun seperti macan betina yang kelaparan, mencabik-cabik tubuhku. Sementara tuanku dengan santai duduk di kursi menonton pertunjukan gila itu. Dia pun tertawa terkekeh-kekeh. Dia seperti tak tergerak untuk menggantikan kedudukanku. Kini, tahulah aku kenapa istrinya sering membawa laki-laki muda ke rumah. Karena suaminya impoten!

Benar-benar keluarga sinting! Semua orang di rumah itu sudah edan. Tuan sableng, nyonya gendheng, dan anak-anaknya gelo!

Tak ingin terus menerus tenggelam dalam lautan maksiat, diam-diam aku pergi dari rumah itu. Aku lari sejauh-jauhnya. Kepada semua orang kuceritakan apa yang terjadi di rumah besar dan mewah itu. Tapi tak ada seorang pun yang percaya. Mereka menuduhku membual, bicara ngawur, omong kosong, dan bahkan menuduhku menyebar fitnah. Bagaimana mungkin orang yang alim, dermawan, dan santun seperti dia bisa berperilaku seperti itu? begitu kata mereka.

Begitulah. Tak ada yang percaya pada ceritaku. Apalagi penampilanku berantakan, baju compang-camping, rambut awut-awutan, dekil, dan berjalan kesana kemari tak tentu tujuan. Kenapa aku berperilaku seperti ini? Karena aku ingin menyamarkan penampilanku. Sejak pergi dari rumah itu, orang-orang suruhan bekas majikan memburuku. Mereka berniat melenyapkanku, karena aku dianggap membahayakan kedudukan mereka. Hal ini kuketahui dari percakapan mereka tanpa sengaja di sebuah warung. Aku jadi tak berani kembali ke rumah orang tuaku di desa. Aku hidup menggelandang di jalan.

Suatu hari, aku melihat sebuah baliho besar terpampang melintang di tengah jalan besar. Di sana terpampang wajah bekas majikanku yang akan maju dalam pemilihan kepala daerah. Aku tersentak. Nuraniku tergugah. Aku terpantik ingin membuka mata publik agar tidak memilih dia sebagai pemimpin di kota ini. Tapi apa lacur, cerita yang kubeberkan pada orang-orang malah dianggap sebagai bualan, omong kosong, ngawur, rekayasa, irasional, dan macam-macam lagi. Intinya; tidak ada yang percaya.

Jadi, siapa yang mau percaya pada orang kecil sepertiku…? *

19 Mei 2012

Perempuan Berselempang Parang

Oleh Eko Hartono

            Ke mana pun pergi Lasmi selalu membawa parang yang diikat dengan sebuah tali dan diselempangkan pada badannya. Orang-orang menyebutnya perempuan berselempang parang. Tak ada yang tahu, kenapa ia selalu membawa senjata tajam itu ke mana-mana. Sampai ada yang berseloroh, saat tidur pun parang itu masih melekat di badannya.

            Tapi bisa dimaklumi kenapa Lasmi selalu membawa parang. Mungkin untuk menjagai diri. Sejak suaminya mati secara misterius beberapa waktu lalu, tak ada lagi pelindung buat dirinya yang sebatang kara. Ayah ibunya telah lama tiada. Tak ada saudara dekat yang bisa dijadikan tempat bergantung. Sementara perkawinannya yang baru berjalan dua tahun belum berbuah anak.

            Tak terperikan betapa sedih hati Lasmi. Ia harus tinggal sendirian di rumah kecil peninggalan suaminya. Hari-hari dijalani dalam suasana sepi yang memagut hati. Pernah datang seorang pamannya meminta dia untuk menikah lagi, biar ada yang mengayomi dan melindunginya, tapi Lasmi menggeleng tegas. Ia tak akan pernah menikah sebelum menemukan pembunuh suaminya.

            Aih, ternyata dendam kesumat yang menyebabkan kabut perkabungan masih membayang di wajahnya dan merubah penampilannya. Lasmi tak terlihat lagi sebagai perempuan lemah. Ia tampak garang dengan sepasang sorot mata tajam, terlebih dengan sebilah parang terselempang di badan. Laki-laki mana pun ciut nyali mendekatinya. Mereka mesti berpikir seribu kali untuk menggodanya.

            Masih terekam jelas dalam ingatan Lasmi, jasad suaminya dibawa ke hadapannya dalam keadaan berlumuran darah. Orang-orang bilang, Marno jatuh dari atas tebing saat memecah batu kapur. Tapi Lasmi tak percaya. Ia pernah mendengar keluh kesah suaminya beberapa hari sebelum kematiannya. Ada pengusaha bermodal besar berniat mengambil alih lahan milik penambang batu kapur tradisional.

