Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umum. Tampilkan semua postingan

03 Oktober 2013

Peran Ibu Dalam Membentuk Karakter Anak



Seringkali kita melihat ada anak yang tampak cerdas, trampil, berprestasi, dan menonjol di antara kawan-kawannya. Sebagai ibu kita tentu berharap demikian terjadi pada anak kita. Tapi terkadang muncul pemikiran; ah, kalau anak-anak itu pada dasarnya cerdas, IQ-nya tinggi pantas saja berprestasi. Lagian mereka juga dapat dukungan fasilitas karena orang tuanya kaya. Benarkah demikian bahwa hanya anak yang ber-IQ tinggi dan berasal dari keluarga kaya yang bisa meraih kesuksesan?

Belum tentu, Bu!

Bukan karena IQ tinggi dan dukungan fasilitas lengkap yang menentukan keberhasilan seorang anak, meskipun tak dipungkiri hal ini ikut berperan. Karena kenyataan membuktikan; banyak orang sukses di usia dewasa justru berasal dari keluarga tidak mampu. Banyak orang-orang sukses dan berhasil menjadi pemimpin bukan karena kecerdasan otaknya, melainkan karena pengalaman dan kepribadiannya.

Mereka mungkin berasal dari keluarga sederhana, dalam bimbingan dan tuntunan orang tua yang arif bijaksana, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan positif, sehingga mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Mereka mampu mengembangkan bakat dan potensi, serta ketrampilannya karena diberi kebebasan dalam mengekspresikan harapan dan cita-citanya.

Jadi Ibu-ibu tak perlu berkecil hati bila anaknya tidak memiliki prestasi akademik yang tinggi. Sebab, mereka masih bisa meraih prestasi di bidang lain. Seperti misalnya dalam bidang seni, ketrampilan, olah raga, tarik suara, dan banyak bidang lainnya. Yang diperlukan dari orang tua adalah bagaimana memberikan perhatian kepada anak-anak agar mereka bisa mengembangkan bakat dan potensi dengan semaksimal mungkin.

Mendidik Anak Sejak Usia Dini

Untuk membina dan mengembangkan bakat si kecil orang tua bisa memulainya sejak usia dini. Usia antara 0 – 4 tahun yang sering disebut sebagai masa keemasan (golden age), seorang anak mesti dikembangkan kemampuan otaknya. Yang perlu diperhatikan dari anak adalah seberapa jauh anak merasa diperhatikan, diberi kebebasan atau kesempatan untuk mengekspresikan ide-idenya, dihargai hasil karya atau prestasinya, didengar isi hatinya, tidak ada paksaan atau tekanan, ancaman terhadap dirinya dan mendapatkan layanan pendidikan sesuai tingkat usia dan perkembangan kejiwaannya.

Pada usia mulai umur empat sampai enam tahun dikenal dengan usia wonder age sang Ibu mesti memberikan rangsangan/stimulus untuk mengembangkan kecerdasannya. Rangsangan pada anak usia itu antara lain memberikan sentuhan, menunjukkan warna-warni, atau mendengarkan suara hingga otaknya optimal menerima dan mempengaruhi kendali tubuh termasuk otak kanan dan kiri. Jika tidak diberikan rangsangan, maka akan menjadikan anak rentan terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Anak diberikan kebebasan untuk berbuat, maka akan membuat mereka benar-benar mandiri dan mampu mengendalikan dirinya sendiri. Namun sebaliknya, jika anak tidak diberikan kebebasan berbuat akan menjadikan dirinya tidak mandiri dan menggantungkan dirinya kepada orang lain.

Anak yang defendent (ketergantungan) kepada orang lain, karena orang tuanya terlalu protektif sehingga dalam benak anak akan muncul rasa takut salah. Anak tidak diberikan kesempatan offensif sehingga muncul socio-conform, sehingga anak menjadi dependent. Oleh karena itu tidak usah heran jika ada anak yang sehari-harinya belajar sangat pinter dengan nilai-nilainya yang bagus. Namun kurang bersosialisasi atau tidak berani, takut, merasa malu ketika berdiskusi atau menyampaikan pendapat. Anak menjadi self relation atau hanya mampu bersosialisasi dengan dirinya saja tanpa dengan orang lain.

Anak-anak yang tumbuh dalam tekanan-tekanan, misalnya rasa takut, khawatir, stress, dan sebagainya ketika remajanya akan merasakan suatu dorongan-dorongan agresif atau nakal yang menimbulkan efek negatif. Mungkin anak itu kreatif tetapi kreatifitasnya menuju ke arah yang negatif, bahkan bisa ke arah sadis. Tetapi jika anak-anak diperhatikan (care), bahkan sejak masa bayi hingga muncul rasa semangat, maka petumbuhannya akan sangat teratur sekali sehingga dia berpikir logis, lebih memperhatikan (care) kepada orang lain.

Ibu memiliki peran sangat besar terhadap pendidikan anak-anak mulai sejak bayi. Ketika beranjak lebih besar lebih bagus jika anak itu dikirimkan ke child care atau kelompok bermain. Meskipun untuk saat sekarang yang mampu menitipkan anaknya ke tempat bermain adalah orang-orang yang kelas ekonominya menengah ke atas, karena kelompok menengah ke bawah jarang yang menitipkan anaknya di kelompok bermain. Namun demikian yang diperlukan dari seorang ibu adalah tahu cara mengasuh anak karena itu bagian dari tujuan pendidikan, sehingga anak-anak akan tumbuh dengan baik bukan hanya secara fisik saja tetapi juga berkembang secara psikologisnya dan secara neurosis.

Pendidikan Di Sekolah

Pendidikan selalu identik dengan sekolah atau lembaga pendidikan formal. Bahkan sekolah dianggap sebagai kebutuhan pokok yang harus dirasakan oleh anak dan tidak dapat digantikan dengan apapun. Sekolah dianggap sebagai sarana untuk tercapainya keberhasilan dalam mengarungi hidup dan kehidupan. Oleh karena itulah banyak orang tua yang merasa khawatir jika anaknya tidak sekolah.

Padahal sekolah itu hanya salah satu faktor keberhasilan anak dalam mengenyam pendidikan. Faktor lainnya adalah pendidikan keluarga di rumah karena pendidikan bermula dari keluarga yang dianggap sama pentingnya karena sekolah memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain keterbatasan waktu dan ruang. Waktu belajar di sekolah sekitar 5 – 8 jam. Tempat belajarnya pun terbatas hanya di ruangan yang terdiri atas empat dinding satu lantai dan satu atap.