            Sebagian penambang tradisional merelakan tanahnya dibeli. Hanya Marno yang masih ngotot mempertahankan lahannya. Bukan kenapa, tapi karena harga ganti rugi yang ditawarkan tak seberapa. Lagi pula terpikir dalam benaknya, mau makan apa mereka jika mata pencahariaan satu-satunya dimatikan. Memang, warga dijanjikan akan dijadikan pekerja bila lahan itu telah dikelola perusahaan. Tapi Marno tak percaya pada janji itu!

            “Mereka telah punya traktor dan mesin pengolah. Mereka tak memerlukan lagi tenaga manusia,” ucap Marno resah.

            Marno bukan orang berpendidikan tinggi. Dia buta politik. Dia juga tak paham soal-soal bisnis dan perhitungannya. Tapi dia peka terhadap keadaan. Pengalaman hidup yang keras mengasah ketajaman insting dan nalurinya. Ia tahu, usaha pengambil alihan lahan milik warga menyalahi aturan. Upaya itu  juga bisa memiskinkan warga sekitar yang sudah terlanjur miskin.

            Anehnya, kenapa pengusaha bermodal besar itu bisa mendapat ijin masuk ke wilayah mereka?

            “Ini pasti ada permainan,” gumamnya seakan bicara pada diri sendiri.

            “Sudahlah, Mas. Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting mas sudah menolak!” tukas Lasmi menepis keresahan hati sang suami.

            Sekarang Lasmi baru sadar, permainan apa yang dimaksud almarhum suaminya. Permainan orang-orang yang rakus dan tamak. Permainan orang-orang yang lebih mementingkan keuntungan pribadi dari pada kemaslahatan masyarakat. Permainan yang membawa Marno ke dalam pusaran tarik menarik kepentingan hingga berujung pada kematian. Marno bukan mati secara wajar, tapi sengaja dijadikan tumbal!

            “Kamu jangan terlalu berpikiran jauh begitu, Las. Kamu jangan curiga berlebihan. Apa buktinya kalau Marno telah dibunuh?” ujar Hardi, teman dekat Marno, saat berkunjung ke rumah Lasmi untuk menengok keadaannya.

            Tidak kepada sembarang orang Lasmi mau menumpahkan uneg-unegnya. Hardi sudah dianggap saudara dekat. Ketika Marno meninggal, Hardi dan istrinya kerap datang memberi pelipuran dan membesarkan hati Lasmi. Perasaan Lasmi terharu melihat kepedulian mereka. Maka, tak segan pula Lasmi mengungkapkan uneg-uneg dan keluh kesah hatinya. Tapi entah, ketika muncul niat Lasmi untuk mengusut kematian suaminya, Hardi menyatakan keberatannya.  

            “Mas Hardi kan tahu, Mas Marno tewas setelah ada persoalan dengan pengusaha besar itu. Apakah itu tidak mencurigakan?” cetus Lasmi.

            “Itu hanya kebetulan saja. Kenyataannya, semua orang melihat kalau suamimu jatuh dari atas tebing. Tidak ada yang mendorongnya. Jadi itu murni kecelakaan, bukan kesengajaan!” bantah Hardi.

            Lasmi menarik nafas panjang. Sepertinya percuma ia membahas soal ini dengan bekas sahabat almarhum suaminya itu karena selalu berseberangan. Dulu, saat suaminya masih hidup, dipikirnya kedua laki-laki ini bak pinang dibelah dua. Dalam segala hal mereka seia sekata, seiring sejalan, dan sehaluan sepandangan. Tak pernah terlihat mereka bersilang pendapat apalagi bertengkar. Rasa senasib sebagai penambang batu kapur mengikat jiwa mereka dalam persekutuan.

            Namun entah, apakah waktu dan keadaan telah merubah segalanya. Lasmi tak hendak bersu’uzon, tapi gelagat Hardi memancing kecurigaan. Apalagi ketika akan berpamitan pulang, laki-laki itu sempat menitipkan pesan yang mengecutkan hati. “Kalau boleh aku bersaran, tanggalkan parangmu dan berperilakulah seperti perempuan normal. Usiamu masih muda dan masih panjang jalan yang akan kamu tempuh. Tak ada salahnya kamu menyetujui menjual lahan itu toh sudah tidak ada lagi yang mengerjakannya!”

            Lasmi melepas Hardi sampai di depan pintu. Sepeda motor baru yang dikendarainya menderu menerbangkan debu-debu. Sepeda motor baru…? Ah, ternyata memang banyak yang berubah pada diri sahabat suaminya itu!

***

            Malam ini Lasmi duduk di beranda rumahnya sambil memandang bintang-bintang di langit. Rusuh hatinya seperti tak bisa dibendung. Parang yang ada di pangkuannya baru saja ditajamkan dengan batu pengasah. Mata parang berkilau ditimpa cahaya lampu dari dalam rumah. Siang tadi tanpa sengaja ia mendengar percakapan orang-orang di gardu pos ronda saat pulang dari ladang.