Kelemahan ini menyebabkan sekolah tidak dapat menumbuhkembangkan potensi anak secara optimal. Akibatnya tujuan pendidikan untuk mendewasakan, memandirikan anak menjadi terbatas oleh waktu dan ruang tersebut. Sekolah pun tidak dapat mengambil alih sepenuhnya peran orang tua dalam mendidik anak, terutama dalam hal menanamkan nilai-nilai yang dianggap penting seperti pendidikan nilai, moral, sosialisasi, dan agama. Sedangkan sekolah lebih dominan pada pemberian ilmu pengetahuan yang bersifat akademik atau aspek kognitif saja. Orang tua sebenarnya bisa lebih mengarahkan perkembangan dan pertumbuhan anak sesuai dengan bakat dan minat, karena orang tua akan langsung tahu sejauh mana anaknya belajar.

Segala perilaku orang tua, pola asuh, dan pendidikan yang diterapkannya di dalam keluarga pasti berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. Perilaku itu antara lain kasih sayang, sentuhan, kedekatan emosi (emotional bonding) orang tua serta penanaman nilai-nlai yang dapat mempengaruhi kepribadian anak. Mengembangkan pendidikan dalam keluarga, maka orang tua memegang peran penting dalam mencetak anak mempunyai akhlak yang luhur, perilaku jujur, disiplin dan semangat, sehingga akhirnya menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas dirinya serta menanamkan karakter yang kuat.

Kegagalan penanaman karakter pada anak sejak usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Seperti dalam sebuah ungkapan bahwa mendidik anak-anak kecil ibarat menulis di atas batu yang akan terus berbekas sampai usia tua. Sedangkan mendidik orang dewasa ibarat menulis di atas air yang akan cepat sirna dan tidak berbekas. Membiasakan mendidik anak sejak kecil dapat membuahkan hasil yang terbaik. Sebaliknya membiasakannya ketika dewasa sangat sulit, seperti dalam sebuah perumpamaan bahwa mendidik anak seperti sebatang dahan, ia akan lurus bila diluruskan. Dahan itu tidak akan bengkok meskipun sudah menjadi sebatang kayu.


Mengembangkan Kecerdasan EQ

Dewasa ini sudah dan sedang terjadi perubahan proses pendidikan dari yang lebih mementingkan kecerdasan otak kiri atau IQ ke arah mementingkan kecerdasan otak kanan atau EQ atau kecerdasan emosional. Kecerdasan otak kiri menekankan pada anak untuk menguasai kemampuan kognitif. Keberhasilannya dtentukan oleh kemampuan anak membaca, menulis, dan berhitung pada usia dini.

Kematangan emosi-sosial anak terbentuk sejak usia dini menentukan keberhasilan anak di sekolah dan di masyarakat, serta kehidupannya di masa selanjutnya. Kematangan emosi ditandai antara lain oleh ketertarikan pada sesuatu di sekelilingnya, mempunyai rasa percaya diri, mengetahui kapan dan bagaimana anak meminta pertolongan dari guru atau orang-orang dewasa lainnya, kesabaran menunggu, mematuhi instruksi, dan mampu bekerja sama dengan kelompok (Danil Goleman, 2006).

Orang beranggapan keberhasilan akademik anak diukur dengan nilai angka dan ranking bukan pada proses belajar, sehingga anak dipaksa untuk belajar keras. Akibatnya waktu bermain anak tidak ada. Anak akan cepat bosan bahkan mogok belajar, prestasi belajarnya menurun. Pada usia dewasa nanti menjadi sumber daya manusia yang tidak bisa bekerja, atau tidak terampil. Anak tidak menghargai pekerjaan yang memerlukan keterampilan, kerajinan, ketekunan, kerja keras dan cerdas, percaya diri dengan kemampuan sendiri.

Selain itu karena tujuannya mencetak anak pandai di bidang akademik kognitif, maka materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kiri saja yang diperhatikan yaitu bahasa dan logis matematik. Padahal banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan otak kanan (kesenian, musik, lukis) kurang mendapat perhatian. Kalaupun ada perhatian, maka orientasinya juga lebih pada kognitif berupa hafalan, tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan semangat untuk belajar.

Tujuan pendidikan adalah membentuk anak agar senang dan termotivasi untuk terus belajar seraya bermain. Lebih menekankan pada penyiapan kecerdasan emosi sehingga anak diberi kesempatan untuk berkembang secara alami. Anak lebih senang bermain yang dapat mengembangkan fungsi otak kanan, sehingga akan memudahkan anak menguasai pelajaran yang diberikan guru. Anak mengalami proses social emotional learning (kecerdasan emosi), joyful learning (belajar yang menyenangkan), dan active learning (anak terlibat aktif).

Anak bukan sekedar objek tetapi subjek pendidikan. Oleh karena itu guru di sekolah dan orang tua di rumah seharusnya memberikan lingkungan yang dapat menumbuhkan rasa senang dan gembira seolah-olah mereka sedang bermain, padahal sebenarnya sedang belajar. Guru atau orang tua perlu memberikan bekal yang penting bagi anak, yaitu menciptakan kematangan emosi-sosialnya, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik!

Demikian, Ibu-ibu. Semoga sekelumit bahasan tentang mendidik anak usia dini di atas bisa berguna membantu ibu-ibu dalam mengasuh dan mendidik anak.  

Sumber:
Disaring dari berbagai referensi buku dan internet.

10 Juli 2011

Mengenal Hipnotis dan Manfaatnya

Kita sering menyaksikan pertunjukan di layar televisi yang memamerkan kegiatan hipnotis. Seperti acara Uya Emang Kuya yang dipandu Uya Kuya atau acara master hipnotis Romy Rafael di jalan-jalan. Pertunjukan hipnotis semacam itu biasanya bertujuan untuk menghibur.
Bahwa tidak dipungkiri dalam dunia kriminalitas juga ada kegiatan hipnotis yang bertujuan memperdaya korban. Tapi pada dasarnya kegiatan hipnotis bukanlah praktek kejahatan. Karena pada awal dikembangkan kegiatan hipnotis bertujuan untuk hal yang baik, diantaranya membantu kegiatan medis dan membantu penelitian. Jika ada yang menggunakan untuk kejahatan, maka hal itu ulah oknum tak bertanggungjawab.
Pada prinsipnya hipnotis terbagi dalam 5 jenis hipnotis sesuai dengan kemanfaatannya. Diantaranya :
1. Hypnotherapy / Clinical Hypnosis.
Hypnotherapy atau Clinical Hypnosis ini merupakan aplikasi hipnotis yang digunakan untuk menyembuhkan gangguan mental sehingga dapat meringankan gangguan fisik. Misalkan untuk penderita kecanduan narkoba atau
2. Medical Hypnosis.
Pengertian dari Medical Hypnosi adalah hipnotis yang digunakan untuk dunia medis seperti dokter ahli bedah dan dokter gigi dalam menciptakan efek anesthesia tanpa menggunakan obat bius. Hal ini dilakukan pada jaman dahulu saat obat bius belum ditemukan.
3. Comedy Hypnosis.
Comedy Hypnosis inilah yang sering ditunjukkan oleh master hipnotis Indonesia Romy Rafael dan Uya Kuya dalam menghibur penggemarnya. Comedy Hypnosis adalah hipnotis yang digunakan untuk hiburan semata. Comedy Hypnosis ini bisa disebut juga dengan nama Stage Hypnosis atau Hypnotis Panggung. Tapi perkembangannya Comedy Hypnosis di pertontonkan bukan hanya dipanggung semata, tapi di jalan-jalan, café, dan di tempat-tempat yang lain.
4. Forensic Hypnosis.
Forensic Hypnosis adalah hipnotis yang digunakan untuk menggali informasi dari saksi dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh polisi.
5. Metaphysical Hypnosis.
Metaphysical Hypnosis merupakan aplikasi hipnotis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik mengakses kekuatan superconscious, dan lain – lain.

Arti Sebuah Kesuksesan

Selama ini banyak orang memandang bahwa kesuksesan dalam hidup diukur dengan harta, jabatan, kedudukan, atau penghargaan yang sifatnya materialisme. Mereka yang dianggap sukses adalah orang kaya, pejabat, punya banyak perusahaan, atau jadi artis.

Persepsi semacam ini sangat keliru. Sebab, ukuran kesuksesan tidak selalu dengan uang, materi, jabatan tinggi, atau popularitas. Apakah ada diantara kita menganggap menjadi ibu rumah tangga bukan sebuah kesuksesan? Menjadi penjaga masjid bukan kesuksesan? Pedagang roti bukan kesuksesan? Jarang kita memberikan label sukses pada orang-orang seperti mereka.

Satu hal perlu dipahami bahwa tiap manusia memiliki kehidupan berbeda. Masing-masing menjalani proses kehidupan tidak sama. Mereka juga membawa bakat, sifat, karakter, serta ketrampilan berbeda. Banyak hal yang berpengaruh terhadap perkembangan hidup manusia. Tapi dari semua perbedaan yang ada mereka sebenarnya memiliki tujuan sama, yakni meraih kebahagiaan.

Jadi kebahagiaanlah tolak ukur kesuksesan. Karena kebahagiaan adalah nilai tertinggi dalam kehidupan manusia yang sangat berharga. Kebahagiaan tidak bisa disamakan dengan uang, materi, atau jabatan. Kebahagiaan adalah perasaan terdalam pada diri manusia dalam memaknai hidupnya. Karena dengan merasakan kebahagiaan manusia menemukan arti sukses sebenarnya.

Mungkin tak pernah terlintas dalam pemikiran kita bahwa kesuksesan bisa diraih tanpa harus menjadi seorang kampiun. Ada hal lebih bernilai dan bermakna dalam sebuah kesuksesan. Yakni, bagaimana kita berhasil mengatasi masalah yang dihadapi tanpa bergantung pada orang lain dan menjalani hidup dengan baik tanpa merugikan orang lain.

Kesuksesan bisa datang dari nilai-nilai kebaikan dalam diri kita. Kebaikan yang kita lakukan merupakan nilai lebih pada diri kita. Pemahaman kesuksesan seperti ini akan membuat kita lebih menghargai sesama dan memanusiakan sesama tanpa membedakan asal muasalnya.

Kita semua adalah manusia tersukses karena berhasil mengalahkan jutaan zygote saat dalam prosesi pembuahan. Maka, hargai dan syukuri kesuksesan hidup kita tanpa peduli status sosial yang kita sandang. Karena kesuksesan adalah kebaikan, dan kebaikan adalah cara kita dalam memaknai hidup!

Bagaimana Cara Memotivasi Diri Agar Meraih Kesuksesan

Kita kerap mendengar kata sukses yang dianalogikan dan diinterpretasikan sebagai keberhasilan dalam mewujudkan suatu keinginan. Ukuran kesuksesan pun bagi setiap orang berbeda-beda. Karena kesuksesan tidak hanya menyangkut dalam segi materi, namun juga bisa berupa kepuasan batin atau jiwa. Contoh kecilnya; ketika seorang pemuda berhasil menyunting gadis yang disukainya, apakah kesuksesan semacam ini bisa diukur secara materi?

Tidak, bukan.

Maka, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang usaha untuk mencapai keberhasilan atau kesuksesan, lebih dulu perlu ditekankan pentingnya mengenali diri. Setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda-beda, meskipun diantara mereka ada yang memiliki selera, hobi, atau keinginan yang mungkin sama, namun dalam mengekspresikan dan mempersepsikannya bisa berlainan.

Secara garis besar kepribadian dibedakan menjadi dua; yakni ekstrovert dan introvert. Kedua kepribadian itu pun tidak selamanya berlaku permanen. Pada saat-saat tertentu manusia bisa bersikap terbuka (ekstrovert) meskipun kepribadian dominannya adalah tertutup (introvert). Pun sebaliknya, orang ekstrovert bisa saja sangat tertutup.

Tapi pada dasarnya; semua manusia memiliki naluri atau hasrat yang sama dalam memperjuangkan kepentingan hidupnya. Selama dia masih bisa berpikir normal atau sehat, dia pasti menginginkan suatu keberhasilan dan kesuksesan dalam hidupnya. Entah, dalam wujud yang kecil, manusia selalu memiliki harapan atau ekspektasi.

Harapan atau ekspektasi inilah yang kemudian menjadi pijakan dalam bertindak dan berupaya untuk mencapai kesuksesan. Ini sudah menjadi modal dasar positif. Namun perjalanan untuk mencapai kesuksesan biasanya berliku, penuh tantangan, hambatan, kegagalan, rintangan, cobaan, ujian, dan sebagainya. Perlu motivasi dan energi ekstra dalam mewujudkan harapan itu. Kita tidak perlu mencari motivasi dari luar, tapi bisa tumbuh dari diri sendiri.

Ada beberapa tips untuk memotivasi diri:

1. Rumuskan harapan yang ingin kita capai. Sebelum kita melangkah pada suatu usaha, rumuskan dulu hal-hal yang perlu dilakukan. Kita buat semacam perencanaan dengan langkah-langkah yang sesuai dengan kemampuan dan besarnya peluang agar nantinya kita tahu sejauh mana target yang bisa tercapai.

2. Berpikir positif. Kita harus mengawali segala sesuatu dengan pikiran dan sikap positif. Jangan dulu menaruh rasa pesimis terhadap sesuatu yang belum pernah kita coba lakukan. Kalkulasi terhadap suatu resiko memang perlu, tapi hal itu bukan menjadi penghalang untuk berusaha. Jangan dulu berpikir tentang kegagalan, tapi berpikirlah jika orang lain bisa melakukannya kenapa saya tidak?