            “Enakan Hardi sekarang, jadi kaki tangan pengusaha kaya itu. Baru sebulan bekerja dia sudah bisa membeli motor baru!”

            “Ah, tapi dapat uang dari menjual teman sendiri, apa enaknya? Sama saja pengkhianat!”

            “Apa maksudnya?”

            “Apa kalian tidak tahu, Marno jatuh dari atas tebing setelah berselisih dengan Hardi. Karena Hardi berusaha merayu Marno untuk menjual lahannya. Mungkin karena pusing oleh pertengkaran itu, Marno jadi kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh!”

            Lasmi tertegun mendengar bincang-bincang mereka.

            Dan malam ini, ia telah mengasah parangnya. Ingin menyudahi dendam yang lama membara dalam dadanya. Ia akan menjemput Hardi di rumahnya dan mengantarnya menemui sahabatnya di alam baka. Biar parang ini sebagai kendaraannya! (*)

 

30 Januari 2012

Dilema Arjuna

Cerpen ini dimuat di Seputar Indonesia, Minggu 29 Januari 2012

Langit padang Kurusetra siang itu terlihat gelap karena diselimuti awan hitam. Suasana tampak suram dan kelabu. Angin bertiup kencang. Mengibarkan panji-panji dan bendera pasukan yang berdiri di garis terdepan. Kulihat wajah mereka bergairah oleh gelora patriotisme yang membakar dada. Inilah saatnya pembuktian, siapa paling unggul diantara Pandawa dan Kurawa. Siapa paling berhak atas tahta Astina!

Aku berkeliling dengan kudaku untuk memeriksa kesiapan para prajurit Pandawa. Mereka terlihat sangat siap dengan segala perlengkapan perang tersandang di badan. Baju besi, tameng, pedang, panah, tombak, gada, kereta perang, bahkan belati terselip di pinggang. Sungguh, kali ini perang bukan sekadar permainan kata-kata di meja perundingan, tapi benar-benar akan dikobarkan.

Usai memeriksa kesiapan pasukan Pandawa, aku lalu melihat kesiapan pasukan Kurawa di seberang. Dengan alat teropong aku bisa menyaksikan perkemahan kaum Kurawa, ribuan prajurit Astina yang berdiri di garis terdepan. Aku juga bisa melihat para kesatria Kurawa, panglima perang mereka. Diantara mereka terlihat wajah-wajah yang tak asing lagi seperti guru besar Dorna, Kakek Bisma, Paman Sengkuni, Duryudana dan saudara-saudaranya. Mereka sejatinya adalah keluargaku juga.

Tiba-tiba hatiku diliputi rasa miris dan kelu. Kusadari bila perang besar ini bukan sekadar pembuktian antara salah dan benar, siapa paling unggul, tapi juga sebuah pembantaian. Pertumpahan darah antara keluarga, sanak saudara, kawan dekat, tetangga, kerabat, satu bangsa. Masih perlukah perang ini dikobarkan bila musuh yang dihadapi tak lain adalah saudara sendiri? Tegakah kami membunuh sanak kadang kami sendiri? Gugat suara dalam hatiku. Bulu kudukku tiba-tiba meremang diliputi perasaan tak karuan. Hatiku menjadi goyah.

Aku lalu bergegas menuju ke kemah Sri Kresna. Bisa kurasakan gemetar badanku saat berhadapan dengan titisan Wishnu itu.

“Wahai, suami Laksmi yang bijaksana. Tidakkah sebaiknya perang ini dihentikan sebelum jatuh korban?” cetusku gundah.

“Ada apa, Arjun? Kenapa tiba-tiba kamu meminta perang ini dihentikan? Apa yang terjadi padamu?” tanya Sri Kresna malah heran.

“Aku tak mau jatuh korban tak berdosa, Kakang. Kita berperang bukan melawan siapa-siapa tapi melawan keluarga sendiri. Aku tak sanggup melakukannya!”

“Kenapa hatimu tiba-tiba jadi lemah. Kamu jangan dikuasai rasa sentimentil. Mereka memang keluargamu, tapi menegakkan kebenaran tak mengenal keluarga atau teman. Jika ingin memperjuangkan kebenaran dan keadilan, tutuplah kedua mata dari segala pandangan. Pusatkan hati dan pikiran kepada inti kebenaran. Peperangan yang kita kobarkan kepada Kurawa bukan bertujuan memusnahkan mereka, tapi memusnahkan kejahatan yang ada dalam diri mereka!”

“Tapi, Kakang. Haruskah menegakkan kebenaran dilakukan dengan jalan perang? Di mana kita menempatkan perikemanusiaan yang berdasarkan pada cinta kasih…?”

“Bagaimana kalau perikemanusiaan dicederai? Apakah kita diam saja?”

“Maksud, Kakang?”

“Tindakan Duryudana dan saudara-saudaranya selama ini telah mencederai kemanusiaan. Mereka kerap berbuat kejahatan dengan menistakan dan merendahkan orang lain. Mereka banyak membunuh rakyat yang tak berdosa. Sebagai kesatria pembela kebenaran kita tidak bisa hanya diam menyaksikan kesewenang-wenangan mereka!”

“Aku bisa memahami bila yang kita lawan adalah Duryudana dan saudara-saudaranya yang suka berbuat kejahatan. Tapi bagaimana dengan Resi Bisma, Resi Dorna, dan para rakyat Astina yang tak berdosa? Sampai hatikah kita melawan mereka?”

Sri Kresna terdiam. Aku bisa membaca raut wajahnya yang diliputi kegalauan. Sebagai seorang waskita Sri Kresna banyak memberikan nasehat dan wejangan berharga kepada keluarga Pandawa. Dengan kearifan dan kebijaksanaannya pula dia mampu menjadi penengah dalam perseteruan antara Kurawa dan Pandawa. Dia yang mencetuskan bharatayuda sebagai jalan keadilan bagi penyelesaian pertikaian panjang diantara para pangeran Kuru.

Aku yakin, Sri Kresna bisa ikut merasakan dilema yang membelit hatiku. Apa pun alasannya perang hanya akan menimbulkan luka dan penderitaan. Aku berharap Sri Kresna bisa menyampaikan kepada para dewata untuk mencabut kutukan bharatayuda. Namun harapanku sepertinya sia-sia.

“Aku tahu perasaanmu, Arjun. Kamu sangat menghormati guru besarmu Dorna dan kakekmu Bisma. Mereka orang-orang yang kamu cintai. Tapi kamu semestinya tahu, mereka ikut berperang bukan untuk membela Kurawa. Mereka berperang membela kehormatan negara Astina. Mereka berperang bukan didasari oleh nafsu kekuasaan,” tutur Sri Kresna memberikan penjelasan.

“Tapi, Kakang. Keberadaan mereka di tengah pasukan Kurawa menimbulkan keragu-raguan dan kemasygulan dalam hati kami. Perasaan kami diliputi kebimbangan jika berhadapan dengan mereka!”

“Kesatria sejati tidak perlu ragu dan bimbang. Karena keraguan dan kebimbangan melemahkan jiwa. Kuatkan jiwamu untuk menghadapi perang ini. Darah yang tumpah dalam peperangan ini bukan darah kesia-siaan, tetapi darah kehormatan. Semua yang mati dalam peperangan ini pantas disebut pahlawan. Karena mereka berperang bukan hanya untuk menegakkan kehormatan keluarga, tapi juga kehormatan bangsanya!”

Aku tercenung mendengar ucapan Sri Kresna. Apa yang dikatakannya mengandung makna amat dalam. Selanjutnya Sri Kresna memberikan banyak wejangan kepadaku. Beliau menyenandungkan bhagawadgita (Nyanyian Orang Suci) yang merasuk begitu dalam ke relung kalbu. Hatiku dibuat tentram dan sejuk. Aku bisa menghayati makna kehidupan yang terkandung di dalam syair bhagawadgita. Jiwaku yang tadinya lemah kini menjadi lebih kuat. Aku siap menghadapi bharatayuda. Karena perang ini bukan untuk melampiaskan hawa nafsu melainkan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Ketika menginjak hari ke sepuluh perang bharatayuda, hatiku kembali diliputi rasa bimbang dan ragu. Karena pada hari ini aku harus berhadapan dengan Kakek Bisma. Sungguh, ini bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani. Terbayang kehidupan masa kecil saat kami masih tinggal di istana Astina. Kami berlima dalam pengasuhan kakek Bisma. Beliau seorang tua yang arif dan bijaksana. Beliau sangat menyayangi kami. Beliau tak membeda-bedakan kasih sayangnya kepada anak-anak Kurawa maupun Pandawa.

Tanpa terasa air mataku menetes membayangkan wajah Kakek Bisma. Meskipun sudah berumur, tapi beliau masih tampak gagah dan awet muda. Sebagai kesatria beliau sangat teguh memegang prinsip. Dalam diri beliau tak ada lagi hasrat dan nafsu kepada duniawi. Kehidupannya sepenuhnya diabdikan untuk kejayaan dan kehormatan Astina, negeri warisan leluhurnya. Beliau rela menjadi seorang wadad (tidak menikah seumur hidup) demi menjaga keutuhan dan kesatuan Astina.