3. Kembangkan potensi. Sering orang berpikir bahwa dirinya tidak memiliki bakat atau potensi yang bisa dikembangkan. Pikiran itu keliru dan sesat. Banyak orang sukses yang berawal dari nol dan tidak tahu apa-apa. Bakat atau potensi itu tidak akan pernah muncul bila tidak digali dan dipupuk. Percayalah, sekecil apa pun potensi yang ada pada diri kita jika dikelola, dilatih, dan dikembangkan niscaya akan menjadi sesuatu yang besar.

4. Hargai diri sendiri. Banyak orang mengeluh dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa minder lebih dulu muncul sebelum berbuat apa-apa. Ketidakpercayaan diri menjadi penggembos semangat saat memandang kesuksesan orang lain. Kita tidak sadar bahwa diri kita punya peluang sama meraih kesuksesan. Kita hanya perlu melihat hal apa yang bisa kita lakukan dan menghargainya sekecil apa pun usaha itu. Sebab, orang yang sudah sukses itu sangat menghargai dirinya sehingga dengan segala cara dan upaya berusaha menjadi yang terbaik. Dan kesuksesan yang kemudian diraih itu tak lain dari cara berterima kasih pada harga dirinya!

5. Jangan pernah menyerah. Dalam setiap usaha, kegagalan selalu menjadi hantu yang membayangi. Tidak ada kesuksesan tanpa ada cerita kegagalan di belakangnya. Karenanya, tanamkan semangat 45, pantang mundur dan pantang menyerah sebelum kemenangan tercapai. Trial by error adalah kata kunci dan slogan ampuh buat mereka yang merindu kesuksesan. Karena hanya mereka yang berjiwa kerdil dan pengecut takut pada kegagalan. Jadi tanamkan keyakinan bahwa kita pasti bisa bila mau berusaha! (*)

22 April 2010

Mensyukuri Lahan Dari Tuhan

Dimuat di Wawasan, Minggu, 30 Desember 2001

Surat sastra untuk Eko Hartono:


Bung Eko Hartono, di dusun yang jauh.

Sore hari, ketika kedua anakku merengek minta diantar ke sebuah persewaan komik dan majalah untuk memburu komik Crayon Shincan dan sisa-sisa poster kelompok Westlife, mau tidak mau aku harus menurutinya. Sampai di sana, ketika kedua anakku sibuk membolak-balik segunung komik, aku nyelonong ke rak lain. Membuka-buka majalah bernafaskan wanita yang lama tidak kulanggan.

Ah, ternyata, dari setumpuk majalah yang kuaduk-aduk, beberapa kali aku sempat bertemu dengan “nama besarmu”. Seorang penulis cerita pendek yang cukup produktif dan memilih menetap di wilayah Banyakprodo, Tirtomoyo, Wonogiri. Seratus empatpuluh kilometer lebih dari jantung ibukota Jawa Tengah. Aku tahu alamat lengkapmu justru ketika tanpa sengaja membaca sebuah halaman yang berisi pengumuman hasil lomba menulis fiksi. Kebetulan namamu bertengger sebagai salah seorang pemenangnya. Bukan main……. Pikiranku seketika tergugah. Meroket, menjelajah ke belantara desa yang (maaf) namanya tidak pernah disentuh peta.

Ego primodialistisku tidak bisa dibendung. Aku terus punya target untuk memburumu, paling tidak ketika aku sempat pulang menjenguk kampung halaman. Toh untuk menembus dusunmu, imej yang langsung mematuk kepalaku masih seperti dulu. Aku harus mengalahkan seting bernuansa kepul hawa desa, regol perempatan kampung, ladang jagung, tegalan, kicau burung pritganthil di atas lengkung bambu tegak melangit dan sejenis itu. Di situ kita bisa mengobrol panjang dengan topik sekitar mobilitas kepenulisan. Redaktur koran daerah yang sok sulit ditembus, honor ala kadarnya –hingga nampaknya kau lebih suka berbau fiksi di berbagai media ibukota. Aku tidak bisa menahan pilihan jenius itu, Bung. Toh pengalaman pribadi bisa dijadikan tiket untuk “bersombong”. Jika ingin meraup satu juta rupiah bukankah cukup kita tulis empat-lima cerita pendek saja?

Bung Eko yang baik,

Niat untuk mengunjungimu mendadak sontak pernah terganggu, ketika aku menyadari tidak seproduktif dulu. Ibadah suntukku di sejumlah lembaga pendidikan telah derap kreativitasku bergerak lamban. Belum peran gandaku untuk mengurus kedua putriku yang titipan Tuhan itu. Ya, aku tidak seganas dulu dalam meraung-raungkan deru tuts-tuts mesin ketikku.

Dulu, dulu itu, ketika aku mengetik hingga larut malam, almarhumah istriku selalu menyodorkan segelas kopi hangat atau susu di sisi tumpukan naskahku. Dan, kalau penjual mi thok-thok lewat, dia dengan kesetiaan khasnya bergegas memesan sepiring mi godog lengkap lengkap dengan beberapa sunduk sate ayamnya. Lumayan juga, honor satu tulisan bisa untuk “pesta” sebanyak tigapuluh hingga empatpuluh porsi. Di titik kenangan inilah aku sering tersenyum getir sendiri. Benar kalau dulu – lewat surat pribadi— Darminto M Sudarno pernah memuji tulisan tulisan-tulisanku yang mengamuk di media ibukota. Bahkan seorang redaktur pernah bertanya, kapan saya sempat menikmati tidur.

Bung Eko, untuk memperkenalkan diri kepadamu, mestinya aku tidak perlu mempromosikan siapa aku. Biarlah kamu mengenalku lewat tulisan-tulisanku. Tetapi kesempatan menulisku sekarang di mana? Aku hanya bisa tersenyum kecut ketika sohibku Tri Wiyono sering menelpon malam hari, pamer cerpen-cerpennya sekaligus meledek/menanyakan mana tulisanku sekarang. tak kurang budayawan S. Prasetyo Utomo pun mendorong agar aku mengurangi mengajar, segera mencari istri dan bisa menulis lagi. Begitulah, aku harus belajar menulis berkat subsidi energi sejumlah teman.

Bung Eko yang ramah,
Ketika beberapa biji tulisanku muncul di berbagai media, aku baru punya nyali mengunjungimu. Dengan diantar penyair dan penggiat seni Didit Setyo Nugroho, kami menerabas juga halaman rumahmu. Terasmu yang bisu, puluhan pakaian berjajar rapi menunggu pembeli, dan dirimu yang terkejut ketika itu –bagai sekilas adegan sarat dugaan.

Kita saling menguak diri, bertukar cerita. Cukup trenyuh juga merekam jatuh bangun proses kreatifmu, hingga puluhan/ratusan kali namamu terpampang gagah di rubrik cerpen beberapa majalah wanita dan tabloid bertiras deras. Dengan kungkungan alam desa, dengan keterbatasan langkah dan gerak, pendidikan ala kadarnya: cerpen-cerpen yang cerdas dan kritis tukikan psikologisnya bisa kamu ramu dengan talenta dan kerja keras yang tidak ada habis-habisnya.