Sungguh, perasaanku dibelit dilema yang luar biasa besarnya. Seluruh syaraf dalam tubuhku seperti lumpuh saat membayangkan diriku harus berhadapan dengan orang tua yang sangat aku cintai dan hormati. Di tengah gelombang kebimbangan ini aku lalu mencoba bersemedi, berkomunikasi dengan Sang Pencipta untuk meminta petunjuk. Aku ingin mencari kebenaran atas langkahku berhadapan dengan Kakek Bisma. Tiba-tiba aku seperti melihat jagat alam semesta terbentang di depan mataku.

Jiwaku seakan bisa menembus dimensi waktu. Aku menyaksikan semua kejadian yang pernah terjadi di muka bumi. Aku melihat kehidupan Bisma di waktu muda. Dalam sebuah peristiwa yang sangat dramatis Bisma mengacungkan anak panah ke arah Dewi Amba, perempuan yang mencintainya dengan setulus hati. Karena diliputi kebimbangan –antara memegang sumpah dan menuruti kata hati— tanpa sadar anak panah melesat menembus jantung wanita tak berdosa itu. Kulihat Bisma muda tergugu diliputi penyesalan amat dalam. Bisa kurasakan geletar perasaannya yang terluka!

Aku mengikuti perjalanan arwah Dewi Amba. Meski mati di tangan kekasih pujaan hati, namun dia merasa sangat bahagia. Dia mampu membuktikan ketulusan cintanya yang dalam. Dia berjanji akan setia menanti kekasih hatinya di alam nirwana. Sementara Bisma sepanjang hayatnya terus dihantui oleh bayang-bayang Dewi Amba. Meski sebelum meninggal Dewi Amba telah memaafkan kekhilafannya, namun Bisma tak pernah bisa memaafkan dirinya sendiri atas perbuatannya itu.

Tiba-tiba sebuah bisikan halus menyusup ke dalam sanubariku. “Wahai, titisan Sang Wishnu. Jemputlah kekasih hatiku Dewabrata. Penuhi kewajibanmu mengantarnya ke nirwana!”

“Aku tak sanggup, Dewi!” ucapku jujur.

“Baiklah, kalau begitu biar aku sendiri yang menjemputnya. Aku akan meminjam ragamu agar bisa bertemu kekasih hatiku!”

Sebuah keajaiban terjadi. Saat aku membuka mata, kulihat diriku sudah berubah wujud. Aku bukan lagi seorang laki-laki dengan kumis dan dada bidang berotot, melainkan telah menjelma sebagai perempuan. Namun aku bukan perempuan sembarangan. Dengan menyandang gendewa dan tabung panah di punggung aku tak ubahnya prajurit perang yang siap berlaga. Aku baru sadar inilah jalan keadilan yang diberikan dewata agar aku bisa menghadapi Kakek Bisma tanpa rasa segan. Aku tak akan dikenali kakek Bisma sebagai Arjuna, melainkan Srikandi!

Ya, namaku Srikandi…

Tanpa ragu lagi aku segera meluncur ke tengah medan laga. Kulihat kakek Bisma masih berdiri di atas keretanya. Semua serangan panah, tombak, dan pedang dari prajurit Indraprastha tak satupun mampu melumpuhkannya. Dengan cekatan aku segera mengeluarkan anak panah dari tabung yang berada di balik punggungku. Ribuan anak panah berhasil kusasarkan pada kakek Bisma dan menancap di sekujur tubuhnya. Tapi beliau masih terlihat tegar dan berdiri tegak. Beliau tampak kaget melihat kemunculanku!

“Siapa kamu?” tanyanya penuh keheranan.

“Namaku Srikandi!” jawabku tegas.

Untuk beberapa saat kakek Bisma memandangku dengan seksama. Perasaanku dibuat jengah. Aku khawatir dia mengenaliku. Tiba-tiba dari mulutnya meluncur sebuah kalimat pendek nyaris seperti gumaman, “Dewi Amba…?”

Aku tercekat. Aku teringat bisikan arwah Dewi Amba. Aneh, tiba-tiba bibirku seperti bicara sendiri tanpa kuperintah. “Ya, aku Dewi Amba! Aku datang untuk menjemputmu, Kakang Dewabrata!”

“Syukurlah, akhirnya engkau datang kekasihku!” Kedua tangan kakek Bisma membentang seperti hendak menyongsong kehadiran seseorang.

Aku melihat cahaya memancar di jantung kakek Bisma. Seperti ada yang menggerakkan, tiba-tiba tanganku mengangkat gendewa. Sebuah anak panah meluncur deras dan tepat mengenai jantung Kakek Bisma. Tubuhnya langsung roboh, tak bangkit lagi. Dia telah mengakhiri riwayatnya, dijemput kekasih tercinta menuju alam nirwana. Seperti tersadar dari mimpi buruk aku segera menghambur mendekap tubuh kakek Bisma. Menangisi kepergiannya. Langit padang Kurusetra seketika berubah menjelaga!