Kamu juga bercerita baru saja memenangkan sayembara penulisan fiksi. Kamu menunjukkan plakat kemenangan hingga kedua anak kembarmu melonjak spontan, mengelu-elukan supremasi yang kami letakkan di meja tamu itu.

“Bapak dapat uang banyak! Bapak dapat uang banyak!” teriak anak-anakmu. Saling berloncatan. Dunia kepenulisan yang menjadi pilihanmu telah mengalir terekspresi sampai wajah riang anak-anak. Kamu tersipu. Kamu bahagia, dan tidak menduga kalau kami melangkah juga ke dusun yang jauh dari dengung play-station, dering telepon dan wangi kafe.

“Begitulah Mas, kalau ada honor datang, istriku segera lari ke kota Wonogiri, membeli majalah yang memuat tulisanku. Tetapi kadang-kadang sering tidak kebagian,” katamu.

Untuk ke kota Wonogiri, bukankah istrimu harus naik sepeda onthel, atau nunut tukang ojek ke kota kecamatan, dan baru naik bus ke kota Wonogiri yang jauhnya empatpuluh kilometeran itu?! Aku sulit membayangkan kedahsyatan cinta seorang istri: Istrimu!

Di tengah lautan fasilitas, manusia terkadang bisa kalah cerdas. Asal hidup dilewati dengan perjuangan, perjuangan dan terselimuti substansi doa di dalamnya –pasti Tuhan akan menghamparkan ladang. Kita harus mensyukuri lahan dari Tuhan. Ibarat ladang kita harus setia mencangkulinya dengan ketajaman jitu. Aku pun menoleh malu kalau tidak ikut berburu menanam berbagai tulisan di ladang yang telah digelar Tuhan.

Dan kamu Bung Eko Hartono beserta istri dan anak kembarmu, semoga masih mengingatku. Ya, aku yang pernah menanam tujuh judul puisi di sebuah koran edisi Minggu bersama cerpen dan cerita anak-anakmu. Ah, aku harap deru mesin ketikmu ikut menyemangatiku. Salam selalu! (Budi Wahyono, di belantara kota Semarang).

11 November 2009

Dampak Tarif Murah Telekomunikasi Seluler Bagi Kemakmuran Bangsa

OLEH EKO HARTONO.


Persaingan bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia kini semakin ketat dengan munculnya beberapa perusahaan provider penyedia jasa layanan telekomunikasi seluler. Mereka berlomba-lomba mendirikan BTS (base transmition station) di beberapa pelosok daerah guna menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Kehadiran perusahaan operator seluler baru juga ikut menumbuhkan perekonomian dan menciptakan lapangan kerja baru.

Dengan munculnya beberapa perusahaan operator seluler memberikan banyak pilihan bagi masyarakat dalam menggunakan jasa telekomunikasi seluler. Masyarakat diuntungkan oleh persaingan diantara perusahaan operator seluler. Karena dengan adanya persaingan akan mendorong perusahaan-perusahaan itu untuk memberikan layanan yang berkualitas dan pengenaan tarif yang cukup murah. Beberapa perusahaan operator seluler juga memperkenalkan produk-produk unggulan dan melengkapi fasilitas layanan telekomunikasi selulernya dengan teknologi canggih atau yang diperbaharui.

Pengenaan tarif murah dalam layanan telekomunikasi seluler yang meliputi jasa telepon, SMS, MMS, browsing internet, 3G, 4G, dan lain sebagainya akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Mengapa demikian? Karena dengan tarif murah masyarakat akan terbantu dan termudahkan dalam menjalankan aktivitas sosial maupun ekonomi. Mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang rata-rata masih berpenghasilan rendah, maka pengenaan tarif murah ikut menekan biaya hidup. Warga masyarakat menjadi lebih mudah mengakses informasi, memperluas wawasan, dan memperdalam pengetahuan.

Dari segi kebutuhan sosial pengenaan tarif murah pada jasa layanan telekomunikasi seluler sangat membantu sekali. Mengingat budaya masyarakat di Indonesia yang masih kental dengan sistem kekeluargaan atau kekerabatan. Meski kehidupan semakin modern dan maju, namun masyarakat Indonesia tidak bisa menghilangkan sifat-sifat sosial mereka yang berakar pada nilai-nilai tradisional dan primordialisme. Kaum urban di perkotaan tidak bisa mengabaikan sanak kerabat mereka di kampung halaman. Mereka akan senantiasa menjalin hubungan silaturahmi dan komunikasi dengan keluarga, rekan, atau kerabat. Karenanya keberadaan jasa telekomunikasi seluler sangat penting artinya.

Sementara itu bagi para pekerja dan pebisnis, baik yang berada di kota maupun di daerah, sangat membutuhkan sarana komunikasi yang efektif bagi menunjang dan memperlancar kegiatan ekonomi mereka. Sarana komunikasi nirkabel (wireless) yang diselenggarakan oleh perusahaan operator seluler sangat membantu dalam menggerakkan roda bisnis. Kegiatan produksi, distribusi, dan pemasaran akan lebih efektif dan mencapai sasaran jika ditunjang oleh kelancaran dalam segi komunikasi.

Perusahaan operator seluler yang berhasil menjangkau seluruh wilayah nusantara, bahkan sampai ke daerah-daerah pelosok menjadi pilihan yang paling realistis bagi para pelaku bisnis. Keberadaan sarana telekomunikasi seluler juga ikut membantu pemerintah dalam menjalankan kebijakan dan program-program pembangunan. Pendeknya, keberadaan jasa telekomunikasi seluler sangat strategis dan vital artinya bagi kehidupan masyarakat. Karena dengan kehadiran layanan telekomunikasi seluler dapat menunjang segala aktivitas masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.

Pengenaan tarif murah telekomunikasi seluler juga ikut mendukung program pendidikan dan ketrampilan. Sebab, segala macam informasi yang berhubungan dengan dunia pendidikan bisa diakses dengan lebih mudah dan cepat oleh masyarakat, khususnya para pelajar. Koneksi internet yang bisa diakses melalui ponsel (telepon seluler) dapat membantu membuka cakrawala pikir masyarakat terhadap dunia luar. Berbagai info berita, tips-tips praktis, aplikasi ketrampilan, dan lain sebagainya bisa diupdate atau dibrowsing langsung oleh pengguna jasa layanan telekomunikasi seluler.

Meski tak bisa dipungkiri bila mudahnya mengakses berbagai macam informasi melalui internet juga rawan oleh dekadensi moral dan budaya, namun banyak sekali manfaat dan hal-hal positif yang bisa didapat. Semua ini bergantung dari para penggunanya. Yang pasti keberadaan jasa telekomunikasi seluler yang memungkinkan masyarakat bisa berkomunikasi lintas wilayah tanpa mengenal batas teritorial, juga kemudahan dalam mengakses internet, memberikan banyak keuntungan dan manfaat besar. Masyarakat akan menjadi lebih maju, kreatif, dinamis, tidak gaptek, dan mampu menumbuhkan sifat kemandirian.

Karena salah satu kunci terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih maju dan modern adalah kebebasan dalam mendapatkan informasi. Masyarakat akan menjadi lebih terbuka wawasan dan pemikirannya bila mampu menyerap segala macam informasi. Budaya intelektual akan tumbuh. Pola pikir yang berdasar pada rasionalitas akan berkembang. Kreativitas dan etos kemandirian menjiwai kehidupan masyarakat. Pada akhirnya, semua itu akan memberikan kontribusi positif pada kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. Semoga!

Tirtomoyo, 5 November 2009

03 November 2009

Tarif Murah dan Kualitas Layanan Telekomunikasi Seluler

Oleh Eko Hartono


Perkembangan industri telekomunikasi seluler di Indonesia tumbuh begitu pesat. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak perusahaan provider yang membangun infrastruktur telekomunikasi di seluruh wilayah nusantara guna memberikan jasa layanan komunikasi yang lebih efektif kepada masyarakat, baik dalam bentuk CDMA atau GSM. Produk jasa telekomunikasi pun sudah beragam dan semakin maju. Bukan hanya telepon, SMS, browsing internet, MMS, dan 3G, bahkan kini sudah muncul teknologi baru bernama 4G.

Hal itu tentu saja berdampak positif bagi kemajuan hidup masyarakat. Kini masyarakat memiliki banyak pilihan dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi. Tidak dipungkiri bila kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi ikut menunjang pertumbuhan dan perkembangan pada industri lain. Banyak perusahaan berskala kecil maupun besar sangat bergantung pada kelancaran komunikasi guna meningkatkan produktifitas dan pemasaran. Sistem online telah diterapkan di beberapa perusahaan, baik BUMN maupun swasta.

Jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar merupakan pangsa potensial bagi produk jasa telekomunikasi. Perusahaan operator seluler pun berlomba-lomba menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Mereka membangun BTS di beberapa wilayah yang belum terjangkau oleh sarana komunikasi seluler. Investasi di sektor telekomunikasi seluler ini memang sangat besar. Namun investasi yang besar ini tidak ada artinya dibanding keuntungan yang kelak diperoleh. Perusahaan-perusahaan operator seluler memiliki kesempatan menjaring pelanggan yang cukup besar, mencapai jutaan orang.

Persaingan diantara perusahaan operator seluler dalam menjaring konsumen kemudian berdampak pada segi layanan dan penerapan tarif. Perusahaan operator seluler berusaha memberikan layanan yang terbaik pada konsumen. Mereka juga menerapkan tarif cukup murah dan kompetitif. Hal ini tentu saja menguntungkan konsumen sebagai customer. Namun demikian layanan yang baik dan tarif murah jangan lantas mengabaikan segi kualitas. Banyak promo yang cukup menggiurkan dan menarik minat konsumen terhadap produk layanan yang diberikan. Mulai dari penjualan paket SMS, telepon, dan browsing internet murah sampai pemberian reward dalam bentuk undian berhadiah.

Namun sayangnya, promo semacam itu bersifat temporer dan hanya sebagai pancingan guna menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Migrasi pengguna jasa komunikasi dari satu operator seluler ke operator seluler lain sangat tinggi, karena mengejar promo tarif murah. Bahkan tak jarang ada satu orang memiliki beberapa kartu telepon dari brand yang berbeda-beda. Ketika promo itu berakhir, maka tarif normal atau bahkan kenaikan tarif dikenakan pada konsumen. Hal ini tentu saja sangat merugikan konsumen sebagai customer. Banyak konsumen menginginkan tarif murah diberlakukan secara tetap dan berkelanjutan.

Regulasi pemerintah dalam mengatur pengenaan tarif telepon seluler diperlukan guna melindungi konsumen sekaligus menjaga iklim persaingan sehat diantara perusahaan jasa operator seluler. Bagaimana pun industri telekomunikasi seluler merupakan industri yang cukup strategis dan vital. Industri telekomunikasi seluler ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat dan menciptakan peluang-peluang bisnis yang cukup beragam. Banyak modal yang beredar di sektor ini. Mulai dari pendirian agen penjualan pulsa, ragam produk layanan seluler, produk phone seluler, layanan online, dan lain sebagainya.

Coverage layanan seluler yang mampu menjangkau seluruh wilayah nusantara hingga daerah pelosok juga lebih mempermudah akses komunikasi yang pada akhirnya memperlancar roda ekonomi. Salah satu pilar utama dalam menggerakkan dan menumbuhkan roda perekonomian masyarakat adalah tersambungnya komunikasi antar wilayah yang memungkinkan lancarnya distribusi dan pemasaran. Masyarakat kini sangat bergantung sekali pada jasa telekomunikasi seluler guna menunjang aktivitas sehari-hari.


Kualitas Layanan dan Tarif Murah


Meski masyarakat kini sangat bergantung pada jasa telekomunikasi seluler guna mendukung bisnis dan aktivitas lainnya, namun perusahaan provider sebagai penyedia layanan telekomunikasi seluler juga mesti bisa memberikan layanan yang baik, terutama dalam hal kualitas dan tarif murah. Kualitas sangat diinginkan konsumen karena bisa menumbuhkan kepercayaan dan menciptakan kenyamanan, sedang tarif murah memberikan keuntungan tersendiri bagi konsumen. Jika kedua hal tersebut bisa diterapkan, maka dijamin konsumen akan tetap setia menggunakan jasa operator seluler bersangkutan.

Mempertahankan pelanggan lebih sulit ketimbang mencari konsumen baru. Sebab, pengguna jasa telekomunikasi seluler akan selalu melihat kemungkinan-kemungkinan baru dan produk unggulan disesuaikan dengan kebutuhannya. Karenanya peningkatakan servis dan penerapan teknologi komunikasi yang diperbaharui sangat diperlukan oleh perusahaan operator jasa telekomunikasi seluler. Kehadiran teknologi baru seperti 3G atau 4G merupakan salespoint yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Meski penggunaan fasilitas 3G atau 4G masih sangat terbatas dan hanya di kalangan tertentu, juga besarnya investasi yang diperlukan guna membangun fasilitas tersebut, namun ke depannya akan memberikan prospek yang cukup cerah. Sebagaimana sifat teknologi yang tidak statis, selalu mengalami perubahan dan perkembangan, maka bukan tidak mungkin kelak penggunaan fasilitas 3G atau 4G akan lebih massiv dan massal. Besarnya investasi yang telah ditanamkan akan tercover oleh banyaknya pengguna fasilitas tersebut dan pada akhirnya menekan cost alias memberikan tarif murah.