Tirtomoyo, Januari 2012

18 Desember 2011

Istri Suamiku

Cerpen ini dimuat di Majalah Diffa
Edisi No. 11 - November 2011


Perempuan yang duduk di hadapanku masih cukup muda. Umurnya sekira duapuluh lima tahun. Berpakaian sederhana dan memakai make up sederhana pula. Rambutnya yang lurus panjang diikat ke belakang. Meski penampilannya sangat sederhana terpancar keayuan dan kelembutan. Tutur katanya pun halus dan sopan, sehingga tak terkesan dia perempuan jalang.

Tapi perempuan muda inilah yang telah merebut mas Bambang, suamiku. Ya! Dia telah memikat hati suamiku, sehingga laki-laki yang sudah beranak dua itu lupa diri. Aku tak tahu, siapa diantara mereka yang lebih dulu memulai merayu sehingga tercipta hubungan gelap itu. Yang jelas, mereka telah mengkhianati aku. Mereka membokong aku dari belakang.

Mungkin seumur hidup aku tidak akan pernah tahu tindakan suamiku yang bermain api di belakangku, andai saja perempuan ini tidak datang kepadaku dan mengakui bahwa dirinya telah dinikahi mas Bambang setahun lalu. Aku sendiri heran, kenapa perempuan muda ini nekad menemuiku? Dia menceburkan dirinya ke sarang macan. Namun dia punya alasan kuat atas tindakannya ini.

Kedatangannya ke sini tak lain hendak menuntut pertanggung jawaban suamiku. Sudah berkali-kali dia menghubungi mas Bambang, tapi laki-laki itu selalu menghindar. Ibarat pepatah habis manis sepah dibuang, mas Bambang telah mencampakkannya setelah menikmati manis madunya. Kenyataan itulah yang mendorong Sari, demikian nama perempuan itu, nekad menemuiku. Tanpa ragu dan takut lagi, dia menceritakan apa yang terjadi.

“Saya tahu, ibu pasti sangat shock dan sakit hati atas kenyataan ini. Tapi kebenaran ini harus diungkap. Saya tak bisa selamanya hidup dalam kebohongan. Saya pun tak ingin dianggap perusak rumah tangga orang. Saya menikah dengan mas Bambang secara sah. Kami menikah di depan penghulu. Mas Bambang mengaku kalau dirinya masih bujang. Jadi tak ada alasan bagi saya dan orangtua saya menolaknya. Apalagi saat itu mas Bambang berperilaku baik dan berjanji akan mengayomi saya…,” tutur Sari dengan suara tenang.

Bencana ini berawal dua tahun silam. Saat itu mas Bambang mendapat tugas ke daerah pelosok sebagai tenaga pengajar. Waktu itu aku dan anak-anak tak bisa ikut, karena situasi yang tak memungkinkan. Aku tak bisa meninggalkan pekerjaanku sementara anak-anak tak mau pindah sekolah. Akhirnya, kami harus hidup terpisah selama dua tahun.

Mas Bambang pulang seminggu sekali menengok kami yang tinggal di kota. Tapi pernah sampai tiga bulan mas Bambang tidak pulang. Aku sendiri tidak curiga atau menaruh prasangka buruk. Aku percaya mas Bambang akan menjaga kesetiaannya. Aku tak menyadari bila hati mas Bambang yang kesepian di tempat terpencil itu telah tertambat pada seorang gadis desa!

Ketika mas Bambang kembali dimutasi ke kota, aku merasa sangat senang. Kami bisa berkumpul lagi seperti sedia kala. Saat itu aku tak menaruh curiga sama sekali bila suamiku kembali dalam keadaan tidak utuh. Sebagian hatinya telah diberikan pada perempuan lain. Aku tak tahu, apakah aku harus marah, kecewa, sedih, atau bagaimana setelah mendengar pengakuan Sari.

Selama ini bahtera perkawinan yang kami arungi berjalan lancar tanpa pernah ada badai yang mengoyak. Aku mencintai suamiku, begitu pun sebaliknya. Apalagi setelah kami dikaruniai dua orang anak yang manis-manis. Kebahagiaan hidup kami rasanya telah sempurna. Mas Bambang orangnya baik, pendiam, lembut, dan tak pernah menyakiti hati istri maupun anak-anaknya. Banyak perempuan yang iri kepadaku.

Tapi sekarang, dengan kenyataan pahit ini, semua keindahan dalam kehidupan rumah tangga kami seolah sirna seketika. Mukaku seperti tertampar keras. Aku tak tahu, bagaimana harus menyembunyikan aib yang memalukan ini. Bagaimana perasaan anak-anakku bila mengetahui ayah yang mereka puja selama ini menyimpan kebusukan?

Aku sebenarnya ingin marah dan mencakar muka perempuan ini, tapi aku mencoba menahan diri. Aku tidak ingin terlihat kampungan dan merendahkan diriku sendiri bila berbuat seperti itu. Kemarahanku tidak akan merubah apa yang telah terjadi. Lagi pula, kesalahan ini tidak mutlak terletak pada Sari. Kulihat ia pun memendam beban yang berat. Ekspresi wajahnya menyimpan penderitaan!

“Maaf, Bu. Kedatangan saya ke sini bukan untuk mengacaukan kehidupan keluarga ibu. Saya hanya ingin menuntut hak saya. Sudah lima bulan lebih mas Bambang tidak menafkahi saya. Apalagi sekarang saya sudah mengandung. Saya tahu, mas Bambang tidak mau mengakui pernikahan kami karena dia terganjal oleh peraturan di kantornya. Dia juga tidak ingin meninggalkan keluarganya. Tapi bukan itu yang saya tuntut, Bu. Jika sekiranya mas Bambang tidak ingin meneruskan pernikahan kami, dia harus menceraikan saya secara baik-baik. Dia harus memenuhi kewajibannya terhadap saya dan calon anaknya ini. Saya tidak ingin hidup terombang-ambing. Orang-orang di kampung banyak yang mencemooh dan mencibir saya, karena saya hidup tanpa suami. Hal itu sudah cukup membuat saya menderita….,” lanjut Sari dengan suara serak.

Ia seperti ingin menangis, tapi ditahannya sehingga tampak memerah pipi dan kupingnya. Aku tertegun.

Entah kenapa, tiba-tiba kemarahan yang tadi membara dalam dadaku mendadak luruh. Pengakuan Sari yang dituturkan dengan polos membuka pintu kesadaran dalam diriku. Bisa kupahami apa yang dirasakan Sari. Sebagai sesama perempuan aku tahu, bagaimana pedihnya hati disakiti dan dikhianati. Aku mencoba berpikir jernih dan berdiri dalam posisi seperti Sari.

Mungkin Sari hanya sekadar sebagai korban. Seperti halnya diriku, dia telah dikadalin oleh mas Bambang. Dia telah tertipu oleh pesona mas Bambang. Seharusnya mas Bambang tahu kalau dirinya sudah berkeluarga. Kenapa dia nekad menikahi Sari? Apa pun alasannya, mas Bambang telah berbuat salah. Dia telah mengkhianati istri dan anak-anaknya.

“Apakah kamu mencintai mas Bambang?” Tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan itu pada Sari.

Perempuan itu mendongak, sejenak memandangku penuh kegalauan. Dia lalu menundukkan kembali kepalanya. Dengan agak ragu-ragu ia berkata, “Ya, Bu. Saya mencintainya. Tapi….”

“Tapi kenapa?” kejarku.

“Saya tahu, mas Bambang sangat mencintai keluarganya. Mas Bambang juga sangat mencintai ibu. Saya tidak ingin merusak kebahagiaan orang lain. Demi keutuhan dan kebahagiaan keluarga ibu, saya rela berpisah dengan mas Bambang. Saya berjanji tidak akan mendatangi ibu lagi setelah mas Bambang menyelesaikan urusannya dengan saya. Setelah ini saya akan hidup sendiri sambil merawat anak dalam kandungan ini…”

Aku tercenung. Perempuan ini tampak begitu tegar. Ia rela berpisah dengan orang yang dicintai. Aku tahu, mungkin akan sangat berat baginya hidup sendirian menanggung beban seorang anak. Apalagi dia hanya perempuan desa miskin yang tak memiliki penghasilan. Haruskah aku mengalah, karena aku sendiri tak sanggup hidup berbagi dengan perempuan lain? Tapi… ah, begitu peliknya persoalan ini!

“Baiklah. Kamu boleh pulang. Nanti aku yang akan bicara dengan mas Bambang. Aku akan membujuknya,” kataku akhirnya.

“Terima kasih, Bu.”

Perempuan itu lalu pergi dari hadapanku. Hatiku seperti disiram jarum gerimis.
***

Ketika aku bertemu dengan suamiku di rumah, hati ini tidak karuan rasanya. Ingin sekali aku melampiaskan emosi kemarahan yang meluap-luap, namun aku berusaha menahan diri. Aku tak ingin menimbulkan kehebohan di rumah. Aku tak ingin anak-anakku tahu tentang apa yang terjadi. Jiwa mereka masih terlalu rapuh untuk menerima kenyataan pahit ini. Aku harus menjaga perasaan mereka.