Pengenaan tarif murah penggunaan telekomunikasi seluler secara langsung akan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. Sebab, masyarakat di Indonesia yang rata-rata masih berpenghasilan rendah akan terbantu dalam berkomunikasi dan mengakses informasi. Masyarakat bisa menyerap pengetahuan, mengasah ketrampilan, dan memperluas wawasan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi telekomunikasi guna meningkatkan taraf hidupnya. Dengan demikian target MDGs (millenium development goals) akan bisa tercapai!

Tirtomoyo, 1 November 2009

23 Maret 2009

Hati-Hati Memilih Calon Pemimpin Bangsa

Menghadapi Pemilu 2009
By : Eko Hartono

Pemilu legislatif dan Pilpres 2009 akan kita hadapi. Berbagai penawaran menarik datang dari para caleg dan capres. Dikemas dalam bingkai yang manis, indah, menggiurkan, penuh harapan, dan bahkan tak sedikit menjanjikan hadiah berupa kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, penurunan harga, penyediaan lapangan kerja, sembako murah, dll. yang kesemua itu sekadar sebagai trik dan strategi pemasaran kampanye partai politik belaka. Penawaran yang serba indah dan menyenangkan itu hadir melalui iklan-iklan di televisi, internet, media cetak, baliho, spanduk, stiker, dan berbagai atribut lainnya.

Kekuasaan dipahami sebagai sebuah kedudukan yang pantas diperebutkan sehingga perlu diadakan perlombaan atau persaingan dalam mendapatkannya (baca: pemilu). Paham seperti ini yang telah dan terus dikembangkan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia dengan apa yang disebut sebagai demokrasi. Kekuasaan adalah kegiatan memerintah dan mengatur dalam sebuah kaum/kelompok/golongan/bangsa. Karena setiap individu dari kaum itu memiliki hak sama dalam kegiatan politik (baca; memperebutkan kekuasaan). Untuk mengawasi dan mengatur jalannya proses perebutan (peralihan) kekuasaan ini, maka diberlakukanlah berbagai undang-undang, aturan, dan perangkat-perangkat yang diperlukan.

Namun pada kenyataannya demokrasi yang diagung-agungkan sebagai proses paling fair dalam perebutan kekuasaan sering membawa dampak kerusakan, kehancuran, dan kesengsaraan pada kehidupan rakyat bangsa (baca; negara) itu sendiri. Memang tak bisa dipungkiri beberapa negara yang menerapkan paham demokrasi melalui jalan pemilu berhasil mencapai kesuksesan. Namun hal itu pun disertai dengan bermacam prasyarat yang memungkinkan demokrasi berjalan dengan fair dan adil. Diantaranya budaya bersaing yang sehat, kesadaran politik yang tinggi, pengetahuan tentang politik yang memadai, dipatuhinya undang-undang dan peraturan yang telah disepakati bersama. Pendeknya, untuk mengukur suatu keberhasilan dalam demokrasi semua unsur yang melengkapinya dipastikan berjalan dengan benar.

Membangun demokrasi yang sehat di Indonesia

Di Indonesia demokrasi yang berjalan masih banyak memiliki kekurangan, bukan kekurangan dalam hal perangkat perundang-undangan atau peraturan yang mengawalnya, namun lebih kepada pemahaman atas demokrasi itu sendiri yang masih simpangsiur, campuraduk, dan direduksi sedemikian rupa sehingga masing-masing kelompok/golongan/parpol dalam masyarakat memiliki acuan sendiri-sendiri. Mereka pun lebih mengedepankan kepentingan kelompok (baca; parpol) an sich daripada kepentingan bangsa secara luas. Kekalahan dalam Pemilu tidak bisa diterima dengan legawa, elegan, dan jiwa besar. Apalagi memberikan selamat kepada rival yang memenangkan Pemilu. Hal ini mencerminkan sikap permusuhan dan dendam yang masih dilestarikan. Betapa rendah jiwa kesatria atau gentlement dalam diri mereka.
Kekuasaan masih dipahami dengan pandangan sempit sebagai sesuatu yang mesti diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, tak peduli dengan cara ilegal atau menyalahi aturan. Bahkan dengan dalih mencari keadilan, perangkat hukum (somasi, pengadilan, dan sejenisnya--pen.) dijadikan senjata ampuh untuk mengejar kekuasaan. Mereka tidak sadar bila demokrasi juga memiliki kekurangan, demokrasi hanya sekadar jalan atau representasi terhadap kebutuhan menentukan mandat kekuasaan. Dan kekuasaan sendiri bukan lagi dijadikan sebagai sebuah amanah atau mandat kepercayaan, namun tak lebih dari upaya untuk menunjukkan eksistensi pribadi (personality) dan melanggengkan citra kelompok (parpol). Seolah tanpa kekuasaan pihak yang bersangkutan akan kehilangan sumber kehidupan (baca; politik untuk cari makan!).

Jika demokrasi model seperti ini masih terus berjalan di republik ini, kapan lagi negara ini akan maju dan membangun dirinya? Orang-orang sibuk memperjuangkan kepentingannya sendiri, memaksakan kehendak dan kebenarannya sendiri, serta tidak ada yang mau mengalah. Belum lama ini kita dibuat takjub dengan Pemilu di Amerika. Bukan takjub oleh terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden keturunan kulit hitam pertama yang merepresentasikan kemenangan golongan minoritas, tetapi juga proses yang dijalankannya. Diangkatnya senator Hillary Clinton yang merupakan rival berat Obama sebagai Menlu dalam pemerintahan baru, dan beberapa person lain yang sebelumnya berseberangan dengan kubu Obama, mencerminkan suatu model demokrasi yang cukup elegan dan konstruktif.

Kita bukan Amerika dan model demokrasi di Amerika tidak sepenuhnya bisa diterapkan di negara ini, mengingat budaya dan historisnya sudah berbeda. Namun dari mereka kita bisa belajar. Sering terjadinya konflik, perseteruan, kerusakan, dan kehancuran diakibatkan karena proses demokrasi yang dijalankan memang tidak serta merta menjadikan demokrasi sebagai suatu kesalahan, meski tak dipungkiri demokrasi bukanlah produk sempurna dalam menjalankan sistem peralihan kekuasaan. Sampai saat ini baru sistem demokrasi yang bisa diterima di semua belahan dunia. Memang masih ada sistem lain seperti monarki, sosialis, komunis, kekhalifaan, dan lainnya. Namun semua sistem itu kalah populer dari demokrasi dan kurang relevan lagi diterapkan pada situasi zaman yang terus berkembang. Bahkan sebagian negara yang masih menerapkan sistem lama mencoba memadukan dengan model demokrasi yang lebih modern.