Maka, sambil menekan perasaan yang penuh lebam, aku mengajak bicara suamiku di dalam kamar. Tanpa basa-basi aku menceritakan tentang kedatangan Sari. Suamiku tampak terkejut. Dia menundukkan kepalanya, tak berani menatapku. Selama aku mengatakan apa yang kudengar dari Sari, tak sekalipun mas Bambang membantahnya. Hal ini makin menguatkan keyakinanku bahwa apa yang dikatakan Sari benar. Luka dalam hatiku semakin menganga!

“Sekarang mas boleh pilih. Antara aku atau dia!” ujarku akhirnya memberi ultimatum.

Tiba-tiba mas Bambang bersimpuh di bawah kakiku sembari memohon.

“Maafkan aku, Yan. Semua ini terjadi karena kekhilafanku. Tak sedikit pun ada maksud hatiku ingin mengkhianatimu. Aku sangat mencintaimu, Yan. Aku mencintai anak-anak. Aku tak ingin berpisah dengan kalian,” tuturnya terbata-bata.

“Tapi bagaimana dengan nasib Sari dan bayi yang dikandungnya? Apakah mas ingin mengabaikan tanggung jawab pada mereka?”

“Aku akan menceraikan Sari, Yan. Aku lebih memilih kamu dan anak-anak!”

Aku tersenyum sinis. “Laki-laki memang egois dan ingin menangnya sendiri! Begitu mudahnya mas mempermainkan hati perempuan. Tidakkah mas sadar, tindakan mas meninggalkan Sari dan anak dalam kandungannya juga sangat menyakitkan? Tidakkah mas berpikir bagaimana kehidupan mereka nanti? Mas sungguh tidak adil! Mas hanya ingin mencari enaknya sendiri. Setelah mas mengecap manis madu Sari sebagai gadis desa dan menanamkan benih di rahimnya, sekarang mas tinggalkan dia begitu saja. Mas tidak punya rasa tanggung jawab sama sekali!” kecamku.

“Lalu, aku harus bagaimana, Yan? Bukankah kau suruh aku untuk memilih?” tukas mas Bambang tampak bingung.

Aku diam sebentar sambil menggigit bibirku dan menahan lahar yang hendak menjebol dinding ketegaranku. Dengan menarik satu napas dalam, aku kemudian berkata, “Ceraikan aku, Mas!”

“Apa???” Mas Bambang tersentak kaget.

“Ceraikan aku. Titik!” tandasku.
Mas Bambang mendesah panjang sambil menggeleng. Kulihat bola matanya berkaca-kaca. Pecah menjadi beling menancap dalam batinku. Perih!
***

Aku sudah pikirkan matang-matang ketika memutuskan untuk bercerai dari mas Bambang. Meski pahit, tapi ini adalah harga yang harus ditebus atas semua yang terjadi. Aku tahu, ini sangat berat. Bukan untuk hatiku sendiri, tapi juga anak-anak. Aku tak peduli, orang akan menganggap aku terlalu emosional dan tidak memikirkan perkembangan jiwa serta masa depan anak-anakku. Justru aku ingin melatih anak-anakku untuk menerima kenyataan pahit ini. Mereka mesti tahu, bahwa hidup ini tidak selamanya mulus dan berisi keindahan.

Lebih baik mereka mengecap buah pahit kehidupan dari pada harus hidup dalam bayang-bayang kepalsuan dan kebobrokan. Agar mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang lebih kuat dan tegar. Tidak lemah dan cengeng menghadapi badai atau prahara. Apalah artinya mereka hidup utuh sebagai sebuah keluarga, tapi di balik itu ada kebobrokan yang tersimpan. Aku tidak bisa hidup berpura-pura, menganggap seolah tidak terjadi apa-apa.

Mungkin ada solusi yang lebih fair, aku berbagi suami dengan Sari demi menjaga keutuhan keluargaku. Karena hal itu diperbolehkan oleh agama. Tapi sekali lagi, hatiku tak sanggup melakukannya. Bukan aku tak mau berkorban, tapi kurasakan hal itu hanya akan memperbesar beban dalam hatiku. Aku tak sanggup hidup dengan bayangan perempuan lain dalam pelukan suamiku. Lagi pula aku tak yakin, mas Bambang bisa bersikap adil untuk membagi cinta dan perhatiannya!

Selama ini aku sudah mampu hidup mandiri, tanpa bergantung pada suami. Aku punya pekerjaan dan sanggup menghidupi anak-anakku, meski tanpa suami. Jadi tak ada masalah jika aku harus berpisah dengan mas Bambang. Justru aku ingin memberikan kesempatan mas Bambang untuk menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada Sari dan bayi yang dikandungnya. Mereka lebih membutuhkan kehadiran mas Bambang dari pada diriku! (*)