Indonesia memiliki ciri khas dengan pluralitas dan kultur budaya yang beragam, juga latar historis sebagai negeri bekas kolonial, penduduknya yang memiliki suku dan bahasa lokal paling banyak di dunia, dan penganut agama Islam terbesar di dunia. Anehnya, Indonesia tidak bisa disebut sebagai negara islam meski penduduknya mayoritas beragama Islam. Dengan kompleksitas dan ragam permasalahan yang melingkupinya, demokrasi yang dikembangkan di Indonesia mengalami bongkar pasang dan proses trial by error mulai dari yang namanya demokrasi terpimpin, demokrasi parlemen, sampai kemudian demokrasi pancasila. Tapi semua demokrasi itu mengalami kegagalan atau bisa dibilang belum sempurna. Yang terakhir; yakni demokrasi pancasila yang diasosiakan sebagai demokrasi dengan azas Pancasila sebenarnya cukup akseptable dan reasonable karena bisa mencerminkan dinamika masyarakat Indonesia. Sayangnya, demokrasi Pancasila yang mulanya dicetuskan rezim Soeharto telah disalahgunakan oleh kepentingan penguasa pada saat itu sehingga terkesan tidak ideal.

Beberapa waktu ini muncul ide mengembangkan demokrasi Islam, yakni demokrasi yang mengedepankan nilai-nilai dan ajaran Islam, mengingat mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Demokrasi Islam tidak serta merta dipahami sebagai upaya membentuk negara Islam, tetapi lebih menekankan kepada implementasi ajaran Islam ke dalam proses demokrasi. Penerapan demokrasi di Indonesia telah banyak melenceng jauh dari cita-cita kedaulatan rakyat dan mandat kepercayaan terhadap kekuasaan. Pelaku demokrasi lebih mengedepankan upaya merebut kekuasaan melalui jalur politik dengan cara-cara kekerasan, anarkhisme, pemaksaan kehendak, dan 'kudeta' halus atas nama undang-undang dari pada mengembangkan sikap, etika, dan perilaku politik yang santun, jujur, bertanggung jawab, berdedikasi tinggi, dan berkeadilan sebagaimana ajaran dalam Islam. Semestinya pelaku demokrasi yang mayoritas beragama Islam mampu menerapkan etika dan estetika berpolitik yang 'bersih', jujur, dan amanah sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Rasulullah pernah bersabda; janganlah kau berikan kekuasaan (kepemimpinan) kepada orang yang menginginkannya. Maksud dari hadits ini tak lain adalah mengingatkan kepada umat Islam agar jangan memburu kekuasaan, karena kekuasaan adalah amanah dan tanggung jawab. Orang yang menginginkan kekuasaan (kepemimpinan) mencerminkan sifat rakus dan tamak. Dia berniat menguasai dan memerintah orang-orang di bawah kekuasaannya. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki sifat sidiq, amanah, tabligh, dan fathonah sebagaimana yang dicontohkan Rasul. Keempat sifat itu mencerminkan pribadi muslim yang rendah hati, jujur, berbudi pekerti, halus dalam perkataan, dan santun dalam perbuatan. Menjauhkan diri dari larangan Allah seperti berbuat maksiat khususnya korupsi dan berzinah. Tapi lihatlah kenyataan yang terjadi di negeri ini; banyak kasus korupsi dan perzinahan dilakukan anggota legislatif yang notabene beragama Islam. Hal ini bukan Islamnya yang salah, tapi orang-orangnya. Mereka yang mengaku beragama Islam tapi berakhlak rendah dan berperilaku maksiat tak pantas disebut orang Islam, boleh jadi dia hanya beragama KTP. Mereka menjadikan Islam sebagai tunggangan politik untuk meraih kekuasaan.

Rasulullah juga pernah bersabda: serahkan urusan kepada ahlinya bila tidak ingin terjadi kerusakan di muka bumi. Hal ini memberi pelajaran bahwa segala sesuatu mesti dikerjakan sesuai dengan ilmu dan ketrampilan yang dimiliki. Banyak orang yang tidak memiliki keahlian dan ketrampilan yang memadai dalam suatu bidang, namun memaksakan diri menangani bidang itu. Seperti halnya dalam politik, banyak orang yang tidak memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidang politik atau setidaknya memiliki pengetahuan memadai tentang politik (baca: ilmu pemerintahan) dengan ditunjukkan melalui pendidikan formal yang disandang.
Mereka menjadi caleg atau capres sekadar memenuhi hasrat menduduki jabatan dan kekuasaan dalam pemerintahan atau lembaga legislatif dan yudikatif. Di sini kita berbicara tentang akuntabilitas profesi. Akan lebih ideal dan sangat tepat sekali bila dengan kemampuan ilmu dan ketrampilan yang dimiliki dilandasi dengan sifat-sifat moralitas tinggi. Orang yang berkemampuan sesuai bidangnya itu mengamalkan ajaran Islam dengan benar dan kaffah. Tidak suka korupsi dan tidak suka berbuat maksiat!

Memilih calon pemimpin bangsa dengan rasional

Kekuasaan dan kepemimpinan adalah satu paket. Keduanya merupakan amanah yang mesti dijalankan dengan penuh tanggung jawab tinggi. Sebagai rakyat kecil yang diberi hak untuk memilih seyogyanya lebih hati-hati dan menggunakan kewajibannya secara rasional. Jangan hanya mendasarkan pilihan kepada perasaan suka semata atau melihat gebyar parpol dengan semboyan, jargon, dan yel-yel yang menarik pandangan. Ingat, mereka bisa terlihat seperti itu karena mereka sedang jualan. Mereka menawarkan dagangan berupa konsep, platform, dan visi-misi politik untuk kepentingan bangsa ke depan (atau boleh jadi untuk kepentingan parpol/caleg sendiri).

Sudah pasti semuanya menawarkan dagangannya dengan indah dan menarik karena masih terbungkus dalam wadah yang dihias warna-warni. Kita jangan terkecoh dan tertipu. Jangan seperti membeli kucing dalam karung atau buah dalam parcel yang sebenarnya busuk. Untuk memastikan bahwa pilihan kita sesuai dengan harapan dan bisa menjamin kebaikan di masa datang pelajarilah para calon pemimpin bangsa itu. Bukan hal sulit sebenarnya mengetahui sosok dan kepribadian mereka. Track record para caleg/capres, riwayat hidup, dan latar belakang mereka bisa jadi acuan. Informasi dari media baik elektronik dan cetak sudah cukup menunjang. Kita tinggal mempelajarinya, mengaksesnya, dan mempertimbangkannya. Dengan demikian, kita tidak akan keliru atau menyesali pilihan kita di kemudian hari!

Selamat mencontreng/mencenthang!